Mampukah Neraca Dagang Surplus pada Kuartal II?

Minggu, 21 April 2019 – 07:35 WIB
Darmin Nasution. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia pada kuartal pertama 2019 mengalami defisit sebesar USD 193 juta.

Defisit itu cukup dalam jika dibandingkan dengan kondisi pada kuartal pertama tahun lalu.

BACA JUGA: Semoga Tren Positif Neraca Perdagangan Terus Berlanjut

Saat itu neraca dagang Indonesia masih surplus USD 314,4 juta. Karena itu, pemerintah mengupayakan neraca perdagangan pada kuartal kedua 2019 tidak kembali defisit.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, pada kuartal kedua ini neraca dagang mempunyai dua peluang. Yakni, defisit atau surplus.

BACA JUGA: Sandi Menyoroti Defisit Neraca Perdagangan, Jokowi Jawab Begini

Menurut dia, pada April ini hampir dipastikan neraca perdagangan defisit.

Sebab, impor barang konsumsi meningkat untuk antisipasi kenaikan permintaan menjelang Ramadan dan Lebaran yang jatuh pada Mei–Juni.

BACA JUGA: Darmin Nasution Prihatin akan Nasib Sejumlah Waduk di Batam

Kenaikan tarif pajak penghasilan (PPh) impor barang konsumsi yang diterapkan sejak tahun lalu diprediksi tidak berdampak signifikan pada pertumbuhan impor barang konsumsi saat high season seperti saat Ramadan dan Lebaran.

Namun, pertumbuhan impor bisa saja terkendali jika permintaan pada Juni tidak terlalu tinggi.

Sebab, kebutuhan Lebaran telah dipenuhi pada April dan Mei. Karena itu, neraca dagang pada kuartal II masih berpotensi surplus. ’

’Ya, kami masih bisa usaha keras supaya dalam jangka pendek ini bisa ke arah sana (surplus, Red),’’ kata Darmin, Jumat (19/4).

Darmin mengakui masalah neraca dagang memang masih menjadi persoalan bagi perekonomian Indonesia ke depannya.

Penyebabnya bukan hanya impor yang meningkat, melainkan juga ekspor yang tumbuhnya cenderung lambat.

“Karena itu, kunci kita itu bukan di impornya saja, melainkan ekspor, ekspor, ekspor,’’ tegas mantan gubernur Bank Indonesia (BI) tersebut.

Ekonom BCA David Sumual menuturkan, pemerintahan baru selanjutnya harus memiliki strategi yang berfokus pada ekspor.

’’Harus punya solusi konkret bagaimana misalnya mengatasi hambatan ekspor kelapa sawit. Kemudian, bagaimana meningkatkan ekspor barang manufaktur saat net export kita turun karena harga komoditas yang anjlok,’’ tuturnya.

Menurut dia, tantangan ekspor Indonesia adalah persaingan dengan produk alas kaki dari Bangladesh dan Pakistan.

Dua negara tersebut unggul dari sisi gaji buruh yang seperempat kali gaji buruh alas kaki di Indonesia.

Kemudian, untuk ekspor barang teknologi seperti cip, Indonesia bersaing dengan Vietnam dari sisi kemudahan berinvestasi.

Karena itu, jika ingin mendapat solusi jangka panjang untuk ekspor, pemerintah nanti harus mencari jalan untuk meningkatkan kemudahan berinvestasi, khususnya bagi investor yang berorientasi ekspor. (rin/c14/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemerintah Kaji Hubungan dengan Negara yang Dukung Diskriminasi Uni Eropa soal Kelapa Sawit


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler