Minangkabau Etnis yang Sangat Terbuka

Kamis, 30 Desember 2010 – 00:00 WIB

JAKARTA - Wakil Gubernur Sumatera Barat, Muslim Kasim, menegaskan bahwa etnis Minangkabau sebagai salah satu suku bangsa di dunia adalah kumpulan masyarakat yang sangat nasionalis, rasional dan religius serta sangat terbuka terhadap berbagai perubahan

Hal tersebut dikatakan Muslim Kasim saat jadi narasumber dalam seminar budaya bertema "Pergeseran Nilai Sosial Budaya Masyarakat Minangkabau", yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Minang Jayakarta (KMM Jaya) Komisariat Universitas Negeri Jakarta (UNJ), di kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (29/12).

Bersama Muslim Kasim, juga hadir Rektor UNJ Prof Bedjo Sudjanto dan tiga pembicara lainnya masing-masing Zulfahnur, ustadzah Witra Moerad dan Yus Dt Parpatiah Guguak, dihadiri sedikitnya 250 mahasiswa UNJ asal Sumatera Barat

BACA JUGA: Sudah Enam Warga Diterkam Beruang

Menurut Muslim Kasim, sikap nasionalis, rasional dan religius serta sangat terbuka itu bukanlah hal baru bagi etnis Minang


"Filosofinya ada, dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung

BACA JUGA: Sebar 20 Outlet Kondom Gratis

Ini merupakan betapa sangat terbukanya orang Minang terhadap sebuah perubahan," tegas mantan Bupati Padang Pariaman itu.

Menyadari betapa sangat dinamisnya masyarakat Minang itu, Wakil Gubernur Sumbar Muslim Kasim lebih lanjut menyampaikan sikap Pemprov Sumbar
"Dari sisi pendidikan, Pemprov Sumbar telah menjadikan filosofi Adat Bersandi Syarak dan Syarak Bersandikan Kitabullah (ABS SBK) sebagai kurikulum lokal bagi seluruh peserta didik di Sumbar," tegas Muslim.

Menjadikan ABS SBK sebagai kurikulum lokal, katanya, justru untuk mendorong berbagai perubahan nilai-nilai ke arah yang lebih baik bagi etnis Minang

BACA JUGA: Kaget Kalah 0-3, Pendukung Garuda Tewas

Selain itu, Muslim juga mengungkap komitmen Pemprov Sumbar terhadap kemajuan dunia pendidikan di Ranah Minang

"Pemprov telah memiliki dana abadi untuk penunjang pendidikan sebesar Rp50 miliarDana itu secara khusus diperuntukan bagi bea siswa pelajar dan mahasiswa asal Sumbar dimanapun mereka belajarTermasuk mahasiswa UNJ," ungkap Muslim.

Sementara Rektor UNJ, Bedjo Sudjanto menyambut baik upaya mahasiswa Minang di UNJ yang telah menyelenggarakan seminar iniMenurut rektor, kegiatan ini bukanlah eksklusifisme, tapi inilah Indonesia yang memang kaya dengan keberagaman.

"Tapi ingat, jangan hanya bangga jadi mahasiswa UNJAda sebuah tanggung sosial yang harus dipikul yakni tetap mempertahankan jatidiri sebagai orang Minang," kata Bedjo Sudjanto.

Sama halnya dengan Wagub Muslim Kasim, Rektor UNJ juga menilai adat dan kebudayaan Minang sangat dinamis dan selektif dalam menyikapi perubahan tanpa meninggalkan jatidirinya.

Sedangkan pembicara lainnya, Witra Moerad mengungkap hasil penelitiannya terhadap panti rehabilitasi wanita pekerja sek komersial di Solok"Dari keseluruhan wanita pekerja sek komersial yang menghuni panti rehabilitasi terdapat sekitar 90 persen wanita berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Barat," kata Witra Moerad.

"Apakah gejala ini merupakan efek negatif dari sebuah perubahan, atau lantaran kegamangan etnis Minang dalam memasuki perubahan, itu juga harus dijawab dengan sebuah penelitian yang objektif dan terukur," imbuhnya(fas/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Solar Langka, Gelombang Tak Menentu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler