Mimpi Buruk Seekor Monyet

Selasa, 07 Desember 2021 – 05:57 WIB
Eman Dapa Loka, salah satu tokoh asal Sumba yang tergabung dalam IKBS wilayah Jabodetabek berorasi dan membacakan puisi berjudul ‘Mimpi Buruk Seekor Monyet” saat aksi damai di depan Kantor Badan Penghubung Daerah NTT di Jakarta, Senin (6/12/20210). Foto: Friederich Batari/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Eman Dapa Loka, salah satu tokoh asal Sumba yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Sumba (IKBS) wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi) membacakan puisi berjudul ‘Mimpi Buruk Seekor Monyet” saat aksi damai di depan Kantor Badan Penghubung Daerah NTT di Jakarta, Senin (6/12/20210) 

Eman bersama sejumlah tokoh IKBS lainnya sempat berorasi dan membacakan puisi sebagai respons atas pernyataan Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang dinilai kurang etis kepada tokoh masyarakat di Sumba Timur.

BACA JUGA: Gelar Aksi di Kantor Perwakilan NTT, IKBS Jabodetabek Soroti Pernyataan Gubernur Viktor Laiskodat

Menurut Eman, niat baik untuk membangun harus dilakukan dengan cara yang baik dan terhormat. “Sebuah cara berkomunikasi yang baik adalah jalan kehormatan,” ucap Eman yang juga Alumnus SMA Katolik Anda Luri, Waingapu, Sumba Timur, NTT ini.

Menurut Eman, gubernur itu adalah teman seperjalanan, bukan tukang pemenjara orang. 

BACA JUGA: Adu Mulut Gubernur Viktor Laiskodat dan Tokoh Masyarakat Sumba Viral, Advokat Serfasius Merespons

“Jadi, jangan main ancam memenjarakan. Itu bukan tugas gubernur. Itu tugas penegak hukum," tegas Eman.

Eman mengingatkan Gubernur NTT Viktor Laiskodat untuk memperbaiki pola komunikasi dan memiliki kesadaran tentang budaya masyarakat Sumba.

BACA JUGA: Mahasiswa Asal NTT di Jakarta Desak Gubernur Viktor Laiskodat Mundur

Dia juga meminta Viktor Laiskodat untuk meminta maaf kepada rakyat jelata yang telah mengantarnya ke kursi terhormat sebagai Gubernur NTT.

Sebelum mengakhiri orasinya, Eman membacakan puisi.(fri/jpnn)

 

Puisi

Mimpi Buruk Seekor Monyet 

 

Oleh: Emanuel Dapa Loka

 

Angin kemarau bertiup di padang telanjang

Kuda-kuda keramat tunggangan para umbu dan rambu

dari parai marapu berlari melesat bagai anak panah,

lalu menikam puisiku

 

Awan yang sejak pagi menggantung di pusaran langit

dan hendak tersiram ke bawah,

agar bumi marapu menyemburkan wanginya,

berarak pergi jauh

sebab berang saat melihat di ujung mata

seekor monyet tua hendak menari

diiringi bait-bait mimpinya sendiri

 

Angin kemarau lalu bertiup

membawa aroma dari mulut berbau

yang menghamburkan beribu kata tak bermakna,

mantra tanpa tuah,

kecuali memicu terhunusnya amarah

Mimpi buruk membuncah,

memuncratkan bait-bait syair keramat

lalu membuatnya tergolek lemas

 

Ya, dia bermimpi buruk di siang tak bertuan,

lalu mengigau: “Monyet Kau!”

sambil menuding dengan telunjuknya sendiri

 

Dia lupa, empat jemarinya yang lain dengan kejam menikam dadanya sendiri.

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler