Merawat Sumpah Pemuda Pada Generasi Milenial

Minggu, 28 Oktober 2018 – 01:10 WIB
Mantan Jurnalis, Presidum GMNI 2002-2005, Jan Prince Permata, SP., M.Si. Foto: Dokpri for JPNN.com

jpnn.com - Oleh Jan Prince Permata, SP., M.Si
Mantan Jurnalis, Presidum GMNI 2002-2005

Masa depan bangsa terletak di tangan pemuda. Kata ini semacam mantra sakti yang hidup dalam alam bawah sadar bangsa Indonesia. Sejarawan Ben Anderson bahkan menyebutkan pemuda merupakan sumber utama revolusi Indonesia. Bung Karno juga pernah mengucapakan istilah yang tetap popular hingga detik ini yaitu “Berikan aku 10 pemuda niscaya akan ku guncang dunia”.

BACA JUGA: Membangun Karakter Pemuda di Era Milenial

Hari ini, 28 Oktober 2018 Sumpah Pemuda genap berusia 90 tahun. Sumpah Pemuda merupakan peristiwa besar dan maha penting dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda sekaligus cikal bakal lahirnya Negara Proklamasi 17 Agustus 1945. Sumpah Pemuda merupakan semangat dan roh yang menegaskan konsep besar persatuan bangsa.

Sejarawan Asvi Warman Adam, dalam pandangannya menegaskan bahwa Sumpah Pemuda 1928 bisa dilihat sebagai “Proklamasi” bangsa Indonesia dan perubahan sosial politik yang terjadi dalam dunia ide dan pemikiran. Secara terbuka, “jiwa” dan “roh” bangsa Indonesia “ditiupkan” dalam bentuk Sumpah Pemuda, diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya untuk pertama kalinya oleh Wage Rudolph Soepratman di Kramat Raya 106 pada 28 Oktober 1928. Selanjutnya, jiwa itu menyertai raga bangsa Indonesia yang lahir pada 17 Agustus 1945.

BACA JUGA: Pemuda Harus Berkontribusi Membangun Indonesia Lebih Baik

Sebelum Sumpah Pemuda diikrakan perlawanan terhadap penjajahan Belanda dilakukan pada tingkat lokal dan kedaerahan. Sejak Sumpah Pemuda terjadilah “Pemerdekaan secara simbolik dan mental”, karena saat itu diikrarkan kecintaan pada Indonesia. Ketika itu “Hindia Belanda” secara terbuka telah “didekontruksi” dan sekaligus “direkontruksi” menjadi “Indonesia”.

Pada masa Sumpah Pemuda, sentimen kesukuan dan kedaerahan dikalahkan oleh rasa kebangsaan, mereka yang membawa nama kedaerahan dan agama sepakat berpikir dan bertindak sebagai satu bangsa. Demi kepentingan bangsa, mereka rela menyampingkan kepentingan organisai kedaerahan, kesukuan dan keagamaan (Widodo K Sutejo, 2012).
Pemuda selalu mengambil peran dalam setiap perjalanan sejarah bangsa. Rezim Orde Lama dan Orde Baru berakhir dengan turut sertanya gerakan pemuda (mahasiswa) di dalamnya. Tantangan dan masalah yang dihadapi pemuda senantiasa berubah sesuai dengan perubahan zaman. Saat ini kita memasuki dunia yang semakin terbuka dengan kemajuan teknologi informasi yang kian pesat.

BACA JUGA: Cara Smartfren Gali Potensi Kreatif Generasi Milenial

Kita saat ini ada di suatu masa dengan anak-anak muda yang dikenal sebagai generasi milenial atau dengan generasi Y. Menurut Tapscott (2009), ada tiga pembagian generasi, yakni generasi X (1965-1976), generasi Y (1977-1997), dan generasi Z (1998-sekarang). Sebagian besar peneliti sosial menyatakan generasi milenial lahir pada rentang tahun 1980 hingga 2000.

Generasi milenial sangat berbeda dari generasi sebelumnya, terutama dalam penguasaan teknologi. Generasi ini identik dengan keseharian yang sangat tergantung pada keberadaan teknologi. Mereka hidup dengan teknologi digital, penggunaan internet yang tinggi, dan lekat dengan media sosial baik instagram, twitter maupun facebook.

Pemuda zaman sekarang atau generasi milenial yang porsinya mencapai lebih dari 35 persen penduduk Indonesia memiliki potensi besar, baik dari sisi ekonomi, politik maupun sosial budaya. Di balik potensi besar itu, sebagian kalangan juga merisaukan perkembangan teknologi yang serba cepat bakal menggerus kehidupan sosial generasi ini. Alasannya, generasi milenial, cenderung hidup soliter, asyik dengan diri dan dunianya sendiri.

Kemajuan teknologi informasi di satu sisi memudahkan setiap individu memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa memerlukan interaksi dengan banyak orang. Interaksi mereka kerap lebih banyak di dunia maya dibanding kehidupan nyata. Interaksi sosial yang minim ini dikhawatirkan akan mendorong generasi milenial menjadi apatis dan kehilangan kepekaan pada kondisi sosial masyarakat sekitarnya. Spirit persatuan, solidaritas dan perjuangan kolektif yang dimiliki para pemuda di era-era sebelumnya dikhawatirkan semakin tergerus dan justru “hilang” di era milenial. Inilah salah satu tantangan bagi generasi milenial dari sisi sosial budaya.

Dari sisi politik porsi generasi milenial cukup signifikan. Merujuk data tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 255 juta jiwa, sebanyak 81 juta di antaranya masuk kategori generasi milenial. Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebutkan bahwa jumlah pemilih milenial mencapai 70 juta–80 juta jiwa dari 193 juta pemilih. Ini berarti sekitar 35–40 persen memiliki pengaruh besar terhadap hasil pemilu dan menentukan siapa pemimpin Indonesia era lima tahun ke depan. Generasi milenial yang sentiasa up to date dengan informasi dan teknologi, memiliki pandangan politik yang kerap diasosiasikan dengan informasi yang berkembang di media sosial.

Dari sisi ekonomi, peran generasi milenial juga strategis. Umumnya generasi milenial ini merupakan angkatan kerja baru, dan mereka harus memiliki kemampuan lebih dari generasi sebelumnya, karena kompetisi merebut lapangan kerja kian ketat. Generasi milenial yang lekat dengan teknologi digital juga mulai banyak yang bergerak sebagai entrepreneur. Mereka memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan wirausahanya.

Data terbaru Pasar Modal Indonesia mencatat lebih dari seperempat (26,2%) investor pasar modal pada 2017 atau 1,1 juta orang adalah generasi milenial. Generasi ini juga memiliki pola konsumsi dari offline ke online. Karena faktor lebih praktis, murah dan lebih cepat sehingga dunia usaha juga mulai mengubah pola distrubsi jasa dan barang mengikuti tren ini. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pada 2017 menyebutkan terdapat 143,26 juta jiwa pengguna Internet di Indonesia dan didominasi oleh generasi milenial.

Di tengah berbagai tantangan dan permasalahan yang dihadapi generasi milenial, tentu kita tetap mengharapkan spirit Sumpah Pemuda tetap menjadi pegangan mereka. Ikrar tokoh-tokoh pemuda 90 tahun lalu yang mengaku bertumpah darah satu, tanah Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia senatiasa hidup di dalam hati dan pikiran generasi milenial Indonesia.

Semangat dan spirit Sumpah Pemuda yang lahir dari Jong Java, Jong Soematranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, Jong Ambon, Sekar Roekoen dan Pemoeda Kaoem Betawi serta lainnya harus terus dijaga dan diwarisi.

Pendek kata, para pemuda di era milenial saat sekarang harus tetap mampu menghapuskan batas-batas kedaerahan, etnis, agama maupun partai politik untuk memajukan negara ini sesuai cita-cita Para Bapak Bangsa.(***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sambut Sumpah Pemuda dengan Berbagi untuk Sesama


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler