Mampirlah ke Desa Wisata di Lereng Merapi, Adem

Senin, 11 Juli 2016 – 00:09 WIB
Suasana di Desa Wisata Samiran, Selo, Boyolali, Minggu (10/7). Foto: Sam/JPNN

jpnn.com - JALAN masuk ke kawasan Desa Wisata Dewi Santi, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Boyolali , beraspal mulus. Kanan kiri asri, hijau, berhawa dingin. Maklum, lokasinya di lereng gunung, diapit Merapi dan Merbabu.

Sepanjang jalan itu, masuk dari jalan alternatif jalur Boyolali-Magelang, kanan-kiri rumah warga dijadikan home stay. Sungguh bersih dan rindang. Tidak ada hotel!.

BACA JUGA: Melihat Sajian Menu Pascalebaran Warga Kawanua

“Total di desa ini ada 48 home stay. Rata-rata satu home stay ada dua kamar, tapi ada juga yang lima kamar,” terang Ketua II Desa Wisata Dewi Santi, Haris Budiarto, saat ditemui JPNN di rumahnya, di desa tersebut, Minggu (10/7).

Para warga di sana sungguh menikmati berkah Tuhan. Daerah berhawa sejuk dengan keajaiban Gunung Merapi yang bertetangga dengan Merbabu, menjadi destinasi wisata alam yang mulai moncer sejak dibukanya jalur wisata Solo-Selo-Borobudur.

BACA JUGA: Menyedihkan, Sejak 2010 Berlebaran di Atas Genangan

Banyak turis yang berkunjung ke Borobudur yang merupakan situs budaya, melanjutkan berwisata alam ke kawasan Selo.

Mereka mengorganisasi diri secara rapi. Ada kelompok guide, poter, travel, semuanya ditangani warga lokal.

BACA JUGA: Wow! Alat Deteksi Kanker Serviks Temuan Pakar DNA LIPI

“Di sini ada tiga home stay yang bekerjasama dengan orang Prancis,” imbuh Haris. Orang Prancis itu lah yang menggaet bule-bule melalui jaringannya, untuk datang ke Desa Samiran.

Turis dari Belanda, Jerman, AS, dan beberapa negara Eropa lainnya, berdatangan ke kawasan tersebut.Uang dolar mengalir ke sana.

“Kalau ada turis dari eropa, tiga sampai empat orang yang datang bersamaan, itu bisa membutuhkan 10 porter. Uang ongkos poter saja totalnya sekitar Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. Semua porter warga sini, juga travelnya,” terang Haris.

Kok bisa sampai 10 porter untuk melayani tiga-empat turis? Rupanya, para turis menginap di home stay hanya untuk transit. Para pembawa dolar itu rupanya lebih senang menginap di bawah tenda, di badan Gunung Merbabu. “Mereka melihat puncak Merapi dari Merbabu,” kata Haris dengan ramah.

Nah, untuk membawa perlengkapan “berkemah” itulah, dibutuhkan banyak porter. Mereka harus mengangkat kasur, peralatan memasak, tenda, bekal makanan, dan sejumlah perangkat lainnya.

Dulu, sebelum terorganisasi secara rapi, home stay-home stay di desa itu relatif sepi. Pasalnya, para turis “dikuasasi” biro travel Jogjakarta. Para turis hanya singgah di lokasi wisata Merapi-Merbabu, lantas balik Jogja lagi, menginap di Kota Gudeg itu. Hanya sedikit dolar yang mampir ke Samiran.

“Alhamdulillah, sekarang kami bisa menikmati sebagai Desa Wisata,” kata Haris.

“Kami perlakukan turis sebagai raja.Dari bandara kami sambut, kami tidak rebutan. Sampai di sini, kami antar keliling ke Desa Wisata ini. Terserah mereka mau pilih yang mana, sesuai selera masing-masing. Kami tidak pernah memaksa harus nginap di home stay ini atau itu,” bebernya lagi.

Pantauan JPNN, home stay yang tersedia cukup variatif. Tapi rata-rata berbau tradisional. Rumah joglo, perabotan kayu jati. Nuansa sungguh alami. Beda dengan fasilitas di hotel. Namun, dari segi kenyamanan, beberapa di antaranya tidak kalah dengan hotel berbintang. Tarif juga variatif, dari Rp 100 ribu, Rp 150 ribu, dan sedikit di atasnya lagi, per kamar per malam.

Namun ada juga yang satu rumah, dua kamar, dengan nuansa asli setempat yang masih terawat, tarif Rp 350 ribu per malam.


Atraksi kesenian yang disuguhkan juga sangat variatif. Semuanya tradisional, unik, khas warga lereng Gunung Merapi.  Di desa tersebut ada 58 kelompok kesenian, yang setiap saat siap dipanggil untuk pentas di depan para bule.

Masing-masing kelompok kesenian punya ciri khas, yang sudah tentu unik di mata para bule. “Kita sodorkan pilihan ke para turis, tinggal pilih. Lantas kita panggil kelompok kesenian itu untuk tampil di Pendopo (tempat pentas, red). Satu kelompok kesenian ini melibatkan rata-rata 20 orang. Tarif Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Tapi pentas hanya sekitar 20 menit saja, agar para turis tidak bosan,” terang Haris.

Suguhan makanan yang disajikan juga khas lokal, seperti jadah (makanan bahan beras ketan dan kelapa), susu (Selo juga penghasil susu dari sapi perah), dan juga makanan sayuran yang  tidak ada di daerah lain, namanya bobor centrung. 

Haris, dengan bangga, cerita bahwa Desa Wisata Dewi Santi kerap dikunjungi Dinas Pariwisata dari berbagai daerah, sebagai lokasi studi banding. 

Nah, dukungan dari banyak pihak juga penting untuk terus menghidupkan destinasi wisata, agar benar-benar bisa mendongkrak tingkat perekonomian masyarakat setempat.

Bapak Sukamto, mantan kades Lencoh, Selo, Boyolali, cerita, beberapa waktu lalu ada acara semacam family ghatering sebuah bank ternama. 

“Pesertanya disebar menginap di home stay-home stay. Satu home stay dua kepala keluarga. Ini bagus, bisa membantu warga sini,” terang sesepuh yang pernah 32 tahun menjadi kades itu. (sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kiprah Bripka Setiyadi Hidayat, Hebat!


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler