Masinton dan Brutus

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Minggu, 17 April 2022 – 17:37 WIB
Anggota DPR RI Fraksi PDIP Masinton Pasaribu. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Dalam setiap situasi genting selalu muncul ‘’unlikely hero’’, pahlawan yang tidak terduga. 

Dalam situasi kritis di sebuah titik sejarah muncul seorang Naga Bonar, pencopet yang menjadi pemimpin perlawanan melawan Belanda di Sumatera Utara. 

BACA JUGA: Masinton Pasaribu Bakal Didemo KNPI, Haris Mengendus Niat Buruk

Masyarakat Inggris mengenal Robin Hood, begal budiman yang membagi-bagikan hasil rampokannya untuk rakyat miskin.

Naga Bonar adalah tokoh fiktif hasil rekaan sutradara Asrul Sani yang membuat film layar lebar pada 1987. 

BACA JUGA: Aspirasi Ridwan Kamil The Next Presiden Muncul dari Timur Indonesia

Kisah itu diilhami oleh cerita nyata seorang preman bernama Timur Pane di Medan, yang kemudian menjadi pemimpin perjuangan yang sangat gigih melawan Belanda.

Timur Pane kemudian dikenang sebagai pahlawan budiman ketimbang preman tukang begal.

BACA JUGA: Masih Berpangkat Mayor, Luhut Sudah Diminta Pilih Senjata untuk Kopassus

Lanskap politik Indonesia beberapa waktu belakangan ini ramai oleh munculnya dua aktor politik dari Sumatera Utara. 

Luhut Binsar Panjaitan, tidak pelak, telah muncul sebagai lakon dalam drama politik wacana perpanjangan masa jabatan kepresidenan. 

Luhut ‘’the prime minister’’ atau setidaknya perdana menteri bayangan, telah menjadi ‘’villain’’ penjahat dalam lakon ini, karena dianggap berbohong dengan big data yang dicurigai sebagai bodong.

Aktor lainnya juga muncul dari Sumatera Utara. 

Dialah Masinton Pasaribu, salah satu anggota DPR dari PDIP, yang dengan lantang menuntut Luhut supaya mengundurkan diri. 

Masinton menganggap Luhut berbohong dengan big data yang menyatakan bahwa 110 juta pemilih Indonesia menghendaki Pemilu 2024 ditunda.

Selain Masinton ada juga ‘’the unlikely hero’’ lainnya, yaitu Ketua DPD (Dewan Perwakilan Daerah) La Nyalla Mahmud Mattalitti. 

Dia  juga dengan tegas menyebut big data Luhut bodong dan bohong. 

Beberapa waktu terakhir, La Nyalla menjadi salah satu tokoh yang paling gencar menolak wacana penundaan Pemilu 2024 dan perpanjang masa kepresidenan menjadi tiga periode.

Posisi La Nyalla sebagai Ketua Pemuda Pancasila (PP) Jawa Timur menjadikannya sebagai ‘’unlikely hero’’. 

Selama ini, La Nyalla sering disalahpahami sebagai ‘’ketua organisasi preman’’ karena aktivitasnya di PP. 

Namun, di tangan La Nyalla PP Jawa Timur bertransformasi menjadi organisasi yang aktif di berbagai kegiatan sosial, ekonomi, dan keagamaan.

La Nyalla secara resmi tidak berparpol meskipun dia sempat aktif di Partai Patriot bentukan Ketua PP Pusat Japto Soerjosoemarno. 

Meski begitu, dengan posisinya sebagai ketua DPD, dia mempunyai legitimasi yang kuat untuk menunjukkan keberpihakan politiknya menentang wacana penundaan pemilu.

La Nyalla tegas menyebut big data Luhut bohong. 

Namun, La Nyalla tidak meminta Luhut mundur karena, menurutnya, urusan reshuffle adalah prerogratif presiden. 

Beda dengan La Nyalla, Masinton dengan tegas menuntut Luhut supaya mundur dari kabinet.

Masinton bahkan tegas menyebut Luhut sebagai Brutus yang berpotensi mengkhianati kepemimpinan Presiden Joko Widodo. 

Isu Brutus di Istana Kepresidenan sudah sering kali muncul. 

Kali ini, isu Brutus muncul lagi seiring dengan menghangatnya temperatur politik. 

Muncul kecurigaan bahwa di sekitar Jokowi ada Brutus.

Dalam terminologi politik, sebutan Brutus disematkan kepada siapa saja yang melakukan pengkhianatan terhadap pemimpinnya. 

Dalam drama Julius Caesar karya William Shakespeare, digambarkan pemberontakan oleh orang sekitar istana yang akhirnya mengkhianati Caesar sang pemimpin tertinggi. 

Pada 44 Sebelum Masehi, Julius Caesar terbunuh oleh pengkhianatan orang-orang terdekatnya. 

Caesar tidak menyangka sahabat-sahabatnya ikut dalam komplotan konspirasi para senator dan menikamnya dari belakang.

Komplotan itu melibatkan Marcus Junius Brutus yang juga sahabat dekat dan orang kepercayaan Caesar. 

Beberapa senator dan legislator Romawi yang menamakan diri sebagai kelompok liberatores, atau para pembebas, juga tergabung dalam konspirasi untuk membunuh Caesar.

Konspirasi itu muncul dari kekhawatiran para senator terhadap kekuasan Julius Caesar yang makin besar. 

Nyaris tidak ada oposisi yang bisa menghalangi Caesar. 

Kemenangan demi kemenangan di berbagai front peperangan membuat Caesar makin digdaya dan kemudian mengangkat diri sebagai kaisar seumur hidup.

Brutus--yang sebelumnya pernah dimaafkan Julius Caesar karena memberontak bersama Pompey, musuh Caesar--dibujuk oleh para senator untuk ikut dalam plot untuk menyingkirkan Caesar. Brutus pun setuju untuk ikut dalam perencanaan kudeta.

Senat kemudian membuat undangan kepada Caesar untuk hadir dalam rapat besar. 

Kematian Julius Caesar ditentukan ketika dia menerima undangan Senat. 

Istri Julius Caesar, Calpurnia, melarang Caesar untuk menghadiri undangan itu karena mencium aroma pemberontakan. Namun, Caesar memutuskan menghadiri undangan Senat.

Brutus bersama anggota Senat yang sudah menyiapkan plot, menikam Julius Caesar puluhan kali di tengah sidang. 

Kemudian jasad Caesar dibakar supaya rakyat tidak bisa mengenali jenazahnya. 

Kekuasaan Caesar yang seolah tanpa tanding berakhir dengan tragis di tangan orang-orang kepercayaannya sendiri.

Sejak itu, Brutus dijadikan simbol untuk para pengkhianat politik dan konspirator yang berupaya menggulingkan teman atau pemimpin sendiri.

Kisah pengkhianatan Brutus sering disejajarkan dengan pengkhianatan Judas Iskariot terhadap Nabi Isa atau Yesus. 

Para pengkhianat akhirnya bernasib buruk. Brutus dan Judas sama-sama mengakiri hidupnya dengan bunuh diri.

Drama ala Caesar terjadi Indonesia pada masa Reformasi 1998. Presiden Soeharto adalah ‘’The Real Caesar’’. 

Soeharto bukan presiden, dia adalah raja, dia adalah kaisar. 

Semua kekuasaan ada di tangannya. 

Dia bisa menjadikan dirinya sebagai presiden seumur hidup kalau dia mau.

Namun, kemudian situasi berbalik. Kekecewaan rakyat tidak tampak di permukaan, karena para pembantunya menyembunyikan semuanya dengan rapi. 

Soeharto merasa dirinya adalah emperor yang mengenakan busana kebesaran terbaik dan termegah, padahal sebenarnya sang emperor tengah telanjang. 

Itulah gambaran kisah ‘’The Emperor’s New Clothes’’. 

Para penjilat di sekitar sang kaisar memuja-muji setiap hari sehingga sang kaisar tidak menyadari ada api dalam sekam yang setiap saat siap meledak. 

Akhirnya sekam benar-benar terbakar, dan sang emperor terlambat menyadari, sampai akhirnya para penjilat di sekitarnya meninggalkannya sendirian. 

Para pembantu yang selama ini dianggap sebagai orang-orang yang setia, satu persatu menjadi Brutus yang mengkhianati Soeharto.

Episode Soeharto tidak mustahil akan berulang. 

L’histoire se Repete, sejarah selalu mengulangi dirinya karena manusia tidak pintar belajar dari sejarah. 

Satu-satunya yang kita pelajari dari sejarah adalah bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah. Begitu kata Hegel.

Jokowi tidak tegas menolak wacana penundaan pemilu dan perpanjangan tiga periode. 

Karena itu, dia berhadap-hadapan secara diametral dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang sudah memberinya tiket kepresidenan dua periode. 

PDIP tegas menolak wacana perpanjangan jabatan kepresidenan.

Sementara ini pertarungan masih terjadi dalam bentuk perang dingin. 

PDIP tidak meyerang Jokowi secara langsung. 

Yang menjadi sasaran tembak sekarang adalah Luhut The Prime Minister, tetapi cepat atau lambat, eskalasi akan makin meningkat, dan perang terbuka tidak terhindarkan.

The show down, perang terbuka, antara Jokowi melawan PDIP tidak terhindarkan. 

Siapa mengkhianati siapa. Itulah pertanyaannya. 

Pada saatnya, kedua kubu harus memilih dan membuat keputusan. To be or not to be, that’s the question, kata Shakespeare.

Dalam setiap episode politik selalu ada Brutus. 

Pun dalam sejarah politik Indonesia di era Jokowi sekarang, banyak Brutus bermunculan, datang dan pergi. 

Siapa yang menjadi Brutus sulit diterka sebelum cerita berakhir.

Nanti di akhir episode akan terungkap. 

Ketika Caesar meregang nyawa dan baru menyadari bahwa Brutus telah bersekongkol dengan beberapa senator dan menikamnya dari belakang puluhan kali.  

Ketika sekarat dan menarik nafas terakhir Caesar kaget melihat Brutus, lalu berkata, "Et tu, Brute?", Bahkan, engkau juga, Brutus? (*)

 

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler