Menristek: Belum Ada Metode yang Bisa Prediksi Kapan Gempa Terjadi

Sabtu, 03 Oktober 2020 – 19:00 WIB
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat webinar. Foto: humas Kemenristek/BRIN

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN) Bambang PS Brodjonegoro, memberikan klarifikasi atas informasi potensi terjadinya gempa megathrust yang menyebabkan tsunami di Pantai Selatan Pulau Jawa.

Menurut Bambang, sampai hari ini belum ada metode atau teori yang bisa memprediksi apakah suatu gempa akan terjadi, kapan, di mana, dan berapa kedalaman serta besarnya.

BACA JUGA: Menristek Gandeng Putra Habibie Sukseskan Program Seribu Teknopreneur Sejuta Pekerjaan

Namun, pemerintah terus berupaya mendukung manajemen mitigasi dengan membangun kapasitas sains dan teknologi kebencanaan melalui penyiapan SDM, penyediaan sarana dan prasarana riset.

Di samping penyelenggaraan riset bidang kebencanaan demi menghasilkan dan mengelola pengetahuan (knowledge management) riset-riset kebencanaan tersebut.

BACA JUGA: Antisipasi Dampak Potensi Gempa Bumi dan Tsunami Raksasa, Nih Permintaan BMKG

"Masyarakat jangan panik dengan informasi potensi gempa megathrust yang kemungkinan menyebabkan tsunami di Pantai Selatan Pulau Jawa. Potensi kejadian tersebut merupakan hasil riset yang sebenarnya dilakukan untuk mengetahui suatu skenario (kondisi worst case) di mana hal tersebut diperlukan untuk antisipasi, yaitu peningkatan kesiapsiagaan dan usaha mitigasi," tutur Bambang, Sabtu (3/10).

Dia menjelaskan, riset yang dilakukan para peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Sri Widiyantoro bersama tim tujuannya agar masyarakat lebih waspada dan antisipatif terhadap kemungkinan bencana tersebut.

BACA JUGA: BMKG Tak Membantah Potensi Gempa dan Tsunami Raksasa di Selatan Jawa

Menteri Bambang menambahkan, kajian tersebut bukan untuk menimbulkan kepanikan di masyarakat. Namun ditujukan untuk mengendepankan upaya mitigasi terhadap potensi risiko bencana di Indonesia. 

Pemerintah, kata Bambang, sudah membuat sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (INA-TEWS) yang dikembangkan BPPT dan beberapa institusi lainnya. Ada dalam bentuk 

buoy system yang mampu mendeteksi potensi tsunami dalam hitungan detik. Dengan demikian informasi bisa langsung didapatkan sebagai upaya mitigasi bencana sedini mungkin.

"Pemerintah juga menyiapkan sistem cable yang salah satunya sudah disiapkan di selatan Pulau Jawa khususnya di Selat Sunda,” tambah Menteri Bambang.

Peneliti ITB Sri Widiyantoro menjelaskan, riset yang dilakukan tersebut diilhami dari adanya kajian sebelumnya oleh Ron Harris dan Jonathan Major pada 2016 berjudul Waves of destruction in the East Indies: the Wichmann catalogue of earthquakes and tsunami in the Indonesian region from 1538 to 1877 yang memberi catatan bahwa ditemukan tsunami deposit di dekat daerah Pangandaran, yang diperkirakan terjadi akibat gempa cukup besar pada  1584-1586.

Berdasarkan hal itu, maka dilakukan riset multidisiplin oleh ITB bersama institusi terkait untuk mengetahui sumber megathrust sehingga dapat dipetakan.

“Hasil simulasi selama 300 menit yang diturunkan dari model sumber gempa berdasarkan hasil inversi data GPS, tidak hanya dilakukan untuk 3 skenario. Namun dipilih yang paling representatif dan bahkan untuk keperluan mitigasi ditampilkan skenario yang paling worst case,” jelas Sri Widiyantoro.

Berdasarkan hasil simulasi selama 5 jam didapatkan pada skenario pertama di wilayah sebelah barat Pulau Jawa, diprediksi tinggi tsunami khususnya pantai selatan Jawa maksimum 20 meter dimana semakin ke timur akan semakin kecil karena sumbernya berada di sebelah barat.

Skenario kedua dikondisikan pusat gempa berada di sebelah timur, maka tinggi tsunami di sebelah timur akan lebih tinggi dari wilayah barat.

Selanjutnya skenario ketiga atau skenario paling buruk di mana gempa terjadi secara bersamaan di barat dan timur, maka diprediksi tinggi tsunami maksimum 20 meter di sebelah barat, 12 meter di sebelah timur, dan di antara wilayah tersebut tinggi rata-ratanya mencapai 4,5-5 meter.

“Hal ini yang sebenarnya menjadi pemberitaan belakangan ini. Jadi sebenarnya riset yang dilakukan sangat multidisiplin. Namun ujungnya adalah suatu skenario jika megathrust itu terjadi. Tim kami banyak melakukan skenario lain, puluhan mungkin seratus skenario. Namun, sekali lagi tentu untuk keperluan mitigasi ditampilkan worst case scenario seperti ini,” jelas Sri Widiyantoro. (esy/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler