Merespons Perubahan Warna Pesawat Kepresidenan, Pengamat: Rakyat Miskin Akan Tergores Hatinya

Rabu, 04 Agustus 2021 – 22:20 WIB
Pakar komunikasi politik Univeristas Eza Unggul Jamiluddin Ritonga. dok for jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Pakar komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga turut mengomentari polemik perubahan warna pesawat Kepresidenan Republik Indonesia dari biru putih ke merah putih.

Jamiluddin menepis soal adanya isu yang mengaitkan perubahan warna pesawat tersebut bendera Partai Demokrat.

BACA JUGA: Reaksi Senator Angelo Soal Pengecatan Ulang Pesawat Kepresidenan, Menohok!

Menurut dia, pernyataan tersebut tentu mengada-ada. Sebab, pesawat kepresidenan RI awalnya berwarna biru putih. Sementara bendera dan pakaian Partai Demokrat berwarna biru dongker.

"Jadi, kalau ada yang mengaitkan kritik kader Demokrat dengan warna partainya, bisa jadi yang mengaitkan hal itu mungkin buta warna. Orang-orang seperti ini mungkin perlu pendamping dari ahli warna," kata Jamiluddin kepada JPNN.com, Rabu (4/8).

BACA JUGA: Demokrat Tidak Terima SBY Disalahkan soal Pesawat Kepresidenan, Ungkit Masa Lalu PDIP

Namun, dia sepakat dengan banjirnya kritik terhadap perubahan warna pesawat tersebut.

Pasalnya, di masa sulit seperti ini pemerintah seolah tak tahu skala prioritas.

BACA JUGA: Pesawat Kepresidenan Ganti Warna, Arteria Singgung Nama SBY dan Demokrat

"Saat ini, seharusnya perhatian sepenuhnya pada penanganan Covid-19. Termasuk tentunya alokasi anggaran semuanya diprioritaskan untuk penanganan Covid-19," ujar Jamiluddin.

Penulis buku Perang Bush Memburu Osama itu menyanyangkan pemerintah yang masih mengalokasikan anggaran untuk mengganti warna pesawat kepresidenan.

Menurut Jamiluddin, dana tersebut seharusnya diprioritaskan untuk membantu sebagian rakyat yang sudah susah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

"Tentu bagi rakyat miskin yang sudah susah untuk makan, akan tergores batinnya menyaksikan perubahan warna pesawat tersebut," tambah Jamiluddin.

Mantan dekan Fakultas Ilmu Komunikasi IISIP Jakarta itu menilai, kepekaan terhadap kepedihan rakyat inilah yang terkesan sudah luntur sebagian pimpinan negeri ini.

Padahal, kata dia, Presiden Jokowi sudah berulang kali mengingatkan perihalnya penting sense of crisis di saat pandemi Covid-19.

"Nyatanya, di Sekneg sendiri kepekaan terkesan sudah tumpul. Kiranya ini menjadi PR bagi presiden untuk menanamkan sense of crisis di lingkungan terdekatnya," pungkas Jamiluddin. (cr3/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Fransiskus Adryanto Pratama

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler