Menteri LHK Siti Tekankan Solidaritas dan Kolaborasi dalam Aksi Lingkungan

Jumat, 03 Juni 2022 – 19:31 WIB
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya menghadiri rangkaian pertemuan internasional Stockholm+50 di Stockholm, Swedia. Foto: Humas KLHK

jpnn.com, SWEDIA - Dalam pertemuan internasional Stockholm+50, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya mengatakan banyak usaha yang dilakukan melalui kerja sama lingkungan internasional, termasuk di regional ASEAN.

Hal itu dikatakan Siti Nurbaya saat menghadiri rangkaian pertemuan internasional Stockholm+50 di Stockholm, Swedia, pada 2 dan 3 Juni 2022.

BACA JUGA: KLHK Minta BPOM Juga Perhatikan Dampak Lingkungan Terkait Hal Ini

"Dalam semangat ini, Indonesia menekankan pentingnya solidaritas dan kolaborasi semua negara dalam melakukan aksi lingkungan," katanya.

Menteri Siti juga menyampaikan beberapa poin penting dalam upaya aksi lingkungan. Pertama, tindakan nyata dan implementasi adalah kuncinya.

BACA JUGA: KLHK Ungkap 2 Instrumen Pembiayaan untuk Perlindungan Lingkungan Hidup

Semua pemangku kepentingan harus meningkatkan aksinya untuk mengatasi krisis global termasuk iklim, keanekaragaman hayati dan polusi.

"Kami harus dapat berbagi dan memobilisasi inovasi, teknologi, pengetahuan, dan sumber daya keuangan yang tersedia untuk mengisi kesenjangan implementasi di antara negara-negara," ujar Siti.

BACA JUGA: KLHK Dorong Perambah Hutan di Kawasan Tahura Bukit Mangkol Dihukum Berat, Ini Alasannya

Kedua, peran pemuda sebagai kolaborator utama Indonesia adalah yang terpenting.

Indonesia sepenuhnya mendukung gagasan Stockholm+50 untuk memberikan ruang yang lebih besar bagi kaum muda.

"Di Indonesia, bersama para pemuda dan Green Leaders, kami mentransmisikannya ke dalam aksi bersama, termasuk program rehabilitasi mangrove. Kontribusi mereka untuk pembangunan berkelanjutan sangat penting," terangnya.

Ketiga, pemulihan yang berkelanjutan dan inklusif harus menjadi fokus bersama. Pandemi Covid-19 telah memberi banyak pelajaran berharga.

"Dari sini, kami belajar bahwa tidak ada satu negara pun yang dapat pulih dengan sendirinya. Tidak ada yang terisolasi karena semua orang saling terhubung," ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Indonesia memasukkan prinsip-prinsip ini dalam tema Kepresidenan G20: Recover Together, Recover Stronger.

Melalui tema ini, Indonesia bertekad mempromosikan strategi yang inklusif dan tangguh untuk kepentingan semua.

Termasuk negara-negara berkembang yang rentan, berpenghasilan rendah, dan pulau-pulau kecil.

Menteri Siti juga kembali menegaskan bahwa perubahan hanya bisa terjadi jika kita mentransmisikan komitmen ke dalam tindakan nyata.

Sebagaimana Konferensi Stockholm telah dengan jelas menyuarakannya 50 tahun yang lalu bahwa kita harus menggunakan pengetahuan kita untuk membangun, bekerja sama dengan alam, lingkungan yang lebih baik untuk generasi sekarang dan mendatang.

"Hal ini menjadi lebih relevan saat ini. Karena itu, mari kita bekerja sama untuk mencapainya," ucap Menteri Siti.

Konferensi Stockholm pada 1972 adalah konferensi tingkat dunia pertama yang membahas isu lingkungan.

Konferensi Stockholm telah meletakkan dasar untuk pengaturan global mengenai perlindungan lingkungan.

Memasuki era di mana semua harus menunjukkan aksi nyata bagi lingkungan, tema Stockholm+50 adalah planet yang sehat untuk kemakmuran semua – tanggung jawab kita, kesempatan kita.

Stockholm+50 menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melindungi planet ini.

Forum besar ini juga memberikan jalan bagi kita untuk membangun kembali setelah pandemi Covid-19. (mrk/jpnn)


Redaktur : Tarmizi Hamdi
Reporter : Tarmizi Hamdi, Tarmizi Hamdi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler