Mantap, PLN Bantu Pelatihan Pembuatan Bahan Bakar dari Sampah Biomassa di Ende

Selasa, 16 November 2021 – 22:47 WIB
Sekjen ISSF Nurul Iman bersama tim melakukan observasi pembuatan kompor pelet dan diskusi dengan Kepala Sekolah SMKN 2 Ende. Foto: Ist for JPNN.com.

jpnn.com, ENDE - PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja sama dengan Forum Keberlanjutan Sosial Indonesia atau Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF).

Kerja sama dilakukan dalam rangka evaluasi implementasi program Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS).

BACA JUGA: PLN Uji Jalan Mobil Listrik, Tempuh 72 Km Hanya Rogoh Gocek Rp 10 Ribu

Menurut General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Timur Agustinus Jatmiko, pihaknya telah menyalurkan dana program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) 2020 sebesar Rp 480.555.000.

Anggaran tersebut digunakan untuk kegiatan pelatihan pembuatan bahan bakar dari hasil olahan sampah biomassa (pelet).

BACA JUGA: Muhadjir Khawatir Angka Kematian Ibu dan Bayi Makin Meningkat

Kemudian, pembangunan shelter TOSS dan peralatan pengolahan sampah menjadi pelet.

“Untuk mengukur kinerja dan dampak dari program tersebut, 2021 ini tim ISSF melakukan pengukuran dan perhitungan SROI (Social Return On Investment) dan IKM (Indeks Kepuasan Masyarakat)," ujar Jatmiko, dalam keterangannya, Selasa (16/11).

BACA JUGA: Pak Anies, Ada Kritikan Nih dari PDIP Soal Pembangunan Rumah Susun

Menurut Jatmiko, program TOSS merupakan salah satu inovasi Bupati Ende dengan semboyan 'Dari Ende Flores untuk Indonesia'.

Program tersebut mengolah sampah organik (biomassa) menjadi pelet untuk bahan bakar energi kerakyatan dan co-firing PLTU Ropa.

"Sedangkan pengelolaan dan pengolahan sampah anorganik dilakukan oleh ACIL (Anak Cinta Lingkungan) Ende menjadi beberapa produk seperti paving blok, meja tamu, sofa dan beberapa produk kreatif lainnya," ucap Jatmiko.

Jatmiko lebih lajut mengatakan program TOSS Ende dalam implementasinya telah mendorong peningkatan sirkuler ekonomi masyarakat dari lahirnya usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) pengelolaan sampah menjadi pelet.

Dengan demikian, tercipta lapangan kerja baru di masyarakat yang berdampak pada meningkatnya kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat.

Hal ini mendukung tujuan pembangunan nasional berkelanjutan yang dicanangkan pemerintah yang biasa disebut Sustainable Development Goals (SDGs).

Sementara itu, Sekretaris Jenderal ISSF Nurul Iman menyebut kehadirannya bersama tim di Ende untuk mengevaluasi pengelolaan sampah menjadi energi dengan istilah TOSS yang merupakan bagian dari implementasi program Creating Share Value (CSV) yang telah dilaksanakan PLN pada 2020.

Tim yang turun ke Ende melakukan kunjungan lapangan kepada pemangku kepentingan terkait program TOSS terutama penerima manfaat.

Antara lain, SMK Negeri 2 Ende, Dinas Lingkungan Hidup Ende, masyarakat pembuat pelet dan pengguna pelet.

Kemudian, organisasi ACIL Ende, Keuskupan Agung Ende, PLTU Ropa serta BUMDes Keliwumbu serta kelompok perajin tembikar yang memproduksi kompor pelet dari tanah liat di Desa Wolotolo Kabupaten Ende.

“Dari hasil pengamatan dan diskusi dengan penerima manfaat, kami mendapatkan informasi yang dapat dijadikan sebagai sumber bagi kami dalam mengevaluasi program," katanya.

Nurul Iman menyebut program pengelolaan sampah menjadi pelet yang sedang dilaksanakan saat ini di Ende merupakan sebuah program yang sangat baik.

Karena telah menciptakan mata rantai pengelolaan dari pengumpulan sampah sampai dengan pemanfaatan pelet menjadi energi kerakyatan.

"Hal baik yang sudah dilakukan ini perlu direplikasi oleh daerah lain karena manfaat program ini selain memberi solusi permasalahan sampah, juga memberi solusi masalah energi yang sudah menjadi permasalahan daerah, nasional bahkan dunia", pungkas Nurul Iman.(gir/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
PLN   pelatihan   Bahan Bakar   sampah   Biomassa  

Terpopuler