Menurut Ratu, Kerja Berantas Pengaturan Skor Harus Rahasia

Selasa, 15 Januari 2019 – 07:55 WIB
Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria. Foto: Indra Eka/JawaPos.com

jpnn.com, JAKARTA - Rencana PSSI membentuk Komite AdHoc Integrity untuk menangani skandal pengaturan skor (match fixing) dan match setting di sepak bola Indonesia sudah digulirkan sejak November 2018.

Nyatanya, sampai saat ini belum juga terbentuk, apalagi bekerja. Tertinggal jauh di belakang Satgas Antimafia Bola bentukan Polri.

BACA JUGA: Usut Kasus Suap Wasit Liga 3, Polisi Periksa Bendahara PSSI

Saat ini, satgas malah sudah menjadikan lima orang sebagai tersangka dalam kasus Persibara Banjarnegara, termasuk dua petinggi PSSI, yakni anggota Exco PSSI Johar Lin Eng dan anggota Komdis PSSI Dwi Irianto alias Mbah Putih. Juga, kasus PSS Sleman versus Madura FC juga akan masuk tahap penyidikan.

Meski dalam situasi bertolak belakang itu, sekjen PSSI Ratu Tisha membantah bahwa mereka berdiam diri dan tidak menjalankan janji dengan baik.

BACA JUGA: Satu Lagi Kasus Pengaturan Skor di Liga 2 Bakal Terkuak

Sampai saat ini, PSSI sudah menuju tahap perkembangan Komite AdHoc. Artinya, sudah bekerja dan sesegera mungkin memutuskan pembentukannya.

”Bukan perkembangan Komite Adhoc disiplin, yang bisa saya jelaskan adalah bagaimana perkembangan tata cara kami untuk menuju perkembangan komite AdHoc yang akan mendukung Exco PSSI melalui program regulasi dan terkait integrity match fixing preference,’’ kata Tisha.

BACA JUGA: Satgas Panggil Lagi 2 Wasit Laga Dagelan di Sleman

Nantinya, PSSI akan dibantu AFC. Karena itu, hari ini 15 Januari PSSI akan kedatangan Match Integrity dan Director Integrity dari AFC.

’’Mereka akan bantu kami untuk bersama menyusun frame-work, regulasi, dan juga advance dalam hal match fixing serta integrity report yang sudah berjalan di Indonesia,” lanjut Tisha.

Atas dasar itu, Tisha berharap pada 15 Januari ini beberapa pihak bisa urun rembuk bersama AFC. Terutama dari kepolisian yang berarti diwakili Satgas Anti Mafia Bola. ’’Kami akan mengundang sejumlah pihak juga, kami berharap bisa datang,’’ paparnya.

Perempuan kelahiran 30 Desember 1985 itu menjelaskan bahwa dalam pertemuan itu nanti, sejumlah pihak termasuk Satgas Antimafia Bola bisa mengerti bagaimana mekanisme dari hukum sepak bola. Juga di dalamnya ada teknis serta respons yang sesuai. Menurutnya, kerja untuk memberantas match fixing itu sifatnya rahasia.

Jadi, seharusnya informasi yang ada mengenai match fixing diproses terlebih dahulu sesuai dengan hukum sepak bola. Kemudian ditindaklanjuti oleh Komite AdHoc lebih dulu.

Apabila nanti di dalamnya terdapat pelanggaran-pelanggaran kriminal dan pidana, baru Satgas Anti Mafia Bola masuk.

Perempuan kelahiran Jakarta, 30 Desember 1985 itu Tisha menambahkan bahwa nantinya Komite AdHoc bakal diisi oleh beberapa perwakilan dari 12 komite di PSSI. Alasannya, tentu terkait integritas berdasarkan spesialisasi dalam sepak bola. ’’Mungkin nanti ada beberapa MoU dengan pemerintah, kepolisian serta yang lain,’’ ucapnya.

BACA JUGA: Satu Lagi Kasus Pengaturan Skor di Liga 2 Bakal Terkuak

Sementara itu, anggota Exco PSSI Yoyok Sukawi membenarkan bahwa pembentukan Komite AdHoc itu telah berjalan. Namun, dia sendiri tidak tahu sejauh ini perkembangannya seperti apa. Sebab, keseluruhan yang membahas hal tersebut adalah Sekjen PSSI.

’’Harusnya pekan-pekan ini sudah ditunjuk siapa yang akan mengisi. Kalau mau lebih jelas ke sekjen saja,’’ katanya. (rid/ham)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Polisi Tingkatkan Status Kasus Laga PSS Sleman vs Madura FC


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler