Mendarat di Sungai, Bisa Dimakan Buaya

Kamis, 10 September 2009 – 10:44 WIB
SELAMAT- Lettu Erwin saat dievakuasi dari reruntuhan pesawat. Foto: Radar Tarakan/JPNN

LETTU (P) Erwin Wahyuwono, Pilot Nomad TNI AL yang jatuh di tambak di daerah Mentadau, Sekatak Bengara, Kabupaten Bulungan, sempat tak menyangka bisa selamat dari mautAnugerah kehidupan yang dia rasakan sekarang diyakini sebagai sebuah mukjizat

BACA JUGA: Dilantik, Langsung Gadaikan SK!

Berikut penuturannya kepada Radar Tarakan (JPNN Grup)

JARUM infus masih menancap di lengan kanan Lettu (P) Erwin Wahyuwono
Pria asal Kudus, Jawa Tengah, ketika ditemui Rabu (9/9) di ruangan Seroja RSAL Ilyas Tarakan mengenakan kemeja bergaris perpaduan warna merah, hitam dan abu-abu dan celana panjang warna biru tua tampak lebih segar.

”Iya agak baikan sekarang

BACA JUGA: Longsor di Jayapura, Korban Seminggu Terlantar

Cuma kadang masih agak pusing, mungkin karena keluar darah cukup banyak waktu kejadian itu
Darahnya bukan lagi mengalir, tapi muncrat,” kata Erwin ketika ditemui Radar Tarakan sembari menunjukkan kepalanya yang masih dibalut perban karet elastis.

Di ruangan Seroja yang setelah direnovasi diresmikan oleh Lantamal Bitung Kolonel Laut (P) Hambar Martono pada 18 Desember 1991 itu, Erwin tidak tidur sendiri

BACA JUGA: PNS Kalsel Terima THR Rp. 1 juta

Ia bersama copilot-nya Lettu Syaiful“Tapi Pak Syaiful lagi jalan ke ruangan lainnya,” kata Erwin.

Lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug 1999 itu lalu menceritakan detik-detik pesawat intai maritim TNI AL tipe (N22) Nomad P 837 sebelum jatuh di daerah tambak wilayah Mentadau, Sekatak Bengara, Kabupaten Bulungan, Senin (7/9) lalu.

”Kejadian itu berawal saat mesin kanan pesawat mendadak tak berfungsi dan pesawat berada di posisi ketinggian 450 feet,” kata Erwin.

Saat mengetahui mesin pesawat sebelum kanan dalam kondisi tak berfungsi, Erwin sempat memutuskan tetap menerbangkan Nomad ke TarakanSebab, jarak lokasi dia berada dengan Bandara Juwata Tarakan tidak terlalu jauh”Hanya sekitar 23 mil,” sebutnya.

Namun rencananya menerbangkan Normad hingga sampai ke Tarakan, akhirnya urung dilakukanSebab tanpa diduga sebelumnya, ternyata mesin pesawat sebelah kiri juga ikutan tak berfungsi

”Jarak waktunya hanya 30 second saja setelah mesin kanan matiTiba-tiba power-nya dropKasarannya kalau mobil digas, tapi nggak nambah (kecepatannya, Red.),” kenang pria kelahiran Kudus, 10 April 1977.

Alhasil, dalam kondisi pesawat terbang tanpa mesin berfungsi, dia bersama copilot Lettu Syaiful harus membuat keputusan yang tepatDalam kondisi itu, kata Erwin, komunikasi dengan petugas tower Bandara Juwata juga tetap berlangsung.

Saat itu, keduanya dihadapkan pada dua pilihanPilihan pertama mendarat darurat di sungai, pilihan keduanya mendarat daruratUntuk menentukan lokasi pendaratan darurat, pesawat Nomad yang dipiloti Erwin sempat berputar-putar.

”Saya muter cari pandangan untuk  landing (mendarat)Untuk memastikan tempat yang mana enak untuk landing,” terang penyuka makanan seafood itu.

Di detik-detik yang menegangkan itu, kata Erwin, copilot Lettu Saiful menghendaki melakukan penerbangan darurat di sungaiCara ini seperti dilakukan Abdul Rozaq, pilot Boeing 737-300 milik maskapai Garuda Indonesia yang berhasil mendaratkan darurat pesawatnya pada 12 Januari 2002 di anak sungai Bengawan Solo.

”Tapi saya katakan sungai di Jawa berbeda dengan sungai di KalimantanSungai di Kalimantan itu terkenal dengan arusnya yang deras dan banyak buayanyaJadi kalau mendarat di sungai sama saja bisa mati di makan buayaMakanya saya ambil inisiatif untuk mendarat di dalam tambak,” kata Erwin yang telah menerbangkan Nomad selama 1.600 jam.

Pilihan mendarat darurat di tambak juga dilakukan dengan pertimbangan menyelamatkan pesawat dan semua penumpang yang adaIa pun telah menemukan lokasi tambak yang dianggap pas untuk mendaratBerada di kondisi yang benar-benar sangat gawat, kepanikan tak dapat dihindariBeruntung Erwin tidak larut dalam suasana, dia mencoba tenang menghadapi keadaan yang kritisBerbeda dengan rekannya, copilot Lettu Saiful.

”Pak Saiful sangat panik, bahkan karena paniknya ia menyebut Allahu akbar...Allahu akbar…,Astagfirullah...Astag firullahSaya lihat copilot panik, saya langsung ambil alih kemudi dan berhasil melakukan pendaratan dengan mulus seperti mendarat di runway bandara,” kata Erwin yang mengaku berbeda usia lebih muda dari copilot Lettu Syaiful.

Namun seperti perkiraan Erwin sebelumnya bahwa kalau mendarat darurat di tambak risikonya berhadapan dengan tanggul, akhirnya terbuktiSaat menabrak tanggul, posisi pesawat langsung terbalik

”Kepala saya terbentur kokpit sehingga kepala bagian dahi  terluka parah dengan darah muncrat, tengkorak dahi saya sudah kelihatanSaya langsung tutup dengan handuk warna putih yang biasa saya gunakan,” terangnya.

Dalam kondisi mengeluarkan banyak darah, Erwin kemudian berusaha menyelamatkan diri dengan menjauhi pesawat yang dipilotinyaIa berhasil keluar dari ruangan kokpit, kemudian berjalan di tambak menuju tanggulSaat itulah dia melihat satu penumpang terapungIa memperkirakan korban meninggal karena kehabisan oksigen lantaran tenggelam di dalam tambak.

”Air di tambak waktu itu ketinggiannya sak udel (di atas pinggul atau berada di pusar)Tapi saya terus berjalan menuju tanggul,” tutur Erwin.

Sementara Saiful, yang ada di sampingnya dalam kondisi lemah dan tampak shock
Bahkan setelah Erwin meninggalkan pesawat menuju ke tanggul, Saiful masih tampak traumaSetelah keluar dari pesawat dia bukan menghindar dari bangkai pesawat malah mengeliling pesawat.

”Saya teriakin dia untuk menjauh dari bangkai pesawat karena khawatir kalau-kalau meledak, walaupun akhirnya tidak meledak,” kata Erwin yang sudah dua minggu bertugas menerbangkan Normad untuk melakukan patroli rutin di perbatasan di Kaltim.

Saat berada di tanggul tambak, beruntung ada tiga warga yang merupakan penjaga tambak menghampirinyaKetiga orang inilah yang menghubungi berbagai pihak dan akhirnya membantu mengevakuasi korban, baik yang luka-luka maupun tewas.

”Saya sendiri berusaha tidak pingsanKarena saya khawatir, kalau pingsan, bisa nggak bangun-bangun lagiSaya mencubit-cubit paha saya, karena saya nggak mau pinsan,” ujar Erwin sambil memegang saluran infus yang masih melekat di lengannya.

”Saya tidak menyangka bisa hidupApalagi setelah melihat pesawat di televisi sudah hancurTapi ini bukan kemampuan saya, melainkan ini merupakan mukjizat dari Tuhan,” kata Erwin yang menganut agama Kristen Protestan.

Rencananya, Jumat besok (11/9), pria yang sekarang telah menjabat selama dua periode selama RW XIV di Perumahan Garden Dian Regency Juanda Surabaya akan pulang ke Jawa untuk menemui istrinya: Suryandari dan ketiga anaknya.(ris/ian/*/rt2)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bangkai Nomad Mulai Dievakuasi


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler