Menteri Siti Nurbaya Sampaikan Kabar Gembira pada Momentum Hari Keanekaragaman Hayati Dunia dan Idulfitri

Senin, 25 Mei 2020 – 23:58 WIB
Menteri LHK Siti Nurbaya. Foto: Humas KLHK

jpnn.com, JAKARTA - Bertepatan dengan momentum Hari Keanekaragaman Hayati (Kehati) Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei dan IdulFitri pada tanggal 24 Mei 2020, kabar gembira datang dari lembaga konservasi (LK) Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua.

“Alhamdulillah, di hari yang bahagia sekaligus prihatin dengan situasi pandemi Covid 19, telah lahir jam 05.00 pagi tadi bayi orang utan betina,” ungkap Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan  (KLHK), Siti Nurbaya di kediamannya di Jakarta, Senin siang (25/5).                                     

BACA JUGA: Duta Besar Inggris dan Norwegia Apresiasi Kepemimpinan Menteri Siti Nurbaya di Sektor LHK

Bayi orang utan bernama Fitri bersama induknya di Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua. Foto: Humas KLHK

BACA JUGA: Menteri Siti Berbahagia Menyambut Kelahiran Fitri di Tengah Pandemi Covid-19

Menurut Menteri Siti, bayi orang utan ini merupakan orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari induk Evi dan jantan Ipung.

“Saya namai “Fitri’. Saya mencatat bahwa selama penutupan Lembaga Konservasi dan berlangsungnya Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB), banyak satwa yang lahir di Lembaga Konservasi,” kata Menteri Siti.

BACA JUGA: Semoga Prajurit TNI AD Khususnya Kostrad Mendapat Lindungan Tuhan

Lebih lanjut, Menteri Siti menyebutkan satwa yang lahir di Lembaga Konservasi itu antara lain Gajah Sumatera di TSI Cisarua dan Gembira Loka Yogyakarta, komodo (12 ekor), burung Kasturi Raja (1 ekor), orang utan fitri di TSI Cisarua, Tarsius (1 ekor) di Faunaland Ancol, Kasuari (3 ekor) di R Zoo and Park di Sumatera Utara.

Selain itu, satwa-satwa eksotik lainnya seperti jerapah, zebra dan common marmoset. Ini menandakan bahwa pengelola LK telah menerapkan kesejahteraan satwa dengan baik sehingga satwa dapat berkembang biak secara alami dan telah menjalankan fungsinya sebagai tempat pengembangbiakan di luar habitat yang tetap mempertahankan kemurnian genetiknya.

Menteri Siti Nurbaya berharap melalui program captive breeding ini, konservasi ex-situ link to in-situ bisa dijalankan dan pada akhirnya peningkatan populasi in-situ dapat tercapai. Hal ini juga dibuktikan oleh KLHK dengan telah melakukan pelepasliaran satwa ke habitat alaminya dari pusat rehabilitasi, pusat penyelamatan, dan unit konservasi satwa lainnya sebanyak 214.154 individu sejak tahun 2016-2020.

Menteri Siti Nurbaya juga menjelaskan bahwa peningkatan populasi dapat dilakukan dengan membuat kantung-kantung baru populasi satwa dan menyelamatkan metapopulasi satwa yang sudah ada. Metapopulasi adalah kelompok populasi yang secara spasial terpisah dari jenis yang sama dan berinteraksi pada beberapa tingkatan.

“Untuk itu saya (sedang) kembangkan kebijakan untuk mendorong adanya konektivitas kantong-kantong satwa melalui pengembangan sistem kawasan lindung yang mencakup areal yg bernilai konservasi tinggi di konsesi-konsesi sektor kehutanan dan perkebunan. KLHK telah mengidentifikasi ada 1,4 juta area bernilai konservasi tinggi yang bisa masuk dalam sistem kawasan yang dilindungi,” katanya.

Pada tingkat spesies, menurut Menteri Siti, Indonesia telah menyusun peta jalan untuk memulihkan populasi 25 spesies target yang terancam punah.

“Melalui lebih dari 270 lokasi pemantauan, beberapa populasi spesies meningkat dalam lokasi pemantauan tersebut, seperti Jalak Bali, Harimau Sumatera, Badak Jawa, Gajah Sumatra, dan Elang Jawa,” tegas Menteri Siti.

Pada tingkat genetik, Indonesia telah mempromosikan bioprospeksi (bioprospecting) untuk keamanan dan kesehatan pangan, seperti Candidaspongia untuk anti-kanker, dan gaharu untuk disinfektan, yang produksinya telah ditingkatkan selama pandemi COVID-19 ini.(jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler