Mahasiswa Sandera Mobil Tanki BBM

Rabu, 27 Agustus 2014 – 07:01 WIB

jpnn.com - CIREBON – Setelah sekitar lima hari Cirebon dan beberapa kota lainnya di Pantura mengalami krisis BBM, akhirnya Puluhan mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Cirebon merespon dengan melakukan unjuk rasa terkait kelangkaan BBM di Ciayumajakuning Selasa (26/8) kemarin.

Massa aktivis dari HMI tersebut menggelar unjuk rasa di tiga titik yakni, Perempatan lampu merah Pemuda, Pertamina Klayan dan Unit Pemasaran Pertamina di Jl Tuparev. Aksi tersebut sendiri mendapat pengawalan ketat dari Polres Cirebon Kota.

BACA JUGA: Antrean Mulai Menyusut

Dalam unjuk rasa tersebut mahasiswa menyuarakan keluhan dari masyarakat terkait kebijakan pemerintah yang membatasi jatah konsumsi BBM, karena dampak dari pengurangan jatah tersebut, dalam lima hari kemarin sejumlah tempat terjadi kelangkaan yang berakibat pada naiknya harga kebutuhan pokok.

Bahkan harga BBM di tingkat pengecer pun menembus harga dua kali lipat. Puncaknya, luapan kekecewaan dari puluhan massa aktivis HMI tersebut akhirnya menyandera sebuah mobil pengangkut BBM bersubsidi di depan Pertamina Klayan.

BACA JUGA: Bonaran Tersangka, Curigai Ada Unsur Politis

Sekitar 15 menit mobil tersebut tidak bisa berjalan dan akhirnya polisi membiarkan mahasiswa berorasi di atas mobil tanki BBM tersebut.

Setelah selesai berorasi di Pertamina Klayan, mahasiswa kemudian melanjutkan aksinya mendatangi Unit pemasaran Pertamina di Jl Tuparev kedawung. Setelah beberapa saat berorasi, massa akhirnya ditemui oleh Sales Executive Pertamina Ziko Wahyudi. Di sini mahasiswa dan perwakilan Pertamina melakukan audiensi.

BACA JUGA: BAPEK Minta Bupati Eksekusi Pemecatan Arsyad Siregar

Salah satu aktivis HMI yang juga Kabid pemberdayaan daerah HMI Cabang Cirebon, Otong mempertanyakan tentang adanya pengurangan kuota BBM sehingga hal tersebut kemudian meresahkan dan akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman pada masyarakat.

Dia juga menuding dalam hal pengurangan kuota ini, pihak Pertamina tidak melakukan sosialisasi terlebih dahulu sehingga masyarakat yang harus menanggung akibatnya.

Pihaknya menuntut Pertamina untuk terbuka dan menyampaikan kepada masyarakat kondisi sesungguhnya. “Kenapa pertamina seperti terkesan panik dan tanpa sosialisasi langsung mengurangi kuota BBM tanpa sosialisasi,” tanyanya.

Tak mau disalahkan, Sales Executive Ritail 15 wilayah III Pertamina, Ziko Wahyudi menjelaskan kepada para mahasiswa bahwa instruksi tentang adanya pengurangan jatah atau kuota BBM adalah kewenangan dari pemerintah pusat.

Menurutnya pihaknya sebagai Unit pelaksana tetap melaksanakan kebijakan dari pemerintah namun demikian pihaknya tetap melihat kondisi di lapangan. Untuk sekarang pihaknya mengaku sudah menormalkan kembali stok ataupun kuota BBM untuk SPBU.

Menurutnya tujuan pengendalian sendiri adalah untuk menjamin ketersediaan BBM bersubsidi hingga akhir tahun. (dri)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Nafsiah Tekankan RS Tingkatkan Mutu Pelayanan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler