Laba Besar, BRI Bidik Mutiara

Kamis, 24 April 2014 – 03:05 WIB
Bank Rakyat Indonesia. Foto: BRI

jpnn.com - JAKARTA - Perbankan pelat merah terus mempertahankan profit tinggi pada awal tahun. Salah satunya PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk yang pada kuartal pertama 2014 berhasil meraup laba bersih Rp 5,9 triliun. Angka itu naik 17,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).

Direktur Keuangan BRI Achmad Baiquni mengatakan, peningkatan laba dipicu pertumbuhan kredit yang signifikan mencapai Rp 432,44 triliun atau naik 19,8 persen. Pertumbuhan kredit diimbangi tingkat kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebanyak 0,47 persen.

BACA JUGA: Desak Pemerintah Perkuat Fungsi BTN bagi Rakyat Kecil

"Di tengah pengetatan pertumbuhan kredit, kami tidak harus merelaksasi syarat-syarat keputusan kredit. Walaupun BI (Bank Indonesia) menargetkan pertumbuhan 15-16 persen, kami optimistis pada kuartal kedua bisa mencatat pertumbuhan karena permintaan kredit mikro cukup tinggi," terangnya kemarin (23/4).

Bisnis mikro BRI pada kuartal pertama tahun ini tumbuh 21,01 persen yoy. Yakni dari Rp 112,24 triliun pada kuartal pertama 2013 menjadi Rp 135,83 triliun tahun ini. Jumlah debitor mikro BRI hingga akhir Maret 2014 mencapai 6,7 juta orang.

BACA JUGA: Triwulan I, Laba BRI Capai Rp 5,9 Triliun

Di sisi pendanaan, lanjut dia, perseroan tetap mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Total DPK hingga akhir keuartal pertama mencapai Rp 470,02 triliun atau tumbuh 16,60 persen yoy. "Kontribusi sumber dana murah tetap kami jaga di kisaran 60 persen," ujarnya.

Net interest margin (NIM) alias keuntungan bersih BRI pada kuartal pertama 2014 mencapai 9,06 persen. Jumlah itu naik dibandingkan 2013 yang tercatat 8,73 persen. Kenaikan NIM tersebut di tengah terkereknya cost of fund (COF) atau biaya dana 40 basis poin menjadi 3,94 persen. "Kenaikan ini dikarenakan yield mikro yang memang lebih tinggi," paparnya.

BACA JUGA: BI Larang Bank Mendebet Tanpa Persetujuan Nasabah

Direktur Utama BRI Sofyan Basir menambahkan, pihaknya juga telah menyampaikan surat pernyataan minat (letter of interest) untuk pembelian saham Bank Mutiara sebelum Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengakhiri periode penawaran.

"Saya dengar tawaran-tawaran (pembelian Bank Mutiara) agak lebih miring. Jadi daripada opportunity (peluang) hilang, ya kami pasang saja dahulu," tuturnya.

Terkait alasan hukum yang menjerat Bank Mutiara lantaran suntikan modal tambahan Rp 1,25 triliun oleh LPS, Sofyan tetap optimistis.

"Nanti kami due diligence (uji tuntas) terlebih dahulu selama tiga bulan. Jadi kami masih ada waktu untuk menilai perseroan lebih dalam," jelasnya. (gal/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tunda Akuisisi BTN-Mandiri, SBY Minta Karyawan BTN Kembali Kerja


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler