"Lisa Face Off" Gembira Bisa Pulang Kampung

Pegang Jahitan di Wajah, Nenek Lisa Menangis

Minggu, 05 Oktober 2008 – 07:58 WIB
Lisa (kanan) bersama kerabatnya di Desa Sumberwuni, Kecamatan Wajak Malang.
SELAMA tujuh tahun Siti Nur Jazilah alias Lisa tak pernah pulang ke kampung halaman karena dikurung suamiPuncaknya, wajah Lisa disiram air keras hingga rusak berat

BACA JUGA: Dalang Perusak Kantor KPU Jayawijaya Dikejar

Dua tahun lalu dia menjadi pasien di RSU dr Soetomo karena harus menjalani operasi face off
Selama dua tahun itu dia kembali tak bisa pulang ke kampung halaman meski sangat ingin

BACA JUGA: Mendagri Akhirnya Lantik Gubernur Malut

Dan, baru kemarin keinginan yang menggumpal itu terlaksana

Kampung halaman Lisa di Desa Codo, Dusun Sumberwuni, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang

BACA JUGA: Bus Adu Hidung, 5 Tewas

Dari GBPT (Gedung Bedah Pusat Terpadu) RSU dr Soetomo, tempat Lisa dirawat, perjalanan menempuh waktu sekitar 3,5 jam
Kegembiraan benar-benar dirasakan LisaJawa Pos sempat mewawancarainya sebelum berangkatTernyata, Lisa sudah bersiap-siap sehabis salat Subuh”Saya menyiapkan barang-barang yang akan saya bawa sejak selesai salat Subuh,’’ katanya.
Pukul 06.00 dr Hisnindarsyah menjemput LisaLelaki yang menjadi siswa PPDS (program pendidikan dokter spesialis) bedah plastik itu mendatangi kamar Lisa dan membantu persiapan wanita yang wajahnya sudah dioperasi 12 kali tersebutAda beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum keberangkatannyaTerutama kondisi kesehatan Lisa.
Setelah semuanya beres, Lisa dan rombongan berangkat pukul 07.30Mengenakan atasan putih, bawahan jins, dan kacamata gelap, Lisa berjalan menuju mobil
Ada dua mobil yang digunakan untuk mengantarnyaYakni, Kijang putih milik RSU dr Soetomo dan Avanza hitamMobil Kijang ditempati Lisa yang didampingi dr Hisnindarsyah dan dr PrisillaSedangkan Avanza ditumpangi Virly Mafita Sari (istri Hisnindarsyah) dan kedua anaknya, Muhammad Ghifari dan Ezzel Dinealiya ZahiraMobil legam itu juga digunakan untuk membawa bingkisan dan kue-kue buatan LisaKedua kendaraan berjalan beriringanRombongan sampai di rumah Lisa pukul 11.00
Begitu Lisa keluar dari mobil, suasana haru begitu terasaIbu kandung Lisa, Siti Zulaikah, langsung menghambur memeluknyaDia pun tak kuasa menahan air mataKemudian, giliran Saring, bapak LisaTidak banyak yang mereka katakanYang terdengar hanya isak tangisTak lupa Lisa pun bersalaman dengan Siti Kharida, ibu tirinya
Rumah yang dikunjungi Lisa adalah rumah bapaknyaRumah berukuran 6 x 7 meter itu terletak di ujung desaTembok rumah Saring tidak dilapisi semenBatu bata tampak dibiarkan telanjangRumah Saring adalah rumah terakhir sebelum hamparan kebun tebu dan salak di desa tersebut
’’Saya memang sengaja memilih rumah iniSoalnya, tempatnya agak terpencil, tidak terlalu ramaiIni jelas beda dengan di Renteng, tempat saya dibesarkanKalau terlalu banyak orang kan juga tidak baikBelum waktunya,’’ kata Lisa yang saat ini berumur 24 tahun itu
Memasuki rumah, beberapa sanak saudara Lisa sudah menunggu untuk bersalamanSuasana haru pun terasa’’Bik, ngapunten (Tante mohon maaf),’’ kata Lisa kepada Poniti, salah satu bibinyaPoniti pun langsung memeluknya tanpa banyak berkata
Kebanyakan keluarga yang hadir di situ adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan LisaMereka berdatangan dalam waktu berbeda-bedaSebab, mereka tidak tinggal satu desa dengan SaringAda yang dari Renteng dan PancengKarena itu, semakin siang semakin banyak yang datang
Saring mengatakan, dirinya memang tidak banyak memberi tahu orang perihal kedatangan putrinyaHanya keluarga yang diberi tahu’’Kalau banyak yang diberi tahu, nanti rumahnya tidak cukup,’’ katanya.
Pertemuan antara Lisa dan saudara-saudaranya dipenuhi suasana haru dan nostalgiaBegitu di dalam rumah, Lisa berbincang dengan Zulaikah dan beberapa bibinya
Selain itu, dia menyapa anak-anak saudaranya yang dulu masih sangat kecilLisa lebih banyak menanyakan kabar saudara-saudaranya
’’Lho, Vila kok sudah besar sekaliDulu kan masih segini,’’ kata Lisa sambil memberi tanda dengan tangannyaVila yang namanya disebut pun tersenyum maluDia dulu memang masih duduk di bangku sekolah dasar saat terakhir kali bertemu LisaSekarang dia sudah beranjak remaja
Semua saudara Lisa yang hadir menitikkan air mataMereka merasa haru atas kedatangan LisaPoniti, misalnyaAdik Saring itu tak henti-hentinya mengusap air mata’’Saya terakhir bertemu Lisa sekitar dua tahun laluItu waktu dia belum dioperasi,’’ katanya sambil terisak.
Momen paling mengharukan adalah saat kedatangan Samsuri Kusnoto dan WakinahKakek-nenek Lisa itu adalah orang yang membesarkannyaBegitu mereka datang, Lisa langsung menghambur memeluknyaYang pertama dia peluk adalah Wakinah’’Ngapunten, Bu,’’ katanyaWanita 61 tahun itu pun menyambut pelukan Lisa’’Ealah, Nak,’’ kata Wakinah sambil terisak.
Keduanya kemudian masuk rumah dan berbincang akrab dengan LisaWakinah pun menyentuh wajah LisaBeberapa bekas jahitan di leher dan punggung pun disentuhnya’’Gak loro, Nak? (tidak sakitm Nak?),’’ tanya Wakinah
Lisa pun tersenyum’’Nggak kok, MakNggak opo-opo (tidak Mak..tidak apa-apa),’’ katanya
Supeni, salah seorang bibi Lisa mengatakan, kondisi Lisa saat ini sudah lebih baik’’Saya dulu lihat dia waktu dioperasiSeluruh wajahnya penuh darahSaya sampai nggak tegaAnak ini apa bisa bertahanTapi, dia memang tabahDia punya semangat untuk sembuh,’’ katanya(aga/kum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Minggu, Puncak Mudik di Merak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler