Menperin Kebut Utilisasi Sektor Manufaktur demi Percepat Pemulihan Ekonomi

Sabtu, 26 September 2020 – 21:42 WIB
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: arsip JPNN.COM/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) RI Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan bahwa utilisasi atau pemanfaatan sektor manufaktur secara keseluruhan bisa mencapai 60 persen hingga akhir tahun ini.

Menurutnya, utilitas itu akan  akan terus dipacu pada 2021 hingga mencapai 75 persen, dan tahun selanjutnya menjadi 85 persen.

BACA JUGA: Industri Manufaktur Menggeliat di Masa Pandemi COVID-19

Agus mengatakan, utilisasi industri di Indonesia mencapai 75 persen sebelum sebelum Covid-19 merambah tanah air. "Mulai dari Juni sampai sekarang sudah mulai ada tanda pemulihan, dengan tingkat utilisasi 52 persen," katanya melalui siaran pers, Sabtu (26/9).

Menteri dari Partai Golkar itu menyebut capaian itu merupakan kinerja gemilang yang tecermin dari purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia yang berada pada level 50,8 pada Agustus lalu.

BACA JUGA: Menperin Agus Yakini Industri Otomotif Bisa Bangkit pada Paruh Kedua 2020

Agus menambahkan, dampak positif dari peningkatan utilisasi itu antara lain penyerapan tenaga kerja terdampak PHK, peningkatan kemampuan belanja dalam negeri, dan peningkatan pasar ekspor.

“Strategi penurunan impor ini akan kami dorong melalui peningakatan invetasi, tentunya akan ada penyerapan tenaga kerja baru,” ujar Agus.

BACA JUGA: Pemerintah Siapkan Insentif Khusus KEK untuk Percepat Pemulihan Ekonomi

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga mencatat rencana sejumlah investasi sektor manufaktur pada periode 2019-2023 yang sudah terdaftar di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Adapun nilai totalnya mencapai Rp 1,04 triliun dari 12 perusahaan yang bergerak di industri permesinan dan alat mesin pertanian, kimia hulu, kimia hilir dan farmasi, logam (non-smelter),  smelter,  elektronika dan telematika, serta  makanan hasil laut dan perikanan.

Investasi yang masuk itu juga mencakup industri minuman, tembakau dan bahan penyegar,  tekstil, kulit dan alas kaki,  alat transportasi (otomotif), bahan galian non-logam, serta hasil hutan dan perkebunan.

“Kami siap kawal realisasi investasi ini, karena tentunya akan sangat membantu pada program substitusi impor,” tegasnya.

Agus menambahkan, pihaknya telah menghitung jumlah investasi yang dibutuhkan untuk mengalihkan 35 persen impor barang input sektor manufaktur ke produksi dalam negeri.  Menurutnya, total kebutuhan investasinya mencapai Rp 197 triliun.

"Nilai target produksi Rp 142 triliun, dan biaya investasi Rp 55 triliun. Target produksi ini adalah untuk struktur biaya di luar proses produksi, seperti perizinan, pengadaan lahan dan lainnya,” sebutnya. 

Apabila investasi itu terealisasi, Agus meyakini akan tercipta 397 ribu peluang kerja tambahan.

“Kami bertekad untuk menjaga aktivitas sektor industri di tengah masa pandemi saat ini, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan secara ketat dan disiplin,” tandasnya.

Mantan menteri sosial itu menegaskan, industri manufaktur merupakan salah satu sektor yang dapat diandalkan untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional. 

"Sepanjang triwulan kedua tahun 2020, sektor industri masih memberikan kontribusi terbesar pada struktur produk domestik bruto nasional mencapai 19,87 persen," pungkasnya.(mcr2/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Rizki Sandi Saputra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler