Mobil Murah Sedot Investasi Rp 78 T

Sabtu, 27 September 2014 – 07:57 WIB

jpnn.com - JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) berharap pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla tetap melanjutkan program mobil murah ramah lingkungan (low cost green car/LCGC). Sebab, program yang dimulai setahun lalu itu telah membawa iklim positif bagi investasi.

Direktur Alat Transportasi Darat Kemenperin Soerjono mengungkapkan, program LCGC menarik investasi baru dan mengembangkan industri komponen dalam negeri. ’’Investasi yang sudah masuk mencapai USD 6,5 miliar (sekitar Rp 78 triliun). Investasi itu terdiri atas USD 3 miliar untuk perakitan dan USD 3,5 miliar pabrik komponen,’’ ujarnya.

BACA JUGA: Pilkada Tak Langsung, Asing Kabur

Program LCGC, lanjut dia, memberikan efek bergulir (multiplier effect) yang positif bagi iklim investasi di tanah air. Di samping itu, penyerapan tenaga kerjanya sangat besar. ’’Investasi sebesar itu sudah menyerap 200 ribu tenaga kerja. Jika ini tetap dilanjutkan, investasinya akan terus bertambah. Bukan saja prinsipalnya, tapi juga industri pendukung dan komponennya,’’ kata dia.

Selain itu, program mobil murah diperlukan untuk menangkal masuknya mobil-mobil sejenis yang dipasarkan Thailand dan Malaysia pada era perdagangan bebas ASEAN (Masyarakat Ekonomi ASEAN /MEA) akhir 2015.

BACA JUGA: PLTU Kanci Meledak, BPJS Ketenagakerjaan Cirebon Lakukan Investigasi

’’Kalau kita tidak punya LCGC, sudah pasti mereka masuk dengan produk yang murah dan bakal membanjiri pasar kita. Daripada diisi produk luar, mending kita isi dengan produk dalam negeri. Toh, kandungan lokalnya sudah mencapai sekitar 80 persen,’’ tegasnya.

Soerjono menilai, populasi mobil murah masih sangat kecil bila dibandingkan dengan jumlah penduduk. Apalagi kontribusinya baru 14 persen dari total penjualan mobil nasional. Karena itu, sebaiknya program LCGC terus dilanjutkan. ’’Dari segi konsumsi bahan bakar, LCGC itu sangat hemat. Sudah seperti sepeda motor. Kalau mobil biasa seliter cukup untuk 12 km, mobil murah bisa 20 km,’’ ungkapnya.

BACA JUGA: Thailand Undang RI Pasok Baja

Bila program LCGC diteruskan, Soerjono yakin terjadi peningkatan industri komponen di Indonesia. Sebab, LCGC menuntut penggunaan komponen dalam negeri yang sangat tinggi. ’’Cukup realistis kalau kami menargetkan 100 industri komponen baru akan muncul jika program LCGC ini dilanjutkan,’’ jelasnya.

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Sudirman M.R. menegaskan, sejauh ini kebijakan pemerintah mendorong produksi masal LCGC sudah tepat. Sebab, program mobil murah itu berdampak positif pada sisi ekonomi. ’’Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengorientasikan industri otomotif bagi penopang perekonomian,’’ tandasnya. (wir/c14/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... BRI Sabet Penghargaan The Best Domestic Bank 2014


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler