Miris! Kemenangan Brexit Picu Merebaknya Aksi Rasial

Rabu, 29 Juni 2016 – 06:42 WIB
Foto: Robin Millard/AFP

jpnn.com - LONDON – Tidak hanya membuat masyarakat Inggris terbelah, hasil referendum British Exit alias Brexit yang berpihak kepada kubu leave, juga memicu masalah rasial. 

Hingga Minggu (26/6), vandalisme meningkat di ibu kota Inggris dan sekitarnya.

BACA JUGA: Polisi Sempat Bergulat dengan Pelaku Bom di Bandara Turki

’’Tinggalkan UE. Tidak akan ada lagi orang-orang miskin Polandia,’’ tulis kelompok anti-imigran dalam selebaran-selebaran rasial. 

Pascareferendum, mereka sengaja menyebarluaskan selebaran-selebaran tersebut di seluruh penjuru Kota London. Mereka juga menyelipkan selebaran itu di kaca depan mobil-mobil yang parkir atau menempelkannya di dinding-dinding sekolah atau tempat-tempat publik.

BACA JUGA: MENCEKAM! Begini Kronologi Serangan Bom Bunuh Diri di Bandara Istanbul

Aksi vandalisme teranyar muncul di Polish Social and Cultural Association di Distrik Hammersmith, sisi barat London. Kelompok yang tidak bertanggung jawab mengotori gedung tersebut dengan menuliskan kata-kata rasial di sana. 

’’Jumlah korban kejahatan rasial meningkat sejak referendum Brexit,’’ ungkap Sayeeda Warsi, politikus Partai Konservatif yang hengkang dari kubu leave beberapa saat menjelang voting.

BACA JUGA: Tiga Bom Bunuh Diri Serang Bandara di Turki, 32 Tewas

Dalam wawancara dengan Sky News, perempuan berdarah Pakistan itu telah berdialog dengan kelompok dan individu yang selama ini aktif memerangi hal-hal berbau rasial. 

’’Akhir pekan lalu, kami kembali bertemu dan mereka mengatakan bahwa jumlah kasus kejahatan rasial meningkat sejak Brexit menang dalam referendum pekan lalu,’’ papar tokoh 45 tahun tersebut.

Selain aksi coret-coret bangunan dan fasilitas umum, kelompok fanatik pendukung Brexit melakukan aksi frontal di jalanan. Salah satunya adalah aksi mencegat dan mengusir para pendatang. 

’’Dengar, kami sudah memilih leave. Sudah waktunya buat kalian semua untuk angkat kaki dari negara ini,’’ kata salah seorang oknum sebagaimana dipaparkan polisi yang mencatat keluhan warga kemarin.

’’Mereka (kelompok anti-imigran, Red) mengucapkan kata-kata yang tidak sopan kepada warga yang sudah tinggal di sini selama tiga, empat, atau bahkan lima generasi. Atmosfer di lapangan sudah tidak kondusif,’’ ujar Warsi. Dia menganggap kelompok yang diyakininya berasal dari kubu leave itu sudah keterlaluan. 

Tetapi, sejak awal referendum, kubu leave memang menebarkan banyak benih kebohongan, kebencian, dan xenofobia.

Pada Senin (27/6), Muslim Council of Britain merilis laporan berbau rasial. Ada sedikitnya 100 kejadian rasial yang mereka kutip dari media sosial dan kemudian mereka rekam. 

’’Kami menjadi saksi hidup meningkatnya ujaran kebencian dan kejahatan yang menarget kaum minoritas belakangan ini,’’ ucap Sekjen Muslim Council of Britain Shuja Shafi.

Dia lantas mengimbau Kementerian Dalam Negeri lebih memperhatikan kaum pendatang. Secara khusus, Shafi minta pemerintah pusat memberikan perlindungan ekstra kepada imigran. 

’’Kini kami membutuhkan kepemimpinan yang tegas. Negeri ini sedang jatuh dalam krisis politik yang bisa berdampak sangat buruk terhadap stabilitas sosial,’’ paparnya.

Di kawasan Huntingdon, Cambridgeshire, kebencian terhadap pendatang asal Polandia meningkat pesat. Kelompok anti-imigran bahkan melempari mereka dengan batu. 

’’Mereka yang tertangkap tangan menyebarkan selebaran rasial akan kami tangkap dan kami jerat dengan pasal pidana dengan ancaman hukuman tujuh tahun penjara,’’ tegas Martin Brunning, salah seorang pejabat polisi di Cambridgeshire.

Dia mengakui, aksi kejahatan rasial meningkat tajam pasca kemenangan Brexit. Jika pada bulan lalu tercatat 54 aksi rasial, jumlahnya meningkat menjadi 85 kasus selama Kamis (23/6) hingga Minggu.

Sementara itu, PM Inggris David Cameron akhirnya sepakat bertemu dengan para pemimpin UE kemarin (28/6). Namun, dia tetap belum akan menetapkan tanggal perceraian Inggris dari UE. 

’’Sebelum mengaktifkan pasal 50 Lisbon Treaty, kita perlu menentukan lebih dulu seperti apa hubungan kita selanjutnya dengan UE nanti. Semua itu bergantung kepada PM dan kabinet baru,’’ tutur pemimpin 49 tahun itu di hadapan parlemen.

Di sisi lain, Kanselir Jerman Angela Merkel bersama Presiden Prancis Francois Hollande dan PM Italia Matteo Renzi mendesak Cameron segera menyebut tanggal.

Sebab, tanpa tanggal pasti, kekacauan ekonomi dan politik di UE pasca-Brexit bakal terus berlanjut. ’’Tidak akan ada pertemuan formal maupun informal tentang Brexit sebelum dokumen Inggris (tentang Brexit, Red) lengkap,’’ kata Merkel.

Di tempat terpisah, Menteri Kesehatan Jeremy Hunt menyatakan bahwa usulan sebagian masyarakat tentang referendum kedua adalah hal yang masuk akal. Asalkan, hasilnya tetap sama. Yakni, kemenangan Brexit. 

’’Inggris harus tetap melakukan kerja sama dagang dengan UE dalam zona perdagangan bebas. Tapi, semua itu sebaiknya dilakukan tanpa membebaskan akses warga UE ke Inggris,’’ tandasnya. (AFP/Reuters/CNN/hep/c14/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Nobar Italia vs Spanyol, BUAAR..Granat Meledak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler