Mencari Solusi dari Meluasnya Jejak Beracun Asap Rokok

Kamis, 02 Mei 2019 – 15:09 WIB
Rokok dan asbak. Foto/ilustrasi: Ayatollah Antoni/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Dokter spesialis paru-paru Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospital Semanggi Sita Laksmi Andarini menjelaskan, perokok aktif akan menghirup asap rokok dalam saluran pernapasan.

Di sisi lain, perokok pasif menghirup sisa residu asap rokok bahkan dengan partikel yang lebih kecil.

BACA JUGA: Yuk, Berhenti Merokok Secara Bertahap

“Hal tersebut dapat langsung masuk pada pembuluh darah dan jaringan tubuh lainnya. Hal ini dapat meningkatkan risiko penyakit sistemik bagi para perokok pasif,” kata Sita beberapa waktu lalu.

Kencana Indrishwari adalah contoh perokok pasif. Meskipun seumur hidupnya tidak pernah merokok, dia menghabiskan waktu sehari-harinya dalam lingkungan perokok.

BACA JUGA: Awas, Merokok Bisa Picu Kanker Testis

Kejadian yang tak dapat dilupakannya adalah saat dilarikan ke rumah sakit karena kekurangan oksigen akibat batuk.

Namun, batuknya ini tak kunjung sembuh. Pada 2013, dokter menyatakan bahwa asap rokok telah berdampak pada jantungnya.

BACA JUGA: Kebiasaan Merokok Ayah juga Beri Efek Negatif untuk Anak dan Cucu

“Setelah sepuluh tahun terpapar dengan asap rokok, barulah saya sadar bahwa asap rokok merupakan penyebab dari seluruh masalah kesehatan saya,” jelas Kencana.

Sejak saat itu Kencana secara aktif berkampanye untuk perlindungan perokok pasif, terutama wanita.

Dia membangun Jaringan Perempuan Peduli Pengendalian Tembakau (JP3T) dan Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia (AMKRI), grup yang ada di belakang kampanye #MelawanRokok.

Meluasnya jejak beracun dari asap rokok hingga third-hand smokers tidak hanya bagi para second-hand smokers.

Fenomena terbaru yang ditemukan dari bahaya rokok tembakau adalah banyaknya bermunculan third-hand smoker yang terpapar dari gas beracun dan partikel-partikel lainnya yang tertinggal lama dari aktivititas rokok pada permukaan-permukaan tertentu seperti dinding rumah.

Studi yang dilakukan oleh Universitas San Diego pada 2011 mengobservasi 25 rumah dari perokok yang lalu dihuni oleh penghuni non-perokok yang pindah ke rumah yang sama.

Setelah tiga bulan menghuni, peneliti menemukan pada jari dari urin anak-anak para penghuni baru terdapat residu dari partikel asap rokok.

Ternyata residu masih dapat terhirup walau sudah tidak ada aktivitas rokok di dalam rumah tersebut.

Pemimpin utama pada studi itu George Matt mengatakan bahwa masyarakat harus melindungi secondhand dan third hand smoker dari dampak buruk asap rokok bahkan jejak partikel yang ditinggalkannya melalui berbagai solusi.

Dia melanjutkan bahwa solusi terbaik adalah dengan berhenti merokok. Namun, bila hal tersebut sulit untuk dilakukan, dia meminta semua pihak untuk dapat mencari cara lain.

Berhenti merokok merupakan proses yang sangat sulit. Namun, sangat penting ketika ingin melindungi kesehatan anak bangsa.

Berbagai langkah telah diambil oleh perokok individu, praktisi kesehatan, dan pemerintah untuk membantu perokok berhenti. Namun, tampaknya tidak ada yang cukup efektif.

Banyak penelitian telah mencari solusi untuk mengurangi jejak beracun dari asap rokok tembakau.

Para peneliti mulai mencari kemungkinan produk-produk alternatif yang dapat membantu perokok untuk berhenti serta mengurangi jejak beracun yang disebabkan oleh merokok.

Misalnya, rokok elektrik dan vape atau yang juga dikenal sebagai Electronic Nicotine Delivery Systems (ENDS).

Ada pula penelitian yang menunjukkan ENDS menjadi pilihan yang layak bagi para perokok untuk mengurangi bahaya yang ditimbulkan dari aktivitas merokok yang sulit untuk dihentikan.

Penelitian-penelitian semacam itu dapat memperkuat anggapan bahwa produk tembakau alternatif seperti ENDS sangat dibutuhkan untuk melindungi perokok aktif maupun pasif dari bahaya merokok.

Pendekatan kesehatan masyarakat yang lebih terbuka terhadap teknologi dan inovasi baru sangatlah dibutuhkan untuk mengadopsi ENDS secara menyeluruh. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 7 Kiat agar Wanita Terhindar dari Kanker Paru


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler