Langgar Pantangan dari AS, India Terancam Bernasib seperti Turki

Senin, 15 November 2021 – 00:59 WIB
Tentara India dan Tiongkok patroli bersama di Pegunungan Himalaya. Foto: PTI

jpnn.com, NEW DELHI - Rusia mulai memasok India dengan sistem rudal pertahanan udara S-400, kata seorang pejabat militer Rusia seperti dikutip kantor berita Interfax.

Kiriman rudal tersebut membuat India berisiko terkena sanksi dari Amerika Serikat.

BACA JUGA: Program JKN-KIS Berkembang Pesat, Bikin China & India Lirik Pola Jamkes di Indonesia

"Pasokan pertama telah dimulai," kata Interfax mengutip Dmitry Shugayev, kepala badan kerja sama militer Rusia, di pameran penerbangan di Dubai.

Dia mengatakan unit pertama rudal S-400 akan tiba di India pada akhir tahun ini.

BACA JUGA: Warga India Rayakan Hari Keagamaan dengan Mandi di Sungai Penuh Limbah Industri

Kesepakatan senilai 5,5 miliar dolar AS (Rp78 triliun) itu diteken pada 2018 untuk memasok sistem rudal jarak jauh dari darat ke udara.

India mengatakan rudal itu diperlukan untuk menghadapi ancaman dari China.

BACA JUGA: Kemenlu: Saat Ini Kita Bersaing dengan India dan Korsel

India berisiko terkena sanksi keuangan dari AS berdasarkan Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi (CAATSA) yang menyebut Rusia, Korea Utara dan Iran sebagai musuh AS atas tindakan mereka pada Ukraina, mengganggu pemilu AS 2016 dan membantu Suriah.

New Delhi mengatakan mereka memiliki kemitraan strategis baik dengan AS maupun Rusia, sementara Washington mengatakan India tidak akan dikecualikan dari CAATSA.

Tahun lalu AS menggunakan CAATSA untuk memberi sanksi pada Turki, sekutu mereka di NATO, karena membeli rudal S-400 dari Rusia.

Sanksi itu membidik badan pengadaan dan pengembangan pertahanan Turki, Presidency of Defence Industries.

Washington juga menghapus Turki dari program jet tempur siluman F-35, armada paling canggih dalam persenjataan AS, yang digunakan para anggota NATO dan sekutu AS lainnya.

Rusia mengatakan mereka telah menawarkan bantuan pada Turki untuk mengembangkan jet tempur canggih namun sejauh ini belum ada kesepakatan.

"Kami masih berada pada tahap negosiasi dalam proyek ini," kata Shugayev seperti dikutip kantor berita RIA, Minggu. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler