Mari Mengenal Sejarah Batik Indonesia

Senin, 19 Februari 2018 – 16:12 WIB
Muryawati, pemilik batik Sekar Kedaton saat menjelaskan motif batik pada Komunitas Perempuan Pelestari Budaya (KPPB) di Haris Suites FX Sudirman, Jakarta. Foto: Djainab Natalia Saroh/jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Komunitas Perempuan Pelestari Budaya (KPPB) menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian budaya Indoensia melalui edukasi tentang filosofi batik.

Menggandeng Haris Suites Fx Sudirman, KPPB menghadirkan Muryawati, pemilik batik langka Sekar Kedaton, baru-baru ini.

BACA JUGA: Keren! Oscar Lawalata Bakal Kenalkan Batik ke Paris

Dengan lugas, Muryawati menjelaskan tentang sejarah kain batik Indonesia.

Menurutnya, batik yang ada di Indonesia, khususnya pulau Jawa, seperti batik motif kawung, parang dan lainnya sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu.

BACA JUGA: Sepatu Berlapis Batik yang Trendi dan Elegan

"Itu terukir di arca arca-arca, di patung-patung Hindu ataupun Budha. Contohnya di candi induk Prambanan. Nah, ukiran di arca-arca itu ada di kain parang bertanda ceplok yang dipakai dewa,” jelasnya.

BACA JUGA: Melihat Perpaduan Kecantikan Batik dan Kemegahan Mercy

Komunitas Perempuan Pelestari Budaya (KPPB) bersama Muryawati saat berbagi ilmu tentang sejarah batik Indonesia.

Dari situlah, kata Muryawati, raja-raja di Pulau Jawa akhirnya membuat kain-kain untuk busananya dengan meniru apa yang dikenakan oleh para dewa.

Selain menjelaskan tentang sejarah batik, Muryawati juga menerangkan asal mula penggunaan nama batik.

Dia mengungkapkan, nama batik berasal dari kata 'hambatik/ambatik' yang artinya orang-orang yang pekerjaannya selalu membuat titik-titik.

"Kalau orang Belanda dulu bilangnya batex, tex itu dari kata tekstil dan wax. Tapi di sini kemudian yang dijadikan istilah baku adalah batik, karena selalu membuat titik-titik," jelas Muryawati sembari menunjukkan beberapa motif batik.

Masih menurut Muryawati, motif-motif batik itu memiliki beragam makna. Motif parang atau lereng misalnya, memiliki makna ajaran bagi seorang pemimpin, sedangkan motif nitik dan truntum melambangkan kasih sayang yang abadi.

Selain itu, kata Muryawati, ada pula motif lung yang bermakna keindahan, motif semen yang bermakna ajaran Hasto Broto dan motif pinggiran sebagai kelengkapan ritual lingkar atau daur hidup seseorang.

"Betapa indah dan luhurnya makna yang terkandung di balik setiap motof batik, dan ini penting untuk diketahui masyarakat termasuk generasi muda agar mereka tak hanya bangga mengenakan batik, tapi juga tahu fungsinya mengenakan batik," tandasnya.

Seperti diketahui, batik merupakan kain tradisional Indonesia ini suadh ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpiece of The oral and Intangible Heritage of Humanity) oleh UNESCO pada 2 Oktober 2009. (mg7/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dewi Sandra dan Filosfi Batik Cinta dari Semarang


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler