Makna Simbolik Kebo Bule Sudah Hilang

Rabu, 05 November 2014 – 16:48 WIB
Politikus PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno. JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Pembunuhan kebo bule pusaka Keraton Surakarta oleh warga iseng, turut menyita perhatian politikus PDI Perjuangan, Hendrawan Supratikno. Menurutnya, kematian hewan bernama Kiai Bagong itu menunjukan semakin lunturnya nilai-nilai kearifan lokal di tengah masyarakat.

"Itu artinya masyarakat tidak tahu lagi apa makna simbolik dari kebo bule," kata Hendrawan saat dihubungi, Rabu (5/11).

BACA JUGA: Serikat Pekerja Tolak Nama Lama jadi Dirut Pertamina

Hendrawan mengatakan, kearifan lokal dan budaya biasanya ditinggalkan masyarakat karena tidak lagi memiliki fungsi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan, budaya yang masih fungsional bagi kelangsungan hidup pasti dipelihara dan dipertahankan.

"Misalnya bahasa kromo inggil akan ditinggalkan karena kehidupan kita sehari-hari untuk mencari uang lebih penting bahasa Inggris," jelas anggota DPR RI ini.

BACA JUGA: Walubi: Bila Berjodoh, Pernikahan Beda Agama tak Bisa Dihindari

Karena itu, Hendrawan menilai, kearifan lokal perlu untuk direvitalisasi untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan dinamika hidup masyarakat modern. Ini sesuai dengan konsep revolusi mental yang diusung Presiden Joko Widodo.

"Itu sebabnya revolusi mental harus dijabarkan dalam langkah kongkrit. Misalnya, di kurikulum diajarkan soal budi pekerti, hormat-menghormati guru dan orang tua. Ini terukur," pungkas politikus asal Jawa Tengah itu. (dil/jpnn)

BACA JUGA: PGI Anggap Larangan Nikah Beda Agama Melanggar HAM

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mendagri Sebut PNG Jadi Jalur Masuk Narkoba ke Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler