Mendikbud Nadiem Beri Perhatian Lebih Serius pada Guru SLB

Kamis, 17 September 2020 – 21:34 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim. foto Humas Kemendikbud

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengungkapkan komitmennya memberikan perhatian lebih serius pada Sekolah Luar Biasa (SLB).

"Walaupun SLB itu menangani anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi pedagogi dan metodologi pembelajaran yang dilakukan di SLB bisa menjadi panutan atau sumber inspirasi pembelajaran," kata Nadiem saat mengunjungi SLB Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, Kamis (17/9). 

BACA JUGA: Ada Pejabat Pemprovsu Diduga Terlibat Kasus Pornografi, Edy Rahmayadi: Bulan Depan Dia Pensiun

Pembelajaran di SLB pendekatannya lebih personal, tersegmentasi, dan tidak seragam. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan minat, bakat, dan kompetensi dari murid-muridnya. 

"Dari sisi spektrum merdeka belajar, SLB itu lebih merdeka daripada sekolah umum. Jadi, kami akan memberikan lebih banyak sumber daya dan perhatian lagi sehingga SLB juga bisa membantu sekolah-sekolah lain," tuturnya. 

BACA JUGA: Mendikbud: Kurikulum Khusus Lebih Sederhana, Guru dan Siswa Makin Fleksibel

Mendikbud mengapresiasi dedikasi para guru pendidikan khusus. Ia selalu melihat adanya hubungan batin yang erat antara guru pendidikan khusus dengan muridnya.

"Amanah itu terlihat sekali di wajah para guru pendidikan khusus, dan itu saya lihat jelas sekali saat masuk di sekolah ini," ungkapnya. 

BACA JUGA: Kurangi Sampah Plastik, Industri Air Minum Kemasan Diminta Pakai Galon Guna Ulang

Kepala SLB Negeri 1 Bantul Sri Muji Rahayu menyampaikan pentingnya perubahan pola pikir di masyarakat mengenai pendidikan khusus.

Ia berharap agar Kemendikbud dapat mendorong perubahan persepsi masyarakat mengenai SLB sebagai sekolah anak cacat yang berkonotasi negatif. 

"Branding SLB itu perlu ditingkatkan lagi sehingga orang tua anak berkebutuhan khusus tidak malu anaknya bersekolah di SLB," ujarnya. 

Lebih lanjut, Muji berharap agar Kemendikbud dapat meningkatkan kompetensi para guru SLB. Saat ini, guru SLB yang memiliki kompetensi untuk menyelenggarakan program khusus masih sangat minim. 

"Ketika kami menerima guru baru, mereka belum dibekali dengan kompetensi kekhususan misalkan orientasi mobilitas bagi tuna netra. Guru-guru baru di SLB masih berlatarbelakang non pendidikan luar biasa (PLB). Kami berharap Kemendikbud dapat membantu memberikan kompetensi kekhususan bagi mereka," ungkap Muji. 

Mendikbud menyambut baik masukan dan saran dari para guru dan Kepala SLB. Menurutnya, pendidikan khusus sangat erat dengan filosofi Merdeka Belajar.

"Tidak mungkin kita mencapai merdeka belajar tanpa sekolah yang inklusif," katanya.  

Saat ini tim di Kemendikbud sedang mengkaji berbagai masukan yang diperoleh dari masyarakat untuk merumuskan intervensi kebijakan sehingga dapat meningkatkan peran strategis SLB dan pendidikan khusus. 

Terkait peningkatan kompetensi guru, Mendikbud menyampaikan, idealnya semua guru memiliki pengetahuan dasar mengenai pendidikan inklusif.

BACA JUGA: Mayat Wanita Membusuk di Kebun Tebu Adalah Korban Pembunuhan, Ternyata Pelakunya

"Di dalam transformasi pendidikan profesi guru kita, komponen pendidikan khusus harus menjadi salah satu pilar yang utama," tandas Nadiem. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler