Menaruh Boneka Seram di Depan Rumah Dipercaya Bisa Menolak Covid-19

Jumat, 16 Juli 2021 – 22:45 WIB
Salah seorang warga membuat boneka dari barang bekas sebagai penolak bala Covid-19. Foto: Muhammad Sidkin Ali/Radar Jember

jpnn.com, LUMAJANG - Warga Dusun Biting, Desa Kutorenon, Kecamatan Sukodono, Lumajang, Jawa Timur punya cara tersendiri menyikapi pagebluk Covid-19.

Mereka beramai-ramai membuat boneka dari barang bekas, kemudian diletakkan di depan rumah. Banyak yang percaya, boneka tersebut bisa menolak bala di masa pandemi Covid-19 ini.

BACA JUGA: Lumajang Jadi Lokasi Pengembangan Wilayah Terpadu Berbasis Hutan Sosial

Sumali, salah satu warga setempat, mengungkapkan, boneka tersebut dipasang sejak Jumat lalu.

Warga serentak membuat boneka setelah melakukan salat dan doa tolak bala, serta mengadakan kegiatan keagamaan lainnya.

BACA JUGA: Sering Membantu Penanganan COVID-19, Korea Selatan Minta Warganya Diizinkan Masuk Indonesia

“Kamis malam, kami bersama-sama salat dan berdoa di masjid. Pagi harinya, kami bersama-sama membuat boneka seperti ini,” ujarnya, seperti dilansir dari Radar Jember, Jumat (16/7).

Boneka tersebut mirip orang-orangan sawah. Tampak seram

BACA JUGA: Alat Berat Mulai Dikerahkan Menggali Lubang Makam untuk Jenazah Covid-19

Jika orang-orangan sawah diletakkan di tengah sawah untuk mengusir hama, maka di depan rumah untuk mengusir corona.

Sumali mengatakan, pembuatan boneka tersebut tidak sulit. Sebab, hanya membutuhkan sejumlah barang bekas.

"Bisa dengan pakaian bekas, kayu, atau barang bekas lainnya. Tidak ada ketentuan khusus,” tambahnya.

Husni, tokoh agama setempat, menjelaskan, awalnya masyarakat menganggap hal tersebut bertentangan dengan keyakinan agama.

Namun, itu seperti budaya masyarakat masa lalu saat menghadapi pagebluk.

"Kalau tahun 1960-an, orang zaman dulu juga membuat penangkal pagebluk. Dulu lebih ekstrem. Bonekanya juga terbuat dari bahan-bahan khusus. Air dalam ember juga diberi bunga-bunga. Kalau sekarang ini, masyarakat membuat dari bahan seadanya," katanya.

"Ini hanya bagian dari cara saja. Ikhtiar, tetap berdoa dan menjaga diri, masih yang utama,” imbuhnya.

Dia mengaku sempat didatangi kepala desa hingga Kapolsek Sukodono yang meminta untuk menarik atau menurunkan boneka tersebut.

Sebab, letaknya di dekat jalan dapat membuat orang lain ketakutan saat melintas. Terutama saat malam hari.

"Kalau saya, silakan saja. Bahkan saya menawarkan untuk mengumumkan di masjid bahwa boneka tersebut diminta Pak Kades untuk diambil lagi. Namun, akhirnya tidak jadi. Pak Kades tidak mau memberi perintah seperti itu kepada warga,” pungkasnya. (msidkinali/rj)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler