Miliki Competitive Advantage, Ekosistem Blibli Bisa Saling Menopang

Sabtu, 05 November 2022 – 17:07 WIB
Pengiriman barang di E-commerce Blibli (Ilustrasi). Foto dok Blibli

jpnn.com, JAKARTA - Peneliti dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Muhammad Andri Perdana mengatakan IPO Blibli memiliki competitive advantage tersendiri.

Di saat perusahaan-perusahaan startup lainnya mengalami kesulitan pendanaan, dana segar hasil IPO ini tentunya menjadi berita baik untuk Blibli.

BACA JUGA: Blibli Bakal Melantai di Bursa Saham, Bidik Rp 8 Triliun

“Sebanyak Rp 5,5 triliun dari Blibli itu digunakan untuk memperbaiki dari struktur modal, mengurangi utang, sehingga bisa mengurangi Debt Equity Rasionya (DER). Dengan penurunan DER ini, perusahaan menjadi lebih fleksibel dalam pengelolaan aset yang dimiliki, termasuk potensi pembagian dividen kepada investor di masa mendatang,” ujar Andri.

Andri menuturkan bagaimana perusahaan e-commerce omnichannel dengan model bisnis Blibli mampu berkembang pesat di luar negeri.

BACA JUGA: Jasa Raharja Gelar Pelatihan Gawat Darurat dan P3K untuk Tour Guide di Labuan Bajo

Dirinya mencontohkan Amazon dan Alibaba yang melakukan ekspansi secara masif melalui Amazon Express, Amazon Go, dan Amazon Prime.

Kemudian disusul Rakuten di Jepang yang fokus awalnya adalah platform diskon dan cashback, hingga memiliki bisnis perhotelan.

BACA JUGA: Gelar Pelatihan Sosial Media, Sahabat Sandi Uno Maros Dorong UMKM Punya Daya Saing Global

Lalu apakah Blibli berpotensi dapat berkembang seperti Amazon, Rakuten, maupun Alibaba?

Model bisnis ini menurut Andri sangat menarik karena mampu memberikan kemudahan bagi para pelanggannya.

“Mereka sustain karena memiliki bisnis di beberapa sektor usaha, sehingga ketika kondisi ekonomi sulit sekalipun, sebagian bisnis yang berkembang dapat menopang sektor bisnis lainnya yang terdampak ekonomi. Yang satu mengalami kesulitan, yang lain mengalami kenaikan,” paparnya.

Andri juga menilai wajar atas utang yang dimiliki oleh Blibli dan perusahaan startup lainnya. Menurutnya Startup memiliki utang untuk investasi serta pengembangan bisnisnya.

“Selama utang itu sehat dan terukur dari segi Debt to Equity Ratio, Profitabilitias dan Likuiditasnya, maka wajar-wajar saja, bukan masalah,” jelasnya.

Blibli yang akan melantai di bursa pada 8 November mendatang diperkirakan akan mengumpulkan dana sebesar Rp 7,9 triliun.

Dana tersebut akan dipergunakan untuk pembayaran saldo utang fasilitas, sementara sisanya akan dialokasikan sebagai modal kerja dalam mendukung kegiatan usaha.(chi/jpnn)


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler