Literasi Pemilu dan Pemilih Muda Sebagai Pemegang Kedaulatan

Oleh Girindra Sandino - Sekjen Liga Literasi Nasional

Senin, 20 Februari 2023 – 08:46 WIB
Sekjen Liga Literasi Nasional Girindra Sandino. Foto: Dokumentasi pribadi

jpnn.com - Secara esensi dan yang paling hakiki dari demokrasi adalah konsensus. Konsensus sebagai fondasi dari demokratis sendiri secara materi umumnya merupakan upaya untuk mencapai kata sepakat.

Jika kesepakatan tidak tercapai, maka keputusan akan diambil dengan suara terbanyak.

BACA JUGA: Soal Dana Ilegal untuk Pemilu 2024, Bawaslu Minta Polri hingga KPK Bertindak

Ada yang menang dan ada yang kalah. Itulah aturan main utama dalam sistem demokrasi.

Demokrasi akan selalu dikritik karena ketidaksempurnaan dan segala macam kelemahannya.

BACA JUGA: Soroti Penggantian Sistem Pemilu, SBY Memberi Catatan Begini

Akan tetapi juga demokrasi memiliki kekuatan dan kebaikan. Demokrasi memperkuat harga diri manusia, mewujudkan persamaan hak warga negara di segala bidang.

Selain itu, memberi serta menyediakan kesempatan pendidikan kewarganegaraan yang berkesinambungan.

BACA JUGA: Pertemuan Airlangga dan Muhaimin Membuka Peluang Perubahan Koalisi Pemilu 2024

Dalam suasana kontestasi politik kekinian, kegiatan penguatan literasi rakyat adalah sesuatu yang sangat vital dalam upaya mempertinggi budaya politik dan dapat mempertegas dimensi-dimensi  partisipasi rakyat untuk ikut serta terlibat aktif dalam proses penyelenggaraan pemilu.

Apalagi di Pemilu 2024 ini, didominasi oleh pemilih muda berusia 17-40 tahun, yang berjumlah sekitar 107 juta orang atau 53-55 persen dari total jumlah pemilih.

Negara harus segera meresponnya karena salah satu tujuan utama dari aktivitas atau kegiatan literasi kepemiluan dalam situasi kontestasi demokrasi saat ini yang digerakkan oleh pemuda sebagai pemilih terbesar adalah memperkaya pendidikan kewarganegaraan.

Kemudian memberi kesempatan pemuda untuk bersuara, berpendapat, beragumentasi, menyumbangkan pikirannya terhadap perkembangan demokrasi negaranya.

Kesempatan-kesempatan yang ada sebaiknya difasilitasi, baik secara sosial maupun politik kepada pemuda untuk menggunakan momentum Pemilu 2024 sebagai bangkitnya budaya literasi sebagai pendidikan politik demokrasi.

Idealnya dalam demokrasi adalah memberikan kesempatan kepada rakyat, termasuk kesempatan untuk pendefinisian ulang progresif demokrasi bagi pemuda sebagai rakyat pemilih dan pemegang kedaulatan tertinggi.(***)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Pemilu   Demokrasi   rakyat   pemilih   Pemuda  

Terpopuler