Sejak tiga tahun lalu, Yohanes Kurniawan asal Jakarta sudah terbiasa mengawas ujian di lembaga pendidikan Melbourne, Australia. Tapi di tengah pandemi COVID-19 ia melakukannya sedikit berbeda.

Dua sampai tiga kali sepekan, Yohanes pergi ke Monash University untuk berhadapan dengan dua layar komputer memantau para mahasiswa mengerjakan ujian mereka secara online.

BACA JUGA: Boeing 737 MAX yang Dipakai Lion Air Sudah Boleh Terbang lagi

Di dalam salah satu ruangan yang sama dengan Yohanes, terdapat juga beberapa pengawas lain yang masing-masing mengawasi empat sampai lima mahasiswa selama dua hingga empat jam.

Menurutnya, pekerjaannya di tengah pandemi ini punya tantangannya tersendiri.

BACA JUGA: Ada Lockdown Ketat Lagi di Australia, Begini Respons Warga Asal Indonesia

"Hal uniknya adalah setiap pengawas pasti ada masalah, bukan siswa mencontek atau apa, tapi karena teknologi," kata Yohanes, lulusan S2 Marketing University of Melbourne.

"Seperti hari Selasa waktu mengawas pertama kali, server universitasnya down [mengalami gangguan], jadi pada tidak bisa exam [ujian] dan pada panik orang-orangnya."

BACA JUGA: Pfizer Ajukan Izin Penggunaan Darurat Setelah Vaksin COVID Buatannya 95 Persen Efektif

Di saat seperti inilah, Yohanes sebagai pengawas harus menenangkan para mahasiswa agar tidak panik, sambil terus berkomunikasi dengan penanggung jawab ujian.

"Kami menenangkan, dan bilang 'tenang saja, waktunya tidak akan berkurang kok'," katanya.

"Selama ini pasti ada masalah teknis," katanya.

"Ada suatu kali siswa tidak bisa terhubung dengan komputer kami. Lagi mengerjakan [ujian dan] tiba-tiba komputer mati." Photo: Yohanes yang hobi komputer mengatakan senang mengawas secara online karena suka memecahkan masalah teknis yang hampir selalu ada. (Supplied: Yohanes Kurniawan)

 

Namun metode mengawas secara online ini dirasa "lebih seru" oleh Yohanes.

"Lebih fun [seru] dari mengawas secara fisik sih, karena saya hobi komputer dan kalau ada masalah saya mengerti cara [menyelesaikannya]," tuturnya.

"Selain itu, [mengawas online] juga comfortable [nyaman] karena bisa kelihatan semuanya. Kalau secara fisik kan susah kalau melihat mereka [satu per satu]." 'Gugup' pada awalnya

Putri Suci Ramadhany, mahasiswi pendidikan doktoral di Monash University sejak 2018, baru-baru ini juga menjadi pengawas ujian, meski awalnya ia tidak tahu untuk ujian online.

"Awalnya agak kaget karena dikirain saya akan supervise [mengawas] langsung, kirain akan hand out [membagikan] soal, segala macam," kata Putri kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"Tahu-tahunya sekarang siswa belum kembali ke universitas ... lalu kami dilatih tentang bagaimana proses deliver exam [melakukan ujian] online serta peran kami sebagai invigilator [pengawas]." Photo: Putri Ramadhany mengaku baru pertama kali mengawas ujian di Melbourne dan langsung melakukannya secara online. (Supplied)

 

Butuh waktu bagi Putri untuk menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru yang ia dapatkan di tengah pandemi ini.

Apalagi karena sebagai pengawas, Putri yang awalnya mengaku kurang percaya diri ketika berurusan dengan teknologi "harus terlebih dahulu pasang badan untuk mahasiswa", sebelum meminta pertolongan pihak lain.

"Walaupun sudah ikut training [pelatihan] tetap nervous [gugup] sih. Karena saya pribadi bukan tipe yang advanced untuk masalah teknologi," ucap Putri.

Karenanya, perempuan yang pertama kali tiba di Melbourne tahun 2010 ini sempat melakukan kesalahan ketika sedang bertugas.

"Pas nervous itu, saya sempat tidak ngeh kalau ternyata saya tidak membuka gerbang ujian. Tanpa itu, siswa tidak bisa mulai ujian," katanya.

"Di shift pertama kita masih harus menyesuaikan diri dengan teknologi ... tapi alhamdulillah shift kedua dan ketiga sudah terbiasa dengan sistemnya." 'Lebih suka ujian offline'

Tidak hanya Yohanes dan Putri sebagai pengawas yang harus menyesuaikan diri dengan ujian online. Photo: Mahasiswi S1 University of Melbourne Felicia Elfiera mengaku lebih menyukai ujian 'offline' dibandingkan online. (Supplied)

 

Felicia Elfiera, mahasiswi jurusan Aktuaria University of Melbourne, mengatakan mengerjakan ujian secara online menambah rasa gugup karena khawatir dengan masalah teknis.

"Saya sempat bingung harus bagaimana, kapan akan masuk Zoom-nya, nanti akan di-mute atau tidak, dan kalau misalnya mau ke toilet bagaimana," katanya.

Namun, kekhawatirannya menipis setelah menerima video instruksi berdurasi tiga menit yang dikirimkan universitas seminggu sebelum hari ujiannya tanggal 9 November lalu.

Sebelum memulai ujian, ia mengatakan pengawas akan memintanya untuk melakukan beberapa hal.

"Pertama, 15 menit sebelum ujian kita masuk dan pengawas mengecek apakah kameranya kurang mundur apa gimana dan kamera kami harus nyala terus," katanya.

Selama empat jam mengerjakan ujian statistiknya, mahasiswi asal Surabaya ini mengatakan tidak mengalami sedikitpun hambatan.

Ia namun tetap lebih menyukai ujian di dalam kelas dalam situasi normal.

"Saya lebih suka offline karena jelas saja. Harus siap-siap, sementara ujian online siap-siapnya tidak berasa siap-siap karena masih di rumah dan open-book." Celah untuk berbuat curang dalam ujian online

Meski tidak berniat untuk berbuat curang dalam ujian 'open book' tersebut, Felicia yang berasal dari Surabaya ini mengatakan masih ada celah untuk melakukan tindakan tersebut.

"Kelihatannya kalau ujian online [kesempatan berbuat curang] lebih tinggi sih," katanya. Photo: Pengawas bisa menandai atau memberikan 'yellow flag' pada mahasiswa yang melakukan hal mencurigakan ketika ujian online. (Supplied: Yohanes Kurniawan)

 

Yohanes juga menyadari keberadaan celah tersebut, terutama bila mahasiswa berniat untuk menggunakan software yang sempat disebutkan namanya dalam proses pelatihan para pengawas.

Putri mengatakan pengawas perlu bersikap peka dalam mengawasi gerak-gerik mahasiswa.

"Kalau kita sudah benar-benar curiga, misalnya mendengar dia ngobrol, atau ada obrolan, kita bisa clarify sama siswanya," katanya.

"Dan nanti ini direkam sistemnya semua, jadi kalau ada sesuatu yang mencurigakan bisa menandai mereka, tapi tidak langsung serta-merta dianggap tuduhan pelanggaran. Tetap ada proses pemeriksaan dari universitas."

Ikuti berita seputar pandemi di Australia dan lainnya di ABC Indonesia.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Epidemiolog Minta Pemerintah Lakukan Tes COVID-19 Massal di Penjara

Berita Terkait