Masinton: Pernyataan Provokatif Pak Amien Rais Merusak Bangunan Kebangsaan

Kamis, 23 Mei 2019 – 15:01 WIB
Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/8). Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi III DPR RI dan juga sebagai Anggota MPR RI, Masinton Pasaribu mengutuk pernyataan mantan Ketua MPR RI Amien Rais yang membuat pernyataan provokatif, mendiskreditkan institusi Kepolisian RI sebagai PKI dan mengobarkan sentimen politik identitas agama.

Menurut Masinton, pernyataan provokatif Pak Amin Rais sudah ke luar dari koridor kebebasan berpendapat yang dijamin dan dilindungi oleh konstitusi. “Pernyataan provokatif Pak Amien Rais sudah merusak bangunan dasar kebangsaan dan kenegaraan kita,” tegas Masinton dalam pernyataan persnya, Kamis (23/5).

BACA JUGA: IPW: Publik Layak Tahu Ambulans dari Partai Mana yang Menyuplai Batu Buat Demonstran

BACA JUGA: Anton Doni Imbau Jangan Lagi Mengedepankan Narasi Provokatif

Masinton mengingatkan sesengit apa pun dinamika politik berdemokrasi, namun elite bangsa harus bisa menahan diri dari pernyataan provokatif, apalagi hingga mengobarkan politik identitas SARA (suku, agama, ras dan antar golongan).

BACA JUGA: Sisa Kerusuhan 22 Mei: Pos Polisi Sabang Hangus Terbakar

“Urusan pemilu tidak ada kaitan dengan satu golongan politik agama. Semua kontestan pasangan calon didukung oleh koalisi partai politik yang berbasis agama Islam. Paslon 01 didukung oleh PPP dan PKB, Paslon 02 diusung oleh PKS dan PAN,” kata politikus PDI Perjuangan ini.

Oleh karena itu, Masinton mendesak Amin Rais segera mencabut pernyataan provokatifnya yang viral di berbagai media sosial dan media massa.

BACA JUGA: Begini Penampakan Situasi di Depan Bawaslu Setelah Kerusuhan 22 Mei

Sebagai bagian dari generasi aktivis mahasiswa 98, Masinto mengatakan saat berdemonstrasi memperjuangkan reformasi tahun 1998 di jalanan selalu berhadapan dengan pasukan ABRI (sekarang TNI dan Polri, red) pernah merasakan represifitas petugas ABRI ketika menghalau gerakan protes demonstrasi mahasiswa di jalanan tahun 1998.

Masinton juga merasakan kerasnya pentungan, tembakan gas air mata, semprotan water canon, peluru hampa hingga peluru tajam. Banyak korban masyarkat dan mahasiswa yang luka dan tertembak, bahkan meninggal dunia dalam tragedi Trisakti, Semanggi I dan Semanggi II.

“Namun penyikapan kami atas penanganan unjuk rasa oleh ABRI yang represif saat itu tidak pernah mengumbar pernyataan untuk mendiskreditkan institusi ABRI sebagai PKI, apalagi hingga mengumbar pernyataan politik provokatif dan mengobarkan sentimen berbau SARA,” kata Masinton mengingatkan.

Menurut Masinton, peristiwa protes di Bawaslu tanggal 21-22 Mei 2019 tidak ada kaitan dengan kelompok agama tertentu. Polisi bertindak mengamankan para penyusup yang dimobilisasi dari luar Jakarta untuk memanfaatkan aksi protes massa di Bawaslu dengan target menciptakan kerusuhan di ibu kota Jakarta.(fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... KWI Ajak Masyarakat Jaga Kerukunan Dalam Perbedaan


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler