Mengenal Oxium, Plastik Ramah Lingkungan yang Cepat Terurai

Jumat, 30 September 2022 – 18:13 WIB
Oxium merupakan plastik yang ramah lingkungan dan terjangkau bagi masyarakat. Dok: Greenhope.

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia tengah menghadapi kondisi darurat sampah plastik. Dari hasil penelitian, pada 2020 ditemukan produksi limbah kemasan plastik sekitar 189.000 ton per bulan atau 6.300 ton per hari di perkotaan Pulau Jawa.

Dari jumlah itu, hanya sekitar 11,83 persen atau 22.000 ton per bulan yang didaur ulang.

BACA JUGA: Pakar Polimer Sebut Semua Produk Plastik Tidak Berbahaya, Asalkan

Para ahli pun mulai mengembangkan berbagai alternatif plastik yang lebih cepat terurai hingga mengurangi dampak negatif pada lingkungan. Salah satunya adalah Oxium atau oxo-biodegradable additive yang ramah lingkungan.

Oxium adalah aditif oxo-biodegradable yang ditambahkan ke dalam plastik konvensional, sehingga plastik terurai lebih cepat dengan bantuan sinar matahari, panas, oksigen, kelembaban, dan dilanjutkan oleh mikroba.

BACA JUGA: Pakar ITB: Semua Plastik Memiliki Risiko, Tidak Fair Hanya Melabeli Bahaya Satu Jenis Kemasan

Oxium bekerja memotong-motong rantai polimer plastik dari bobot molekul yang tinggi menjadi sangat rendah.

Selanjutnya, mikroba akan memakan dan menguraikan residu Oxium ini. Rantai karbon akan dipotong-potong lebih lanjut oleh mikroba menjadi karbondioksida, air, dan biomassa.

BACA JUGA: Mengurangi Sampah Plastik, Ganti dengan Kantong Belanja Ramah Lingkungan

Plastik Oxium membuat plastik konvensional menjadi lebih cepat terurai, tidak mencemari lingkungan, dan tidak menghasilkan toksin.

Di pasaran ada dua jenis aditif, yakni oxo-degradable dan oxo-biodegradable. Perbedaan utamanya adalah residu plastik hasil degradasinya.

Aditif oxo-degradable hanya memotong-motong rantai polimer plastik menjadi plastik yang berukuran lebih kecil; mikroplastik, akan tetapi masih memiliki sifat-sifat plastik konvensional, bobot aditif oxo-degradable akan tetap bertahan di alam selama berpuluh-puluh tahun.

Oxium; aditif oxo-biodegradable, sangat berbeda dengan aditif oxo-degradable. Oxium bekerja mencacah-cacah molekul plastik pada level molekuler, hingga bobot molekulnya menurun menjadi sangat rendah di bawah 5.000 dalton.

Residu plastik Oxium akan dimakan mikroba, dipotong-potong lagi rantai karbonnya menjadi karbon dioksida, air, dan biomassa. Residu Oxium akan kembali ke tanah menjadi kompos yang bisa diserap kembali oleh tanaman.

Menurut CEN/TR 15351 oxo-biodegradation ditentukan sebagai proses degradasi yang dihasilkan oleh fenomena oksidatif dan dari aktivitas sel, baik secara serentak maupun secara simultan.

Lebih dari itu, Oxium oxo-biodegradable bukan mikroplastik atau tidak menghasilkan mikroplastik. Ini artinya Oxium ramah lingkungan dan aman bagi makhluk hidup di sekitarnya termasuk manusia.

Head of Marketing and Sales Greenhope Arsika Ahmad mengatakan pihaknya punya produk resin bioplastik ramah lingkungannya, yakni Ecoplas.

Ecoplas menghadirkan plastik yang tak hanya ramah lingkungan karena mudah terurai, namun juga terjangkau oleh masyarakat.

"Ecoplas adalah plastik biodegradable yang terbuat dari ketela. Penggunaan Ecoplas di Indonesia tentu jadi solusi. Ecoplas juga akan memberikan dampak sosial yang positif bagi negeri ini," ujar dia dalam siaran persnya, Jumat (30/9).

Produk resin plastik biodegradable berbasis nabati dari Greenhope ini menerima berbagai penghargaan nasional dan Internasional sebagai salah satu plastik dengan material biodegradable yang paling kompetitif.

"Ecoplas menyajikan alternatif yang lebih baik bagi lingkungan, selain itu produk ini juga sudah mengantongi sertifikasi German Din-Certco Bio-Based ASTM 6866," jelas Arsika.

Dengan sertifikasi itu, dia menegaskan produk Greenhope dapat mengalami biodegradasi dengan cepat bahkan tanpa bantuan mesin pengelolaan sampah.

Ecoplas juga mendapatkan sertifikat fair for life dari IMO Switzerland. Sertifikat itu menunjukkan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat Ecoplas dihasilkan oleh petani berpengalaman dan dibeli dengan harga premium atau di atas harga pasar.

"Dengan demikian juga memberikan dampak positif bagi kesejahteraan petani Indonesia,” ujar Arsika. (cuy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tak Mengandung BPA, Plastik PET juga Punya Keunggulan Lainnya


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler