Merajut Calon Pengusaha Masa Depan di Tengah Pandemi Covid-19

Jumat, 16 Oktober 2020 – 22:41 WIB
Suasana webinar daring Katadata bersama Univeristas Prasetiya Mulya dan IKAPRAMA bertajuk "Bangun UMKM di Tengah Multikrisis", Kamis (15/10). Foto: dok pribadi untuk JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Pandemi Covid 19 menghantam sektor ekonomi begitu kuatnya sehingga pertumbuhan melambat bahkan menghilang. Saat ini, bangkit dari keterpurukan adalah impian dari semua kalangan.

Berdasarkan survei Katadata Insight Center (KIC) di Jabodetabek, Juni lalu, 57 persen UMKM berada dalam kondisi buruk, dan 25 persen hanya dapat bertahan hingga September 2020.

BACA JUGA: Beri Keterangan Berbelit-belit, Ditetapkan Tersangka, AC Ngotot Bantah Membunuh si Cantik Nur Fitri

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki memperkirakan ada sekitar 47 persen yang terancam gulung tikar. Padahal, sektor ini menyumbang 60 persen PDB Indonesia dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja.

Maka dari itu, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menekankan kolaborasi menjadi penting bagi UMKM untuk bisa terus menjalankan operasional hingga berkembang baik.

BACA JUGA: Riandi Ditembak di Kaki, Tewas dengan Kondisi Mengenaskan

"Mendorong kemitraan (UMKM) dengan usaha besar. Ini sangat penting, bagaimana industri di Jepang dengan UMKM ambil contoh. Di Indonesia pun juga banyak (bentuk kolaborasi), di mana sektor UMKM lokal sudah banyak yang jadi pemasok Astra misalnya," ujar Teten dalam webinar daring Katadata bersama Univeristas Prasetiya Mulya dan IKAPRAMA bertajuk "Bangun UMKM di Tengah Multikrisis", Kamis (15/10).

Di sisi lain, Teten menyebutkan, UMKM saat ini juga perlu untuk segera bertransformasi ke arah digital agar bisa mengoptimalkan usaha. Sehingga, tak hanya meningkatkan pemasaran namun juga memotong biaya produksi. "High cost industri kita bukan hanya di manufaktur, tetapi juga UMKM," jelasnya.

BACA JUGA: Prasetiya Mulya Tawarkan Pembelajaran Strategi Menjalankan Bisnis di Masa Depan

Co-founder & CEO Tokopedia, William Tanuwidjaya sejalan dengan menjelaskan bahwa pihaknya saat ini terus menggiatkan UMKM agar semakin terakomodir dalam marketplace-nya. Terlebih, di masa pandemi seperti saat ini yang menuntut digitalisasi.

"Seakan pandemi ini, justru menjadi momen Tokopedia yang memang disediakan (serba digital). Dengan UMKM bertransformasi digital, kesempatan melayani pelanggan akan tetap ada," ujarnya.

Selain pemerintah pihak akademisi juga ikut andil dalam upaya memulihkan ekonomi nasional dengan mengarahkan angkatan kerja yang baru lulus untuk menjadi pengusaha.

Prof. Dr. Djisman Simanjuntak, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, dalam keynote speech-nya menyatakan, "Transformasi Perguruan Tinggi di indonesia menjadi arena formasi pengusaha-pengusaha yang inovatif, terutama padat ilmu pengetahuan".

Dengan nilai Collaborative Learning by Enterprising, Prasetiya Mulya pada dasarnya meletakkan mahasiswa sebagai pengusaha yang sedang belajar.

Prof. Agus W. Soehadi, Wakil Rektor I Bidang Pembelajaran Universitas Prasetiya Mulya, dalam diskusi menyampaikan empat tahapan menjadi sosok entrepreneur.

“Mulai dari knowledge and skills of entrepreneurship, being the entrepreneur, be the entrepreuner, dan scale-up,” jelasnya.

Ekosistem bisnis dan kolaborasi di dalamnya menjadi satu pembelajaran yang komprehensif.

"Yang akan kami develop lebih lanjut adalah ketika mereka sudah masuk dan menjalankan usahanya, maka terbuka kemungkinan kolaborasi lebih luas dengan berbagai pihak. Seperti antara Universitas dan Ikatan Alumni Prasetiya Mulya (IKAPRAMA)," pungkasnya.

IKAPRAMA akan berperan aktif dan turut mengakomodir pertumbuhan UMKM di Indonesia melalui jejaring dan ekosistem bisnis yang dibutuhkan para pengusaha.

BACA JUGA: Wahyu Hidayat, Oknum Guru Ngaji Pelaku Pencabulan Santriwati Bebas, Kok Bisa?

Ini juga merupakan bagian dari long life journey para mahasiswa di Prasetiya Mulya yaitu learning process tidak akan berhenti ketika mereka lulus, tetapi akan berlanjut dan meningkat ke level bisnis yang makin tinggi.(dkk/jpnn)

Yuk, Simak Juga Video ini!


Redaktur & Reporter : Muhammad Amjad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler