Menuju Pendidikan Berkeadaban

Oleh Prof. Dr. Abd. Rahman A. Ghani, SH., M.Pd*

Senin, 20 Februari 2023 – 15:25 WIB
Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka) Prof. Dr. Abd. Rahman A. Ghani, SH., M.Pd*

jpnn.com - Kita semua paham dan sadar bahwa pendidikan merupakan kebutuhan dasar bagi setiap manusia.

Hal itu bisa dipahami karena –meminjam ungkapan Socrates— “hidup bukan sekadar hidup, tetapi hidup yang baik itulah yang layak untuk dihidupi.” 

BACA JUGA: Prof Irwan Akib Minta Lulusan Uhamka Bisa Mengimplementasikan Karakter Buya Hamka

Jika sekadar hidup, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan mahkluk lain selain manusia juga hidup.

Tidak perlu “adjective” atas hidup makhluk selain manusia. Mustahil bagi kerbau untuk merancang dan membangun kandangnya sendiri. Begitu pula sapi maupun hewan ternak lain.

BACA JUGA: Praktik Pendidikan Dini di Soka Gakkai Singapura

Kehidupan lebah juga seakan sudah “paket” dengan kemampuannya membangun sarang sendiri. Artinya, hal itu merupakan naluri bawaan dari hewan tersebut, bukan merupakan hasil belajar.

Tumbuhan juga tidak mungkin mampu menghias tanah tempat tumbuhnya menjadi cantik dan indah.

BACA JUGA: Rektor Uhamka Menginisiasi Merdeka Belajar Tendik Perguruan Tinggi Muhammadiyah & Aisyiyah

Manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan untuk menentukan diri dan lingkungannya. Manusia hadir ke dunia dengan potensi yang sangat luar biasa.

Dengan akalnya, manusia dapat mengembangkan berbagai hal yang terpampang di depannya. Sejarah peradaban dunia tidak dapat dilepaskan dari karya manusia dengan ragam ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengiringinya.

Manusia, kata filsuf muslim al-Farabi, adalah al-hayawan an-natiq (makhluk yang berpikir).

Al-Qur'an menyebutkan bahwa Allah SWT memilih manusia untuk menjadi khalifah-Nya walaupun diprotes oleh para malaikat: “Apakah Engkau (ya Allah) akan menjadikan di muka bumi ini orang yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah, sementara kami (para malaikat) selalu bertasbih, memuji dan mensucikan Engkau (Ya Allah) ?” Namun, Allah tetap menyatakan : “Sesungguhnya Aku (Allah) lebih mengetahui apa yang kalian (para malaikat) tidak ketahui.” (Q.S. al-Baqarah, 2: 30).

Begitu mulianya kedudukan manusia di antara makhluk-makhluk lain sehingga diberi tugas untuk mengelola bumi dan isinya ini. Tugas pengelolaan bumi adalah amanat yang diemban oleh manusia sedemikian rupa sehingga bumi ini menjadi makmur dan memberikan rahmat bagi semuanya.

Namun, manusia memiliki pilihan, apakah akan menjalankan amanat pengelolaan tersebut ataukah justru merusaknya.

Pelaksanaan amanat Tuhan merupakan penentu bagi kualitas manusia; dan manusia telah diberi perangkat yang memadai untuk menjalankan tugas tersebut, mulai dari indra, akal, hati, dan perangkat-perangkat yang lain.

Tuhan pun telah mengajarkan “asma” (konsep-konsep, bahasa, dan perangkat ilmu pengetahuan lainnya) kepada manusia tentang berbagai hal di dunia ini. “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Q.S. al-Baqarah, 2: 31).

Melalui pendidikan, potensi manusia telah mampu membentangkan sejarah peradaban dengan berbagai ragam dan modelnya. Hal itu sekaligus menegaskan bahwa memahami posisi manusia merupakan hal yang penting ketika kita bicara pendidikan.

Pendidikan bukanlah untuk membuat batu-bata, rumah, maupun jalan raya, melainakan mengenai manusia, tentang menyiapkan insan sehingga mereka dapat menjalani dan mengelola kehidupan ini. Lebih dari itu, pendidikan sekaligus memberikan arah dan fungsi bagi setiap hal yang dibuat oleh manusia.

Dalam kerangka itulah, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa pendidikan merupakan “investasi” bagi masa depan bangsa.  Melalui pendidikan, masa depan bangsa dapat dirancang sebaik mungkin dengan cara mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas  yang mampu memahami zamannya dan berusaha merespons untuk menjawab tantangan-tantangannya.

Telah banyak model dan strategi pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Namun, sejauh mana relevansi dan tingkat solusi yang telah diberikan oleh berbagai model dan strategi pendidikan tersebut?

Sejauh mana pula masing-masing model dapat menyumbang bagi keberadaan dalam perubahan, bahkan ada kesan lebih sempit lagi, bagaimana lulusan pendidikan bisa mendapat tempat  kerja dalam struktur industri-industri modern?

Dengan kata lain, dunia pendidikan terkesan belum menjadi king maker yang memberi arah dan fungsi dalam perubahan, tetapi hanyut dalam perubahan itu sendiri. Inilah yang menjadikan dunia pendidikan sering terombang-ambing di tengah gelombang perubahan dan perkembangan yang dahsyat.

*

Pendidikan berkeadaban merupakan pendekatan dalam dunia pendidikan yang berfokus kepada manusia. Manusia harus merupakan landasan pijak dan dasar bagi setiap desain maupun praktek pendidikan.

Pendidikan sudah seharusnya tidak terus terombang-ambing di tengah gelombang perubahan. Sebaliknya, pendidikan perlu diletakkan sebagai proses  yang diperlukan oleh manusia untuk mengatur, mengendalikan, dan mengarahkan gelombang perubahan sehingga gelombang tersebut menjadi kebaikan bersama bagi sesama, bangsa bahkan dunia.

Oleh karena itulah pendidikan berkeadaban dapat dikatakan sebagai pendidikan tentang proses pengenalan dan pengakuan kepada manusia tentang tatatan dan eksistensi berbagai wujud realitas di dunia ini dengan tetap mendasarkan kepada dimensi ketuhanan.

Hal itu bukan berarti bahwa pendidikan kemudian menjadi eksklusif, tertutup dengan perubahan. Pendidikan harus mengelola perubahan bukan sekadar berubah, tetapi berubah ke arah visi yang diharapkan.

Secara konseptual, berbicara tentang pendidikan berkeadaban (ta’dib) mengingatkan kita pada pemikiran Syed Naquib al-Attas, salah seorang pemikir tentang islamisasi ilmu pengetahuan. Menurutnya, ta’dib merupakan konsep yang tepat untuk pendidikan.

Di dalamnya tercakup unsur-unsur ilmu (‘ilm), instruksi (ta’lim), dan pembinaan yang baik (tarbiyah). Dalam risalah untuk kaum Muslimin, al-Attas menulis, “Orang yang baik itu adalah orang yang menyadari sepenuhnya akan tanggung jawab dirinya kepada Tuhan yang haq, yang memahami dan menunaikan kewajiban terhadap dirinya sendiri dan orang lain yang terdapat dalam masyarakatnya, yang selalu berupaya meningkatkan setiap aspek dalam dirinya menuju ke arah kesempurnaan sebagai manusia ke arah kesempurnaan sebagai manusia yang beradab.”

Kenyataan yang dialami manusia merupakan suatu proses. Kenyataan dipahami dalam hubungan manusia dengan dunia, terlihat dalam bahasa pikiran.

Kemampuan mewujudkan bahasa pikiran dalam realitas dunia adalah yang membedakan manusia dari binatang. Kalau usaha mewujudkan manusia terlambat, ia tidak berhasil meng-ada. Padahal manusia harus meng-ada dan meng-ada dalam praksis.

Itulah ciri manusia. Panggilan hidup itu memberi nama pada dunia. Dengan itu pula muncul sejarah dengan tema-temanya.

Pendidikan berkeadaban  merupakan proses untuk terjadinya internalisasi dan sampainya “makna” segala sesuatu pada jiwa peserta didik. Makna yang dimaksudkan adalah pemahaman akan tempat yang benar bagi segala sesuatunya di dalam sistem yang terjadi pada saat relasi sesuatu hal dengan yang lainnya dalam sistem menjadi jelas dan dimengerti.

Dalam kerangka pendidikan berkeadaban itulah kita bisa bicara tentang pengembangan karakter (character building). Sangat sulit bicara tentang karakter jika pendidikan masih berkutat hanya sekadar penyampaian materi kurikulum atau hanya untuk mengejar nilai, apalagi kalau pendidikan hanya ditempatkan sebagai syarat untuk memperoleh pekerjaan maupun status sosial.

Pengembangan karakter bisa dilakukan jika pendidikan menekankan tentang “makna” yang harus diaktualisasikan peserta didik sebagai manusia. Ilmu pengetahuan maupun teknologi adalah perangkat-perangkat yang diperlukan untuk memasuki dunia makna lebih dalam bagi kehidupan seseorang.

Dengan demikian, ilmu dan teknologi bukanlah tujuan dalam pendidikan; sebaliknya, ia masih menjadi perangkat untuk meraih suatu tujuan yang lebih besar, yaitu keadaban manusia, masyarakat, bangsa, bahkan dunia. (***)

*Penulis adalah Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler