Menakjubkan, Gunung Agung Berpayung Awan, Semoga Pertanda Baik

Sabtu, 23 Mei 2020 – 02:02 WIB
Bentukan awan Lenticularis menyelimuti puncak Gunung Agung, Karangasem, Bali, Jumat (22/5). Foto: AGUS EKA PURNA NEGARA/BALI EXPRESS

jpnn.com, AMLAPURA - Awan tebal mirip seperti payung menutupi sekeliling puncak Gunung Agung, Karangasem, Jumat (22/5).

Fenomena menakjubkan ini dinilai sebagai pertanda baik bagi masyarakat Bali.

BACA JUGA: Gunung Agung Meletus, Semburkan Lava Pijar Sejauh 3 Km

Bendesa Adat Besakih, Kecamatan Rendang, Jro Mangku Widiartha pernah mendengar penuturan para tetua tentang fenomena awan yang disebut awan Lenticularis itu.

Menurut kepercayaan masyarakat, fenomena Lenticularis merupakan tanda bahwa masyarakat bakal mendapat anugerah atau perlindungan.

BACA JUGA: Gunung Agung Kembali Erupsi, Bali Tetap Aman

"Jika fenomena ini dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat Bali, jelas kita terlindungi. Bagaimana Ida Bhatara yang berstana di puncak Giri Tohlangkir seakan melindungi. Payung ibarat melindungi dari panas dan hujan, kita mendapat anugerah-Nya," ucap Widiartha dilansir Bali Express.

Menurutnya, segala sesuatu apa pun, hendaknya selalu dinilai dengan pikiran positif. Terkait fenomena serupa, Widiartha menuturkan awan Lenticularis pernah muncul 19 Maret 2009, saat upacara Agung Panca Balikrama di Pura Agung Besakih berlangsung.

BACA JUGA: Perang Antarormas Pecah di Bekasi, 4 Mobil Dibakar, Mencekam!

"Saat itu, kami percaya, apa pun yang terjadi akan baik buat masyarakat," tegasnya.

Awan Lenticularis muncul sejak pagi dan berlangsung beberapa jam. Bahkan sesuai rilis pos pengamatan Gunung Agung, awan payung masih teramati hingga pukul 11.47 Wita.

Menurut Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar Imam Faturahman, awan Lenticularis merupakan pertanda adanya gelombang gunung.

Awan ini mulai terbentuk ketika arus angin yang mengalir sejajar, mendapat hambatan dari objek tertentu seperti pegunungan. 

Akibat hambatan tersebut, arus udara bergerak naik secara vertikal menuju puncak awan. Jika udara naik tersebut mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung, uap air mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung.

"Saat udara tersebut melewati puncak gunung dan bergerak turun, proses kondensasi terhenti. Inilah mengapa awan Lenticularis terlihat diam karena awan mulai terbentuk dari sisi arah datangnya angin di puncak gunung, kemudian menghilang di sisi turunnya angin," jelas Imam.

Imam menyebut, suhu awan tersebut mencapai 0 -1 derajat celcius. Meski begitu, keberadaan awan itu tidak berdampak buruk bagi masyarakat sekitar lingkaran gunung. Hanya saja, awan ini akan sangat berbahaya bagi para pendaki.

"Gelombang gunung ini juga dapat menyebabkan terbentuknya turbulensi yang berbahaya bagi penerbangan," pungkas Imam. (bx/aka/man/JPR)

 


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler