Mahmoed Marzuki, Kaki Diikat, Kepalanya di Bawah, Dicambuk

Kisah Pahlawan yang Wafat di Usia Muda

Sabtu, 28 Oktober 2017 – 00:58 WIB
Seorang bocah membawa Bendera Merah Putih di Sungai Kalianyar, Solo, Kamis, 17 Agustus 2017. Ilustrasi Foto: Arief Budiman/Radar Solo/JPNN.com

jpnn.com - Bagi masyarakat Riau, terutama Kampar, nama Mahmoed Marzuki barangkali tak asing lagi. Perjuangannya di masa penjajahan, tercatat di dalam sejarah.

Jasanya dalam merebut kemerdekaan di usia muda sudah sangat di kenal. Kalau pada akhirnya dia diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, sudah sesuatu hal yang wajar.

BACA JUGA: AR Baswedan Diusulkan Mendapat Gelar Pahlawan Nasioal

Laporan: SARIDAL MAIJAR, Bangkinang Kota

Mahmoed Marzuki lahir di Kampar, tahun 1911. Dia wafat pada usia 35 tahun, tepatnya pada tahun 1946. Usia yang masih muda.

BACA JUGA: Mensos Isyaratkan Gelar Pahlawan Tahun Ini Hanya Sebegini

Meski banyak jasanya dalam mengusir penjajah, namun hanya seatahun dia bisa menikmati kemerdekaan.

Kini jasadnya dimakamkan di Kecamatan Bangkinang Kota, Kabupaten Kampar. Makamnya berada di lingkungan Pondok Pesantren Mualimin Muhammadyah, Desa Kumantan. Pesantren yang didirikannya semasa hidup.

BACA JUGA: Tiga Tokoh Akan Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Abdul Latif Hasyim merupakan salah seorang tim peneliti sejarah perjuangan Mahmoed Marzuki ini. Dia paham kisah perjuangan Mahmoed Marzuki.

"Kita harus bangga punya pahlawan seperti ini. Almarhum sangat pantas diangkat sebagai Pahlawan Nasional," ujarnya kepada Riau Pos (Jawa Pos Group) di Bangkinang Kota, Jumat (27/10).

Katanya, Mahmoed Marzuki adalah sosok tokoh muda yang patut dicontoh. Dijadikan teladan bagi pemuda masa kini. Betapa tidak, di usia yang muda, mampu menjadi seorang tokoh yang hebat dalam melawan penjajah.

Perjuangan Mahmoed Marzuki tidak hanya dengan fisik. Non fisik juga. Secara non fisik, Mahmoed Marzuki mampu menjadi motivator bagi masyarakat banyak.

Membangkitkan semangat juang para pemuda di masa itu. Menggerakkan masyarakat untuk mengusir penjajah.

"Beliau adalah seorang orator terkenal. Buya Hamka saja mengaguminya," kata dia.

Kekaguman Buya Hamka ini, terbukti ketika Buya Hamka berpidato. Di mana-mana, saat berpidato, Buya Hamka selalu menyebut nama tokoh muda yang dibanggakannya.

Salah satunya adalah Mahmoed Marzuki ini. Kemudian, Buya Hamka juga pernah menyebut nama Kasman Singodimedjo (Pahlawan asal Purworejo).

"Kedua nama ini, adalah tokoh muda saat itu yang dibanggakan oleh Buya Hamka. Bangga dengan semangat juang, dan ilmu keagamaan yang dimilikinya. Dua nama ini selalu disebut saat berpidato di Sumatera ini," sebut budayawan asal Kampar ini.

Kalau Mahmoed Marzuki berpidato, kata Latif, api semangat juang semua orang yang mendengarkannya jadi membara.

"Jadi beliau sering berpidato di Riau umumnya, Kepri, Selat Panjang, Sumatera Barat, bahkan di Malaysia. Namanya ini terkenal di negeri seberang (Malaka)," kata dia.

Di Riau, Kampar khususnya, Mahmoed Marzuki membentuk semacam pergerakan pejuang. Anggotanya ada juga yang tergabung dalam Harimau Kampar.

Perjuangan itu, memuncak saat Nagasaki dan Hirosima Jepang, dibom atom. Tepat pada 17 Agustus, Indonesia merdeka.

Di Jakarta, kemerdekaan ini telah diumumkan. Tapi, di Kampar, informasi kemerdekaan ini belum sampai. Bendera Merah Putih belum berkibar di sini.

Di Bangkinang, kemerdekaan itu baru diketahui dua pekan setelah kemerdekaan. Informasi ini, sengaja ditutup-tutupi oleh tentara Belanda dan Jepang yang masih berkuasa di Kampar. Namun pada akhirnya, informasi ini sampai juga ke Mahmoed Marzuki.

"Waktu itu, didapatlah telegram dari pusat. Barulah masyarakat tahu Indonesia merdeka," kata dia.

Mulailah Mahmoed Marzuki menyusun rencana untuk menggelar upacara bendera pertama kali di Bangkinang. Tepatnya di Lapangan Merdeka sekarang. Rapat ini dilakukan di salah satu balai adat di Muara Jalai.

Akhirnya, sekitar awal September 1945, di Lapangan Merdeka Bangkinang, berkibar bendera Merah Putih untuk pertama kalinya.

Mahmoed Marzuki ikut dalam pengibaran bendera ini. Saat upacara, ikut juga ribuan masyarakat dari Lima Koto: Kuok, Bangkinang, Salo, Air Tiris, Rumbio.

"Sebelum upacara, mereka bersama-sama pawai berjalan kaki dari Air Tiris. Pakai drum band juga. Kalau tidak salah, ada enam alat drum bandnya saat itu," kata Latif.

Namun, saat pengibaran bendera ini, mereka terus dibayang-bayangi ancaman tentara Belanda dan Jepang.

Ada ribuan banyaknya tentara yang mengawasi pergerakan mereka. Kemana pergi, diawasi. Terutama Mahmoed Marzuki, yang dianggap sebagai otak pergerakan ini.

Usai upacara digelar, Mahmoed Marzuki kembali ke Muara Jalai untuk mengadakan rapat. Mereka membahas strategi mengusir penjajah.

Tapi, rapat yang mereka gelar ini tercium oleh balatentara asing. Balai adat tempat mereka rapat, dikepung. Dihujani dengan peluru dari ratusan senjata. Dibakar juga. Termasuk rumah-rumah warga di sekitar, dihanguskan.

"Saat itu, ada enam pejuang yang ada di balai adat itu meninggal dunia," kata dia.

Beruntung, Mahmoed Marzuki bisa selamat dari hujan tembakan itu. Dia kabur ke rumah temannya di sekitar itu. Bersembunyi di sana.

Namun jejaknya tetap tercium oleh penjajah. Tak beberapa lama saat hujan tembakan itu, dia akhirnya tertangkap juga.

"Beliau ditangkap bersama temannya bernama Bahrun Arif, M Amin, Buya Hamzah Yunus, Buya Latif Altar. Ada juga pejuang lainnya," kata Latif.

Mereka langsung dibawa oleh tentara ke Pekanbaru. Dipenjara. Di sana, pejuang-pejuang Kampar disiksa. Lengkap penderitaanya di sana. Pekiknya saja, terdengar hingga keluar.

"Beliau diikat. Kakinya digantung di atas, kepalanya ke bawah. Dicambuki. Disetrum juga. Dipukul dengan sangkur. Diinjak, disepak. Air sabun bercampur kotoran, dimasukkan ke mulutnya," kata Latif menceritakan siksaan tentara penjajah untuk menaklukkan Mahmoed Marzuki ini.

Siksaan ini, membuat beberapa orang pejuang meninggal dunia.

Tapi beruntung, Mahmoed Marzuki masih bisa bertahan. Namun kondisinya setengah mati. Namun setelah beberapa lama dipenjara, akhirnya Mahmoed Marzuki bersama pejuang Indonesia lainnya dibebaskan.

"Ini setelah ada perundingan damai antara Indonesia dengan Belanda dan Jepang agar pejuang kita dilepaskan," kata dia.

Pulanglah Mahmoed Marzuki ini ke tanah kelahirannya, di Kampar. Tapi, kondisinya tak seperti semula sebelum ditangkap.

Sudah sakit-sakitan. Meski begitu, dia tetap berdakwah. Menyampaikan ilmu-ilmu agamanya kepada masyarakat. Membangkitkan semangat pemuda untuk mengisi kemerdekaan.

"Setahun setelah itu, beliau dipanggil Sang Pencipta. Dia meninggal dunia pada tahun 1946. Tak cukup setahun beliau menikmati kemerdekaan," kata dia.

Latif juga menyebut, dari hasil penelitiannya, bendera pertama yang dikibarkan di Lapangan Merdeka, kuat dugaan masih ada. Karena, bendera yang berkibar saat itu disita oleh Belanda. Pada bendera itu, ada tanda tangan dan nama Mahmoed Marzuki.

"Diduga ini masih disimpan di Belanda. Bendera itu dijahit di Bangkinang. Tidak terdeteksi lagi siapa yang menjahitnya," kata dia.

Bersepeda ke Padangpanjang

Di masa kecilnya, Mahmoed Marzuki hidup di kawasan Bangkinang Seberang (Kecamatan Bangkinang sekarang). Gurunya adalah Buya Malik. Dia belajar mengaji di sana.

Umur bertambah, Mahmoed Marzuki ingin terus melanjutkan pendidikannya. Dia berangkat ke Padangpanjang, Sumatera Barat. Bersekolah di Pesantren Tawalib.

Di zaman itu, tak ada kendaraan seperti sekarang. Hanya ada sepeda untuk darat, dan sampan untuk angkutan air. Kalaupun ada mobil, itupun hanya kaum bangsawan yang bisa menaikinya.

"Jadi, beliau ini berangkat ke Padangpanjang dengan menggunakan sepeda onta (ontel, red)," ujar dia. Bertahun dia menuntut ilmu di sana, hingga remaja.

Dari informasi yang didapat, selama menjalani pendidikan di Padangpanjang, Mahmoed Marzuki memiliki prestasi. Dia berbakat di bidang dakwah.

Setelah tamat, dia kembali ke kampungnya, di Kampar. Di kampungnya, dia terus berdakwah. Memberikan motivasi kepada pemuda, untuk terus melawan penjajah.

Untuk berdakwah ini, barangkali Mahmoed Marzuki merasa ilmunya masih kurang. Maka, dia melanjutkan pendidikannya di India.

"Zaman itu, tempat belajar agama, kalau tidak di Arab, kalau tidak di India," kata Latif.

Dia berankat ke India. Berjalan lewat darat ke Pekanbaru. Sampai di sana, dia menyeberang ke Selat Panjang.

"Di Selat Panjang, pernah ditangkap juga oleh penjajah Belanda," katanya. Namun akhirnya dilepas juga.

Dia melanjutkan perjalanannya ke Malaysia. Di sini, dia bertemu dengan para perantau Kampar. Sempat juga di Malaysia dia berdakwah.

Mengajak para perantau Kampar untuk ikut berjuang melawan penjajah di kampung halaman. "Ada orang Kuok yang dia temui di Pahang, Johor, dan sekitarnya," ujar dia.

Melihat semangat juang dan semangat menuntut ilmu Mahmoed Marzuki, para masyarakat Kampar di Malaysia kompak mengumpulkan dana untuk menyekolahkan anak muda ini.

"Dari Malaysia ini Mahmoed Marzuki berangkat ke India. Sekolah Islam dia di sana. Letingannya Buya Muchtar dari Kuok," kata dia.

Tiga tahun sekolah di India, dia kembali ke Kampar. Melanjutkan perjuangannya. Membangkitkan semangat generasi.

Tokoh Muhammadyah

Abdul Latif Hasyim menyebut, Mahmoed Marzuki merupakah tokoh penting di organisasi Muhammadyah.

Sebab, untuk Riau dan Sumbar, begitu banyak jasanya untu mengembangkan organisasi Islam ini. Ada ratusan jumlah cabang di Kampar. Mulai kecamatan hingga desa.

"Pernah juga diangkat jadi Ketua Muhammadyah Sumbar. Di Sumbar, Mahmoed Marzuki dianggap sebagai 10 tokoh berpengaruh," kata dia.

Setelah itu, Mahmoed Marzuki mendirikan perguruan Mualimin Muhammadiyah, di Kumantan Bangkinang Kota.

Sekarang jadi pondok pesantren Mualimin Muhammadyah. Selain pendiri, guru, Mahmoed Marzuki juga sebagai pengawas sekolah di Bangkinang dan Sumbar.

"Beliau ini salah satu pendiri Muhammadiyah di Riau. Itu pengaruh dari KH Ahmad Dahlan dan Buya Hamka," kata Latif.

Selain itu, Mahmoed Marzuki juga telah mendirikan kelompok pengajian Ukhuwah. Di Pemerintahan Indonesia, Mahmoed Marzuki juga pernah diangkat sebagai Ketua Komite Nasional (KNI) Sumatera Tengah. Wakilnya saat itu H M Amin. Ada 61 orang pengurusnya.

Empat Kali Diajukan Pahlawan

Abdul Latif Hasyim mengaku, sudah empat kali mengukan ke Pemerintah Pusat untuk pengangkatan Mahmoed Marzuki ini sebagai Pahlawan Nasional. Perjuangan untuk menjadikan putra Kampar ini sebagai pahlawan, dimulai sejak tahun 1988.

“Saya termasuk tim penulis sejarah. Tahun 1988, saya penulis makalah. Buya Sani juga masuk tim. Ada juga buk Rosnaniar, mantan anggota DPR RI. Beberapa kali makalah kami diseminarkan," ujar dia.

Seminar ini dilakukan di berbagai tempat. Pernah di Kantor Bupati Kampar, pernah juga di Kantor Gubernur Riau. Terakhir, di tahun ini seminar di Pekanbaru, di Hotel Arya Duta.

Yang mengadakan adalah Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI). "Kita diundang Prof Isjoni, dan Prof Suwardi," kata dia.

Cerita Cucu dan Cicit

Meski tak pernah bertemu langsung, sosok Mahmoed Marzuki tetap menjadi idola bagi cucu dan cicitnya. Prinsip hidup untuk berjuang di jalan Allah, tetap diterapkan oleh keluarga.

"Prinsip hidupnya kuat. Selalu berpegang kepada Alquran dan sunah. Yang jadi prinsip hidupnya ada di dalam Surat Ali Imran ayat 104. Kami pun berusaha untuk seperti beliau," kata Silvia Devi (38) cicit Mahmoed Marzuki. Ikut pula diiyakan oleh Dwi Iriani Devi (55), ibu Silvia.

Dari cerita yang didengar dari kakek dan neneknya, perjuangan Mahmoed Marzuki patut diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

"Dia berjuang bukan untuk diri sendiri, tapi untuk masyarakat banyak. Untuk negara ini, demi meraih kemerdekaan," kata dia.

Oleh karena itu, dia mengajak seluruh pemuda untuk tidak lupa dengan sejarah. Masyarakat harus tahu dengan kisah pahit perjuangan Mahmoed Marzuki. Dengan begitu, tidak akan ada yang mau menyia-nyiakan kemerdekaan yang telah diraih ini.

Dia juga menceritakan sedikit tentang kisah perjuangan keluarga untuk menjadikan Mahmoed Marzuki sebagai pahlawan nasional.

Bahkan, sudah ada dibuat biografi Mahmoed Marzuki oleh kakeknya yang bekerja sama dengan Universitas Riau.

Soal kisah perjuangan semasa hidup kata Silvia, memang menyayat hati. Seperti siksaan yang diberikan oleh penjajah.

"Kisahnya memang sedih. Mengiris hati. Sempat disiksa. Pernah disiram air panas. Diikat kakinya, kepala di bawah. Dicambuk. Kejam lah pokoknya," kata dia.

"Perjuangan itu sekitar tahun 1941. Mulai dia berorganisasi sejak pulang dari pendidikan di India," kata Silvia mengingat. Di India dan Malaysia, nama Mahmoed Marzuki cukup terkenal.

Silvia juga menceritakan sekilas tentang keluarga Mahmoed Marzuki ini. Katanya, kakek buyutnya ini memiliki dua istri.

Di istri pertama, Mahmoed Marzuki memiliki empat anak. "Saya cicit dari anak yang nomor satu di istri pertama ini," kata dia.

Kemudian dengan istri kedua, Mahmoed Marzuki memiliki tiga orang anak. Namun anak-anaknya ini sudah banyak yang meninggal.

Kalaupun ada, sudah tidak diketahui lagi keberadaannya. "Cucunya ada juga yang di Jawa. Kami dulu juga di Jakarta," ujarnya.

Dwi Iriani Devi mengaku pernah bertemu dengan Mahmoed Marzuki di dalam mimpi. "Dalam mimpi itu, kepala saya dielus-elus. Dia minta saya sabar dan berkata: kamu akan dapat bagian cucuku," ujarnya mengingat mimpi itu.

Ia menanggap, ini adalah pertanda bahwa akhirnya kakeknya itu ditetapkan juga sebagai Pahlawan Nasional.(*4)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Veteran 93 Tahun, Lawan Perintah Jenderal Ahmad Yani Demi Sahabat


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler