Maaf, Filipina Diragukan Bisa Membasmi Abu Sayyaf

Selasa, 26 April 2016 – 21:29 WIB
Angkatan Bersenjata Filipina (AFP), saat berpatroli di Zamboanga City. Foto: dok/Reuters

jpnn.com - MANILA - Kelompok Abu Sayyaf di Filipina semakin menyita perhatian dunia. Belum hilang kegelisahan atas belasan bahkan mungkin puluhan aksi penculikan, pembajakan, penyanderaan yang terjadi dalam dua dekade terakhir, Senin (25/4) kemarin, aksi barbar Abu Sayyaf kembali mengguncang.

Kepala John Ridsdel dipenggal, dimasukkan ke dalam kantong plastik dan kemudian ditinggal di sebuah jalan di Jolo City.

BACA JUGA: Kepala Warganya Dipenggal, PM Kanada Janji Mengadili Abu Sayyaf

Pengamat politik maupun militer ramai angkat bicara menyorot rentetan kejadian ini. Mereka mempertanyakan apakah angkatan bersenjata Filipina mampu melaksanakan perintah Presiden Benigno S. Aquino III, membasmi kelompok yang kabarnya hanya tinggal tersisa sekitar 500 orang itu.

"Masalah ini sudah lama bersama kami, tampak jelas bahwa pemerintah, tidak hanya di bawah pemerintahan saat ini, tetapi di bawah pemerintahan masa lalu, telah gagal total untuk mengakhiri penculikan untuk operasi tebusan dari Abu Sayyaf," kata mantan pejabat militer, Ramon J. Farolan dalam sebuah kolom untuk The Philippine Daily Inquirer, yang dikutip kembali The New York Times, Selasa (26/4).

BACA JUGA: Bagian Tubuh Sandera Abu Sayyaf Itu Dibuang di Depan Anak-anak

Wakil Presiden Jejomar Binay, yang merupakan calon presiden dalam pemilihan 9 Mei nanti, juga termasuk di antara mereka yang telah menyerukan upaya lebih untuk membasmi Abu Sayyaf. "Kelompok-kelompok ini bandit, bukan pemberontak, dan harus ditangani dengan segera dan tegas," katanya.

Meskipun militer Filipina jauh melebihi jumlah Abu Sayyaf dan memiliki pelatihan yang lebih baik dan persenjataan yang lebih canggih, tentara menghadapi kendala besar: hutan lebat di mana kelompok itu beroperasi. "Pada tingkat taktis, mereka memiliki penguasaan medan," ujar Kolonel Restituto Padilla Jr, seorang juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina. "Mereka memetakan seluruh wilayah dan tahu setiap sudut dan celah," kilahnya.

BACA JUGA: Mengerikan..Abu Sayyaf Penggal Kepala Sandera

Padilla menjelaskan, dalam dua dekade terakhir, Abu Sayyaf telah menculik puluhan warga asing, menerima jutaan dolar uang tebusan, dan beberapa yang telah didistribusikan ke penduduk setempat. Selain itu, banyak dari para pejuang Abu Sayyaf memiliki kerabat dan klan ikatan tradisional untuk warga, yang semuanya menempatkan mereka bertentangan dengan pasukan pemerintah.

"Mereka telah menjadi Robin Hood lokal, dicari dan dihormati oleh cukup banyak penduduk setempat," kata Padilla.

Matt Williams, direktur di Philippines for Pacific Strategies and Assessments (sebuah perusahaan manajemen risiko dan keamanan), punya pengamatan sendiri. "Daerah di mana Abu Sayyaf beroperasi adalah wilayah kejahatan, persaingan klan dan korupsi endemik," kata Mr Williams, yang telah terlibat dalam negosiasi sandera dengan kelompok. 

Williams menambahkan, di daerah kelompok ini beroperasi, hampir dua-pertiga dari penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Ada juga tingkat tinggi ketidakpercayaan pemerintah dan militer di daerah-daerah, dan banyak pemuda melihat kolaborasi dengan Abu Sayyaf sebagai sesuatu yang bergengsi dan menguntungkan.

"Militer Filipina memiliki kemampuan teknis untuk mengandung dan mengikis kapasitas operasional Abu Sayyaf. Apa yang kurang adalah kemauan politik untuk menyelesaikan ini. Pemerintah Presiden Aquino tampaknya tidak memiliki solusi militer yang bisa diterapkan untuk membasmi Abu Sayyaf," serang Williams.

Sampai saat ini, Filipina masih menolak tegas datangnya uluran tangan militer dari negara lain, khususnya yang warganya menjadi sandera Abu Sayyaf, seperti Indonesia. Ya, 14 WNI hingga saat ini masih berada dalam penguasaan Abu Sayyaf.

Presiden Aquino III masih bersikukuh bisa mengatasi, dan bersumpah mampu menghapus kelompok teroris ini. "Kami memiliki beberapa batalyon. Tidak hanya garis infanteri tapi beberapa pasukan paling elite kami. Mereka telah diperintahkan masuk ke semua sarang meski medannya adalah hutan yang sangat lebat," ujar Aquino.

Operasi penyelamatan sandera yang dilakukan pasukan Filipina sendiri sudah sering memakan korban. Bulan ini, The New York Times mencatat 18 tentara menjadi korban dalam pertempuran. Sampai kapan....(adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jelang Konvensi, Lawan Donald Trump Berkoalisi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler