Menaker Hanif Siapkan 3 Strategi Transformasi bagi Industri

Kamis, 15 November 2018 – 18:01 WIB
Menaker Hanif Dhakiri saat menghadiri Diskusi Tempo Economic Briefing bertajuk "Meningkatkan Daya Saing Indonesia Dengan Revolusi Industri 4.0" di Jakarta, Kamis (15/11). Foto: Humas Kemnaker

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M Hanif Dhakiri meminta masyarakat tidak perlu takut dengan revolusi industri 4.0. Pasalnya, mulai revolusi industri pertama hingga ketiga, manusia tetap bisa bertahan.

"Kita tidak perlu takut dengan revolusi industri generasi keempat. Yang penting, kita semua bisa menyesuaikan diri, termasuk juga dunia industri," kata Hanif saat menghadiri Diskusi Tempo Economic Briefing bertajuk "Meningkatkan Daya Saing Indonesia Dengan Revolusi Industri 4.0" di Jakarta, Kamis (15/11).

BACA JUGA: Hadapi Ekonomi Digital, Generasi Muda Harus Pahami Ini

Hanif mengatakan pemerintah telah menyiapkan tiga strategi transformasi bagi industri dalam menghadapi revolusi industri keempat. "Pertama Industry Transformation Strategy. Strategi ini bertujuan agar industri tidak mengalami industries shock maupun manpower shock karena adanya perubahan model bisnis," tutur Hanif.

Kedua adalah Future Jobs. Seiring perkembangan model bisnis, kata Hanif, ada beberapa pekerjaan yang akan hilang, namun di sisi lain juga akan lahir jenis-jenis pekerjaan baru.

BACA JUGA: Tingkatkan Kinerja Kementerian, Hanif Lantik Pejabat Baru

"Yang ketiga adalah Manpower planning. Dengan adanya perubahan jenis pekerjaan, maka skill yang dibutuhkan juga akan berubah. Sehingga harus ada pemetaan terkait skill apa yang akan dibutuhkan dan tidak dibutuhkan lagi," ucap Hanif.

Hanif melanjutkan, saat ini pemerintah juga telah menyiapkan program untuk meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) guna menghadapi revolusi industri keempat.

BACA JUGA: Menaker Berharap Siswa BLK Semarang Ikut Kompetisi Fashion

"Untuk menjawab revolusi industri keempat pemerintah memiliki tiga langkah strategis terkait pengembanganan SDM. Pertama, meningkatkan link and match antara supply and demand SDM. Kedua, masifikasi pelatihan kerja dan sertifikasi profesi. Ketiga, pemagangan berbasis jabatan," ujar Hanif.

Agar program tersebut bisa berjalan, Hanif meminta seluruh stakeholder terkait ikut mendukung sehingga bangsa ini bisa bertahan dalam menghadapi revolusi industri keempat.

"Pemerintah tidak bisa sendiri. Pemerintah harus bersama-sama dengan dunia usaha, teman-teman serikat pekerja, dan elemen masyarakat sipil lainnya," ujarnya.

Senada dengan Hanif, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi SDM. "Bukan bagaimana membeli teknologi tapi mendidik manusianya. Teknologi bisa dibeli, SDM tidak bisa dibeli. Inti perubahan adalah SDM. Makanya pemerintah akan fokus membangun kualitas SDM sambil membangun industrinya," ungkap JK.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, mengatakan revolusi industri keempat merupakan peluang bagi Indonesia untuk melangkah ke depan.

"Revolusi Industri 4.0 merupakan intrumen bagi Indonesia untuk meloncat lebih tinggi. Tentunya tanpa melupakan revolusi industri 1, 2, dan 3. Semua harus berjalan secara paralel," kata Hartarto.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 2.513 Siswa BLK Semarang Dapat Sertifikat Kompetensi Kerja


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler