Mengonsumsi Makanan Beku Sehatkah? Ternyata..

Jumat, 10 Februari 2023 – 21:35 WIB
Ilustrasi makanan beku. Foto: AFP

jpnn.com, JAKARTA - Sering mengonsumsi frozen food (makanan beku), apakah sehat? Pertanyaan tersebut selalu muncul di kalangan masyarakat, imbas dari banyaknya makanan beku yang mudah diperoleh di pasaran.

Tidak hanya mudah didapat, harganya pun sangat terjangkau, sehingga bagi para pekerja ataupun Ibu rumah tangga lebih condong membelinya karena lebih praktis.

BACA JUGA: Di Tengah Pandemi Covid-19 Bisnis Makanan Beku Menanjak, Ekspornya hingga ke Amerika

Menurut Co-Founder & Chief Sustainability Officer of Aruna Utari Octavianty, isu yang beredar soal makanan beku yang tidak sehat sebenarnya disinformasi atau penyampaian informasi yang salah.

"Informasi itu malah membuat masyarakat bingung. Mereka  selama ini tahunya semua makanan beku adalah sama," terang Utari dalam keterangannya, Jumat (10/2).

BACA JUGA: Tiongkok Klaim Makanan Beku dari 109 Negara Telah Terkontaminasi COVID-19

Dia memaparkan frozen food dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu makanan segar yang dibekukan dan produk makanan olahan siap saji yang dibekukan.

Berbagai institusi kesehatan mengatakan bahwa terlalu banyak mengonsumsi produk olahan siap saji memang tidak baik.

BACA JUGA: Industri Makanan Beku Belum Maksimal

Produk makanan olahan mengandung kalori tinggi dan banyak zat tambahan yang membahayakan kesehatan jika sering dikonsumsi.

Stigma itu lanjutnya, berdampak terhadap makanan segar yang dibekukan, karena kebanyakan produk yang dijual di pasaran adalah produk olahan beku yang siap saji. 

"Masih banyak masyarakat belum tahu kalau frozen food itu dari produk pangan segar itu tetap bernutrisi dan menyehatkan," ujarnya.

Industri telah mengenal teknik pengawetan pangan yang sudah dipopulerkan secara komersial sejaka 1920-an. Teknik itu bertujuan untuk mempertahankan kesegaran dan nutrisi, tanpa memberi zat tambahan. 

Utari menyebutkan masyarakat adat suku Inuit di Kutub Utara sudah lama menggunakan teknik pembekuan tradisional agar mereka bisa menyimpan cadangan makanan lebih lama.

Mengutip pernyataan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM)  Penny Lukito, makanan yang dalam proses pendistribusiannya membutuhkan suhu -18°C mulai dari rantai distribusi hingga ke tangan konsumen, maka masuk kategori makanan beku.

Makanan yang sementara waktu disimpan pada suhu beku minimal -18°C untuk memperpanjang masa penyimpanan, itulah yang disebut makanan olahan siap saji seperti pada nugget, sosis, bakso, dan lainnya.

Utari mengungkapkan ahli gizi juga sudah menyatakan bahwa tidak ada perbedaan kandungan nutrisi yang terdapat pada makanan segar dibandingk dengan makanan beku.

Sebab, justru makanan segar yang mengalami proses pembekuan bertujuan mempertahankan kesegaran dan kandungan gizi yang terkandung di dalamnya.

Sebaliknya, makanan yang tidak dibekukan bisa kehilangan nutrisi karena terpapar air, sinar matahari, dan suhu tinggi.

Oleh karena itu, frozen seafood bisa dikonsumsi secara rutin, apalagi, tak lama lagi ada peringatan Hari Valentine. Momen tersebut bisa dimanfaatkan dengan memasak seafood yang tak hanya enak, tetapi juga bernutrisi tinggi. (esy/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler