Manfaatkan Bonus Demografi, Ketua MPR Ajak Pemuda Tingkatkan Kualitas

Webinar Nasional Peluang dan Tantangan Pemuda Menuju Era 5.0*

Minggu, 21 Februari 2021 – 18:11 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Foto: Humas MPR RI.

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mengatakan berdasar Survei Sosial Ekonomi Nasional Tahun 2020 yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pemuda Indonesia dengan rentang usia 16-30 tahun diperkirakan 64,5 juta jiwa, atau hampir seperempat dari total penduduk Indonesia.

"Seberapa jauh jumlah tersebut berkontribusi pada upaya membangun dan memajukan bangsa akan sangat tergantung pada tingkat kompetensi dan kualitas pemuda sebagai sumber daya pembangunan," ujar Bamsoet dalam webinar nasional “Peluang dan Tantangan Pemuda Menuju Era 5.0” yang digelar Universitas IVET Semarang secara virtual, Minggu (21/2).

BACA JUGA: Rasio Utang Luar Negeri RI Meningkat, Syarief Pertanyakan Komitmen Kebijakan Pemerintah

Ketua ke-20 DPR RI ini menjelaskan dari aspek latar belakang pendidikan, sebagian besar pemuda Indonesia atau 74,18 persen merupakan lulusan SMA dan SMP. Perinciannya, sebanyak 38,77 persen lulusan SMA/sederajat dan 35,41 persen lulusan SMP/sederajat.

Pemuda yang menyelesaikan pendidikan hingga perguruan tinggi hanya sebesar 10,36 persen.

BACA JUGA: Bu Risma dan Kemensos Respons Cepat Bencana Banjir DKI Jakarta

Kemduian, sekitar 11,97 persen pemuda hanya tamat SD/sederajat.

Sisanya 3,49 persen tidak tamat SD atau belum pernah sekolah.

BACA JUGA: Bonus Demografi Akan Membantu Sektor Swasta Menyerap Tenaga Kerja Baru

Ia menambahkan dari besarnya jumlah penduduk usia muda di Indonesia, ternyata potensi ekonomi dan ketenagakerjaan pemuda yang diukur berdasarkan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) juga belum optimal.

“TPAK pemuda Indonesia pada tahun 2020 sebesar 61,31 persen atau mengalami penurunan jika dibandingkan TPAK pada tahun 2019 sebesar 61,96 persen," jelas Bamsoet.

Ketua umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menerangkan pada 2020 BPS juga mencatat tingkat pengangguran terbuka pemuda Indonesia 15,23 persen.

Artinya, dari setiap 100 angkatan kerja pemuda, terdapat sekitar 15 pemuda yang tidak atau belum bekerja.

“Dengan melihat profil dan wajah statistik pemuda Indonesia tersebut, harus kita akui bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” katanya.

Menurutnya, peningkatan kompetensi pemuda sebagai sumber daya pembangunan adalah prioritas utama.

“Mengingat seiring laju perkembangan zaman, tantangan ke depan akan makin kompleks dan dinamis," terang Bamsoet.

Wakil ketua umum Pemuda Pancasila ini menambahkan nilai kemanfaatan bonus demografi hanya dapat dioptimalkan apabila terpenuhi dua prasyarat.

Pertama, jumlah usia produktif merupakan sumber daya yang berkualitas.

Kedua, adanya ketersediaan lapangan pekerjaan yang memadai dan mampu menyerap tenaga kerja yang berlimpah.

"Bonus demografi adalah sebuah momen langka dalam perjalanan hidup sebuah bangsa. Kecil kemungkinannya untuk dapat terulang kembali dalam periode waktu yang singkat. Karena itu bonus demografi harus dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin," pungkas Bamsoet. (*/jpnn)

 

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler