Menristekdikti Kecewa Jumlah Mahasiswa dan Dosen tak Sebanding Publikasi

Minggu, 15 September 2019 – 19:56 WIB
Menristekdikti Mohamad Nasir. Foto: Humas Kemenristekdikti for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menyebutkan, salah satu tantangan yang masih dihadapi Indonesia adalah belum sebandingnya jumlah mahasiswa dan dosen dengan publikasi yang dihasilkan. Dia menyebutkan, kurang dikenalnya penelitian anak negeri di tingkat global (Internasional), antara lain diakibatkan rendahnya publikasi global para peneliti tersebut.

Dia berharap Science and Technology Index (SINTA) bisa memotivasi para peneliti untuk lebih giat menghasilkan publikasi dan perlahan menghilangkan ketergantungan penggunaan sistem pengindeks publikasi dari luar negeri.

BACA JUGA: Menristekdikti Targetkan Pomnas 2019 Lahirkan Banyak Atlet Nasional

"Sistem ini masih jauh dari sempurna karena memang baru dimulai. Namun tidak akan berhenti untuk disempurnakan. Dengan SINTA diharapkan daya saing jurnal dan publikasi ilmiah bisa meningkat tajam di tahun-tahun ke depan. Publikasi ilmiah saat ini memegang peranan penting sebagai bukti pertanggungjawaban ilmiah hasil penelitian sehingga dapat dikenal luas secara global," tutur Menteri Nasir, Minggu (15/9).

Dia menambahkan, World Class University (WCU)' menempatkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator dalam melakukan pemeringkatan perguruan tinggi di seluruh dunia. Sampai 9 September 2019, publikasi ilmiah Indonesia di tingkat ASEAN untuk 2018 yang telah diterbitkan jurnal Scopus sebanyak 34.007, menduduki posisi pertama diikuti Malaysia sebanyak 33.286. Namun publikasi untuk tahun 2019 Indonesia sementara menjadi kedua di angka 19.916 dikalahkan Malaysia di angka 20.993, masih ada waktu untuk segera terus berkompetisi di Asean dan secara Global.

BACA JUGA: Menristekdikti Sebut Mobil Listrik Indonesia Tinggal Mencari Industri Untuk Produksi

"Sementara jurnal kita terus mengalami peningkatan baik yang terakreditasi nasional maupun bereputasi Internasional," ucapnya.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Muhammad Dimyati menambahkan, dalam kurun satu tahun SINTA telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, dari sisi kuantitas dan kualitas.

BACA JUGA: Menristekdikti Sodorkan Solusi Atasi Penyebaran Dokter Tidak Merata

“Sampai 9 September 2019 telah terdaftar lebih dari 177.000 dosen dan peneliti, 4.776 lembaga, 2.720 jurnal, 26.588 buku dan 2.543 kekayaan intelektual yang sudah masuk terindeks di SINTA berdasarkan hasil verifikasi, akreditasi dan evaluasi. Integrasi data sebelumnya dengan Google Scholar dan Scopus, ditingkatkan dengan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia untuk buku, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual untuk paten dan hak cipta, serta Web of Science,” jelasnya. (esy/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler