MIND ID Berperan Sentral Dalam Kegiatan Hilirisasi dan Transisi Energi

Kamis, 17 November 2022 – 06:07 WIB
Peneliti dari Aplha Research Database Ferdi Hasiman (kiri) bersama Pakar Geologi dan Pertambangan R Sukhyar saat berbicara dalam sebuah diskusi bertajuk Peran Pertambangan Dalam Transisi Energi dan Hilirisasi. Foto: Dokumentasi pribadi.

jpnn.com, JAKARTA - Transisi energi tetap menjadi fokus pemerintah demi mencapai target Nett Zero Emission pada tahun 2060.

Berbagai langkah dilakukan terutama di sektor transportasi dan ketenagalistrikan.

BACA JUGA: 3 Mandat Pemerintah untuk MIND ID, Nikel Jadi Komponen Kunci

Di sektor ketenagalistrikan, Pemerintah terus mendorong untuk mengurangi konsumsi batu bara di pembangkit listrik.

Selain menetapkan secara bertahap untuk pensiunkan, Pemerintah juga melakukan berbagai langkah seperti co-firing dan mulai menjajaki pemanfaatan teknologi Carbon Capture Utilization anda Storage (CCUS).

BACA JUGA: 2030, Grup MIND ID Targetkan Penurunan Emisi Karbon Capai 28 Persen

Sementara di sektor transportasi untuk mengurangi konsumsi BBM, Pemerintah kemudian membangun ekosistem kendaraan listrik.

Terkait dengan pengembangan kendaraan listrik itulah, Indonesia memiliki nilai lebih karena memiliki potensi sumber daya nikel yang cukup besar. Nikel menjadi salah satu bahan baku penting untuk pembuatan baterai listrik.

BACA JUGA: Ini Langkah MIND ID dalam Mendukung Target NZE 2060

Selain itu produk tambang mineral lain yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik pun ada di Indonesia.

“Indonesia sesungguhnya punya keunggulan dalam ketersediaan bahan baku sehingga bisa menjadi pemain penting dalam peta industri kendaraan listrik,” ujar Pakar Geologi dan Pertambangan R Sukhyar dalam sebuah diskusi bertajuk Peran Pertambangan Dalam Transisi Energi dan Hilirisasi, kemarin.

Menurut Sukhyar, hilirisasi pertambangan tidak hanya mendatangkan nilai tambah dari sisi produk tetapi akan membantu Pemerintah Indonesia untuk melaksanakan transisi energi.

“Indonesia punya potensi energi baru dan terbarukan baik itu panas bumi, PLTS, Tenaga Bayu, Mini Hydro dan banyak lagi. Namun selama ini teknologi dan peralatannya masih diimpor. Dengan potensi sumber daya tambang yang kita miliki harusnya kita bisa memproduksinya dalam negeri,” tegas Sukhyar.

Terkait dengan itu, dia pun mendorong BUMN Tambang yang tergabung dalam Mining Industry Indonesia (MIND ID) untuk mengambil peran ini.

MIND ID lewat anak usahanya memiliki kemampuan untuk menjadi motor penggerak dalam menyediakan teknologi dan peralatan yang dibutuhkan dalam mewujudkan transisi energi di Indonesia,” tegas mantan Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara tersebut.

Menurut dia, hal ini bisa dimulai dengan melakukan hilirisasi atas produk-produk tambang.

“Mind ID jangan lagi bermain pada produk-produk antara tetapi diarahkan pada produk-produk yang lebih ke hilir bahkan sampai ke produk manufaktur. Karena kalau masih bermain di produk antara sudah tertinggal dari perusahaan-perusahaan yang ada sekarang. BUMN Tambang seharusnya mampu untuk hal itu,” terang R Sukhyar.

Namun Sukhyar berpesan agar MIND ID harus lebih luwes dalam bergerak sehingga bisa memanfaatkan momentum ini dengan baik.

Sementara Ferdi Hasiman, Peneliti dari Aplha Research Database mengatakan sebagai bagian dari masyarakat global Indonesia memang harus melaksanakan transisi energi.

“Apalagi saat ini mengurangi konsumsi BBM sudah menjadi keharusan karena selama ini negara ini tersandera oleh subsidi BBM. Makanya yang harus didorong adalah mengurangi konsumsi BBM dan gas diantaranya lewat kendaraan listrik,” ungkap Ferdi.

Ferdi juga menegaskan MIND ID punya dengan anak usahanya yang menguasai hampir semua sumber daya tambang mampu mewujudkan hal tersebut.

Menurut Ferdi, sekarang sudah mulai terlihat lewat beberapa kerja sama yang dibangun dengan beberapa produsen kelas dunia. Jika ini berjalan tentu akan memberi manfaat yang lebih besar bagi negara.

“Selain mendatangkan nilai tambah juga mendukung upaya Pemerintah dalam melaksanakan transisi energi,” ujar Ferdi Herdiman.(fri/jpnn)


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler