Memprakarsai Kedaulatan Pangan Daging Sapi, PDIP Tawarkan Metode Revolusi Pakan dan Nutrisi

Kamis, 14 Juli 2022 – 20:47 WIB
DPP PDIP lewat Program Gelora Indonesia Berdaulat di Bidang Pangan mendorong pengembangan peternakan sapi rakyat. Sejumlah periset menyampaikan hasil temuan dalam Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan secara hybid dengan tema "Penggemukan Sapi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan", Kamis (14/7). Foto: DPP PDIP.

jpnn.com, JAKARTA - Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPP PDIP) lewat Program Gelora Indonesia Berdaulat di Bidang Pangan mendorong pengembangan peternakan sapi rakyat.  Temuan riset yang ditawarkan adalah revolusi pakan atau nutrisi sapinya.

Dr. David, salah satu periset di Laboratorium Ekonomi Gotong-Royong/Sekolah Lapang Pertanian DPP PDIP di Kecamatan Cariu, Jawa Barat, menjelaskan pihaknya sudah melakukan riset sejak 2016.

BACA JUGA: PDIP Bilang Anies Kalah di PTUN soal UMP Karena Tidak Mampu

Riset bertujuan agar bisa menemukan daging sapi merah, tak berbau, lemaknya tipis dengan total lemak 2 persen, karakternya marbling, dan proteinnya dinaikkan serta kolesterol diturunkan.

"Sehingga gula darah serta kolesterol turun, kotorannya tidak berbau; intinya menghasilkan daging yang berkualitas tinggi," kata David dalam siaran pers, Kamis (14/7). 

BACA JUGA: Pulang Kampung, Teco Pastikan Terus Kawal Latihan Skuad Bali United dari Brasil

Pihaknya lalu melakukan berbagai percobaan dan akhirnya berhasil menemukan aplikasi teknologi serta cara yang bisa menghasilkan produk lebih baik dengan biaya yang minim, sehingga secara ekonomis, bisa dijalankan oleh siapa pun.

"Dengan bibit sapi Bali, kami melakukan treatment teknologi nurisi pakan sapi. Kotorannya bahkan tak perlu diaplikasikan apa-apa lagi karena langsung bisa menjadi pupuk yang sangat bagus untuk tanaman. Kami sudah ujicobakan ke tanaman padi di Pemalang," urai David.

BACA JUGA: Lewat Sapi Bali, PDIP Ingin Pangan Indonesia Berdaulat

Lewat aplikasi nutrisi, pihaknya juga berhasil menemukan cara bagaimana dengan sapi yang berumur 9 tahun bisa melahirkan dalam waktu 7 bulanan saja. Padahal yang biasa, breeding bisa memakan waktu 9 bulanan.

Pihaknya juga sudah melakukan uji coba untuk penggemukan sapi dengan aplikasi nutrisi tersebut dan hasilnya juga sangat baik.

"Kotorannya juga tak berbau, sehingga tak perlu takut menganggu tetangga,” kata David. 

Pihaknya mendorong agar kotoran diproses berbentuk briket atau pelet sebelum dijadikan pupuk tanaman. “Dengan cara ini, beternak tak perlu lama, baik breeding, penggemukan, sehingga kedaulatan pangan bisa berlanjut," ungkap David.

Drh. Ganis Harsanto Ahmadiningrat, periset yang juga Dewan Penashat Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia menyatakan riset lapangan menunjukkan bahwa semuanya mungkin jika riset dan kegiatan inovasi yang cermat dan sungguh-sungguh.

Menurut Ganis, lewat formulasi pakan yang tak biasa, ternyata bisa ketemu waktu penggemukan lebih pendek dengan volume daging lebih padat,  sehingga kualitas produksi dan biaya menjadi lebih rendah.

Prosedurnya juga tak rumit, sehingga bisa diduplikasi di banyak tempat.

"Kami menemukan bahwa masa bunting sapi bisa diperpendek dengan revolusi pakan. Ini revolusioner dan mampu kita lakukan untuk memperbanyak dan melipatgandakan hasil daging," kata Ganis.

"Bagi kami hal ini akan sangat membantu Indonesia dalam menghadapi misalnya masalah stunting yang berkaitan dengan masalah pangan," pungkasnya.

David dan Ganis menyampaikannya dalam Forum Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan secara hybid dengan tema "Penggemukan Sapi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan", Kamis (14/7). 

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengikuti acara tersebut secara daring. Sekjen PDIP Hasto Kristiyanyo hadir di kantor DPP PDIP di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, bersama Wabendum Rudianto Tjen, dan para ketua DPP PDIP, di antaranya, Mindo Sianipar, Ahmad Basarah, dan Wiryanti Sukamdani.

Hasto Kristiyanto mengatakan temuan ini merupakan salah satu program konkret yang ditawarkan PDIP, sebagai wujud partainya membawa solusi untuk rakyat. Pada Iduladha lalu, daging sapi Bali hasil temuan pihaknya itu sudah diujicobakan.

"Chef sudah mengolah daging sapi Bali ini, dan ternyata hasilnya luar biasa gurih. Untuk yang usia berumur, dipastikan makan daging hasil olahan ini takkan sakit giginya. Urat dagingnya juga bagus," kata Hasto.

Pihaknya berharap bahwa gerakan yang diprakarsai PDIP ini bisa mendorong semua pihak untuk secara serentak mengembangkan peternakan berbasis bibit lokal.

"Jangan sampai nanti keunggulan bibit sapi lokal ini diambil oleh Australia, misalnya, dan mereka kembangkan di sana," ujar Hasto.

Mindo Sianipar mengatakan pihaknya akan mendorong setidaknya ada lima kepala daerah yang segera menindaklanjuti hal ini dengan membuat program percontohan.

“Kami ingin agar sapi Bali bisa going global. Kami siapkan agar setidaknya segera ada lima daerah percontohan oleh kepala daerah dari PDI Perjuangan," kata Mindo Sianipar. (boy/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler