Kunker Komisi III Berakhir Petaka

Anggota DPR Setya Permana Tewas Terseret Arus Pantai Manado

Sabtu, 07 Agustus 2010 – 18:29 WIB

MANADO - Kunjungan kerja (kunker) anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat RI ke provinsi Sulut berbuah petakaSaat kembali dari acara wisata pantai di taman laut Pulau Bunaken, Sabtu (7/8), sekira pukul 11.45 Wita, perahu wisata bernama Exsegero yang membawa delapan anggota Komisi III berserta 3 anggota keluarga dan 2 pengawal hancur berkeping-keping diterjang ombak besar, saat perahu memasuki mulut Kali Mas, Pelabuhan Manado. 

Naas bagi anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Setya Permana dan Wahyu Murani, istri anggota Komisi III DPR dari FP Demokrat Sutjipto

BACA JUGA: Desak SBY Pimpin Langsung Satgas

Keduanya meninggal dunia setelah perahu kayu yang sudah tua, digulung ombak setinggi 2 meter


Peristiwa itu terjadi begitu cepat

BACA JUGA: Polisi Terbanyak Diadukan ke Satgas

Wahyu Murabi meninggal terseret arus setelah tubuhnya membentur beton, sedangkan Setya Permana meninggal setelah ditemukan dalam kondisi kritis
Ikut dalam rombongan perahu yang menggunakan dua motor tempel berkekuatan 40 PK itu antara lain adalah Sutjipto dan anak perempuannya Yanti, Nurdin, Nurdiman Munir, Dimyati Natakusumah, Otong Abdurahman, Aboe Bakar Al Habsy, Susaningtyas Kertopati, serta Nursyian, istri salah satu anggota DPR

BACA JUGA: Bantah TNI Lari Dari Baku Tembak

Beruntung, korban selamat beserta dua awak perahu dan pengawal hanya mengalami luka kecil. 

Menurut keterangan sejumlah saksi yang melihat peristiwa itu, perahu yang dikemudikan Alex Lahengko (35), warga Sindulang I, membentur tembok bagian bawah mercusuar di sisi utara pintu masuk pelabuhan ManadoPerahu tidak bisa dikemudikan dengan baik, dan diduga motor tempel dalam posisi mati

"Haluan kanan perahu membentur tembok dan dari arah kemudi ombak besar menghantam bagian atas perahuDalam seketika perahu tenggelam diseret ke dalam air tepat di pintu masuk pelabuhan," kata Azis Bagu, salah seroang saksi yang ditemui Manado Post (grup JPNN), Sabtu (7/8).

Saat kejadian, tak ada petugas dari tim SAR (Search and Rescue) Manado maupun tim dari Administrasi Pelabuhan (Adpel) ManadoBaru sekitar pukul 12.00 Wita, tim SAR dan aparat Polisi Airud Manado datang membantu

Diduga, Setya telah meninggal saat diangkut menggunakan ambulance yang membawanya ke Rumah Sakit Yayasan Islam Sitty MaryamSementara Wahyu menghembuskan nafas setiba di rumah sakitUntuk memastikan dan guna keperluan medis, dua jenazah langsung dilarikan ke RS Bhayangkara

"Yang bapak (Setya Permana) sudah meninggal saat tiba di rumah sakit," kata dokter Erwin Kristanto, ahli forensik RS Bhayangkara Manado.

Saksi lain yang juga salah satu ABK, membenarkan jika Setya sudah tak bernyawa saat dilarikan ke RSSaat itu, ABK hanya bisa menolong korban yang selamat, karena kebetulan beberapa di antaranya tertolong tali kapal besar yang sedang ditambatkan di beton dekat mercusuar. 

"Sebenarnya bapak yang meninggal (Setya Permana) masih bernafas, tapi kami takut untuk menyentuhnyaBegitu pun si ibu yang meninggal, masih bernafas tapi sayang nafas buatan yang dilakukan anaknya tak bisa mengeluarkan air laut yang ditelanDia muntah tapi hanya sedikit," beber Azis Bagu sambil menunjuk bekas muntah di beton pelabuhan.(cw-04/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Khawatirkan Revisi Keppres Pengadaan Barang di Pemerintahan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler