Luar Biasa, Mengharukan, Setia Dampingi Keluarga Pasien

Jumat, 20 Januari 2017 – 05:22 WIB
Budiawan membawa sejumlah kebutuhan ke RSCM jakarta untuk pasien cangkok hati. Foto: Sahrul Yunizar/JawaPos

jpnn.com - jpnn.com - Ada energi besar pada diri Budiawan untuk berbuat kebajikan, setelah dia kehilangan si buah hati.

Tak ingin orang lain mengalami kesulitan seperti dirinya saat mendampingi operasi anak, dia rela menjadi porter di RS Cipto Mangunkusumo. Sudah ratusan keluarga pasien yang dibantunya.

BACA JUGA: Relawan Anies-Sandi Semakin Bergairah

SAHRUL YUNIZAR, Jakarta

Matahari masih belum beranjak dari peraduan. Kota Jakarta masih temaram. Tapi, kesibukan sudah tampak di ruang operasi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

BACA JUGA: Relawan Anies-Sandi Gelar Rembug di 267 Kelurahan

Minggu pagi (15/1) itu adalah jadwal operasi bagi Bagas Bramantyo. Bayi mungil asal Bekasi berusia sepuluh bulan itu tengah berjuang melawan penyakit atresia bilier (gangguan saluran empedu pada hati).

Ikhtiar penyembuhannya hanya satu, cangkok hati. Rencananya, hati Bagas dipotong, lalu diganti sebagian hati ibunya, Puji Lestari.

BACA JUGA: Relawan Anies-Sandi Gelar Donor Darah

Budi Kristiawan, ayah Bagas, tampak gelisah. Anak dan istrinya akan menjalani operasi besar dalam waktu bersamaan.

Hatinya dag-dig-dug. Jangankan mengurus segala kebutuhan operasi, berpikir tenang pun bukan perkara gampang untuknya.

Untung, ada Budiawan di sampingnya. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai driver ojek online itu sejak dini hari telah menembus udara dingin Kabupaten Bogor.

Dengan sepeda motor matiknya, dia menempuh jarak tak kurang 50 kilometer dari rumahnya di Cibinong menuju Jakarta.

Tujuannya, mendampingi Budi dan keluarganya serta mengurus segala keperluan operasinya.

Sekitar pukul 07.00 Bagas masuk ruang operasi. Puji Lestari yang menjadi pendonor masuk ruang operasi lebih dulu.

Budiawan turut mendampingi keduanya. Bersama Budi Kristiawan, dia duduk di kursi tunggu ruang operasi.

Agar tidak terlalu cemas, Budiawan membuka obrolan. Dari balik masker, suara ayah dua anak itu terdengar jelas.

”Kalau perlu apa-apa, hubungi saya saja, Pak,” kata dia kepada Budi. Perkataan tersebut dibalas anggukan.

Tidak lama kemudian, telepon genggam Budiawan berdering. Dokter yang tengah mengoperasi Bagas meminta bantuan.

Pria 30 tahun itu lantas pamit kepada Budi dan Jawa Pos yang ikut mendampingi keluarga pasien. ”Saya ambil darah dulu,” ucap Budiawan.

Dokter rupanya meminta Budiawan bertolak ke bank darah PMI Jakarta. Entah Bagas atau ibunya yang membutuhkan tambahan darah. Berbekal kotak pendingin darah, Budiawan bergegas berangkat.

Sepeda motor yang sehari-hari dipakai ngojek dia bawa membelah jalanan ibu kota. Tiga puluh menit berselang, Budiawan sudah kembali.

Berjalan melintasi lorong RSCM, dia kemudian masuk ruang operasi. Begitu keluar, dia tampak lega. Tidak lagi terlihat cemas. Dia lantas menghampiri Jawa Pos dan Budi lagi.

Tapi, belum lama duduk di ruang tunggu, telepon genggam Budiawan kembali berdering. Kali ini dia dapat perintah mengambil obat yang sudah disiapkan di ruangan lain. ”Sebentar ya,” kata dia, lantas berjalan.

Lima belas menit kemudian dia kembali. Budi yang melihat Budiawan hilir mudik mengurus operasi anak dan istrinya berkali-kali menghela napas panjang untuk meredakan ketegangan.

”Untung ada Pak Budiawan yang membantu. Terima kasih, Pak,” ucapnya kepada Budiawan yang menyambutnya dengan senyum.

Begitulah Budiawan. Dia adalah satu di antara sejumlah relawan yang mengabdikan diri di RSCM. Tugasnya ialah mendampingi keluarga pasien yang naik meja operasi.

Termasuk mengambilkan dan mengantarkan kebutuhan operasi yang dipesan dokter di ruang operasi. Dia sudah hafal di mana berbagai keperluan operasi itu berada.

Lantaran bukan karyawan RSCM, Budiawan biasa disebut porter obat. Tapi, dia lebih senang disebut relawan. Sebab, niatnya mengambil tawaran RSCM menjadi porter bukan mencari uang, melainkan mengabdikan diri.

”Saya sudah janji sama diri saya sendiri untuk membantu keluarga pasien. Saya tidak ingin keluarga pasien mengalami seperti saya,” ucap dia.

Janji itu terucap setelah buah hati Budiawan yang mengidap kanker darah stadium empat akhirnya meninggal pada pertengahan 2015.

Ceritanya bermula pada akhir 2014, saat Budiawan membawa anaknya, Muhammad Hasan Albana, dari Jambi ke Jakarta. Tujuannya ialah berobat.

RS Kanker Dharmais menjadi tempat pertama yang dia datangi. Begitu tiba di RS Kanker Dharmais, Budiawan diarahkan untuk membawa putranya ke RSCM.

Sebab, pasien di Dharmais sudah terlampau banyak. Sehingga harus mau antre panjang apabila ingin ditangani RS tersebut.

Melihat kondisi Hasan yang sudah parah, Budiawan akhirnya membawanya ke RSCM. Sejak saat itu Budiawan sering bolak-balik ke RSCM. ”Saya bertiga dengan istri dan anak. Naik motor Bogor–Jakarta,” kenang dia.

Demi anak, mau tidak mau rutinitas itu dia lakoni. Tujuh bulan dia menjalani masa sulit tersebut. Amat berat lantaran segala kebutuhan dia urus sendiri.

”Tidak ada yang bantu. Hanya sesekali saya berkonsultasi dengan teman-teman dari Yayasan Berbagi,” ujarnya.

Pertengahan 2015, Hasan akhirnya mengembuskan napas terakhir. Budiawan sedih bukan kepalang. Tapi apa daya, takdir berkata lain.

Dia pun berusaha ikhlas. Sampai janji untuk mengabdikan diri terucap. Kemudian datang tawaran dari RSCM untuk menjadi porter. ”Pikiran saya hanya membantu,” ucap dia.

Sejak saat itu Budiawan menjadi porter di RSCM. Pihak RS lantas memberinya apresiasi Rp 90 ribu per delapan jam. Meski jumlahnya tidak seberapa, dia menerima dengan senang hati.

Pihak RSCM menawari Budiawan karena dia sudah banyak membantu keluarga pasien sebagai porter dengan sukarela, tanpa bayaran.

Bagi dia, membantu keluarga pasien yang butuh pertolongan adalah suatu keharusan. Apalagi, mayoritas pasien berasal dari keluarga kurang mampu yang berobat dengan kartu BPJS Kesehatan.

Karena itu, Budiawan tidak pernah menolak ketika dimintai bantuan dokter maupun keluarga pasien.

Mulai mencarikan tempat tinggal sementara keluarga pasien dari luar kota, menguruskan kartu BPJS Kesehatan, mengantar pasien ke laboratorium, mengambil hasil pemeriksaan dokter, sampai urusan yang lebih serius. Yakni membantu keluarga pasien ketika operasi tengah berlangsung.

Meski bukan petugas medis atau karyawan RSCM, Budiawan punya akses untuk keluar masuk ruang operasi yang sangat steril. Tentu karena dia dikenal dan mendapat izin dokter yang bertugas.

Memang terlihat mudah. Tapi tidak demikian. Sebab, tidak hanya mengambil dan mengantar kebutuhan operasi, Budiawan juga mesti paham prosedur serta tahu setiap tempat yang berhubungan dengan obat. Termasuk jenis obat yang dibutuhkan.

Misalnya, ketika mengambil darah di PMI, Budiawan tidak begitu saja langsung berangkat ke bank darah PMI pusat untuk ambil darah.

Dia harus antre, memastikan jenis darah yang dibutuhkan ada, dan mencari darah yang dibutuhkan apabila tidak tersedia di bank darah PMI pusat.

Karena itu, menjadi porter RSCM memerlukan kemampuan khusus. Selain mengurus kebutuhan operasi, Budiawan punya tanggung jawab membantu keluarga pasien ketika operasi selesai.

Bahkan, banyak keluarga pasien yang terus meminta bantuan meski operasi sudah usai. Budiawan pun tidak pernah menolak permintaan keluarga pasien itu.

Pertengahan tahun lalu misalnya. Ketika itu Budiawan diminta mendampingi Syahmuddin, pasien 27 tahun yang didiagnosis menderita kanker.

Segala kebutuhan dan urusan pasien tersebut dia upayakan. Mulai makanan, pakaian, obat, sampai ganti popok atau diaper.

”Dia sebatang kara,” ucap Budiawan. Sebelumnya ada relawan yang membantu Syahmuddin. Namun, dia memilih mundur karena merasa tidak kuat.

Alhasil, Budiawan yang mengambil alih. Dia tidak kuasa melihat Syahmuddin yang sudah tidak berdaya. Untuk duduk pun, pasien asal Tanjungpinang, Riau, itu tidak bisa.

Sebab, penyakit yang dia derita sudah menjalar ke mana-mana. Dari bawah pinggang sampai kaki, semua tidak berfungsi. ”Kakinya luka. Sudah ada belatungnya,” kata dia.

Dengan sabar Budiawan merawat Syahmuddin hingga lebih baik. ”Sekarang dia sudah pulang,” sambungnya.

Budiawan bertekad terus mengabdikan diri sampai merasa tidak kuat lagi. Yang ada dalam pikirannya hanyalah berusaha membantu keluarga pasien semaksimal mungkin agar tidak ada lagi yang bernasib sama dengan dirinya. (*/c9/ari)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pasukan Garuda 3 Siap Menangkan Anies-Sandi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler