Moeldoko: Keluarga Morat-Marit, Ketahanan Nasional Rawan

Selasa, 31 Juli 2018 – 21:54 WIB
Ilustrasi Pancasila. Foto: JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko meminta masyarakat terutama para tokoh terus mengamalkan nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Moeldoko, Pancasila adalah satu-satunya kunci untuk menangkal perpecahan, radikalisme dan ideologi asing.

BACA JUGA: Hebat Siapa, Prabowo atau Moeldoko?

“Bila seorang pemimpin itu lakunya penuh noda, bagaimana anak muda bisa percaya tentang kebaikan Pancasila?” kata Moeldoko dalam keterangannya, Selasa (31/7).

Pembekuan organisasi Jaringan Ansharut Daulah (JAD) oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (31/7) pagi tadi, menurutnya, menandakan secara nyata ada pihak-pihak yang sengaja merongrong ideologi Pancasila.

BACA JUGA: Pilpres 2019: HKTI Papua Resmi Dukung Jokowi - Moeldoko

Selain upaya hukum, ada juga usaha lain yang ampuh melestarikan Pancasila, tanpa harus berbentuk indoktrinasi.

Seperti yang pernah dipraktikkan di Indonesia di masa lalu. Menurut Moeldoko, keteladanan adalah kunci utama.

Dalam tataran yang lebih praktis lagi, Moeldoko berpendapat bahwa internalisasi nilai-nilai Pancasila bisa dilakukan dari lingkup keluarga.

BACA JUGA: Moeldoko Coba Tularkan Pertanian ke Anak Muda

Semisal dengan cara melatih anak berterima kasih, meminta maaf, atau mengucapkan minta tolong dan mau memberi pertolongan kepada anggota keluarga, tetangga dan orang lain.

“Ketahanan keluarga itu berjalan, maka ketahanan nasional akan terbentuk. Kalau keluarga morat-marit, anak terkena narkoba, sudah mesti ketahanan nasional kita menjadi rawan,” kata dia.

Menurutnya, ketauladanan keluarga menjalankan nilai luhur Pancasila akan lebih efektif bagi generasi muda sekarang, ketimbang menggunakan pendekatan indoktrinasi.

“Mereka lebih senang cara komunikatif, partisipatif dan interaktif,” tegasnya.

Sementara, Satuan Tugas Khusus (Satgassus) Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Benny Susetyo menjelaskan sejauh ini mereka sudah mengadakan berbagai kegiatan untuk menginternalisasi nilai-nilai Pancasila.

Mulai dari seminar, workshop, hingga roadshow ke berbagai lembaga pendidikan.

“Kami ingin mengamalkan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari dan jadi kebiasaan di masyarakat,” kata dia.

Menurutnya, contoh pengamalan Pancasila yang paling relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari adalah menerima perbedaan dan saling menghargai.

“Tradisi tidak diskriminatif itu kan sudah jalan sejauh ini,” kata Benny.

Dari segi pemerintah, menurutnya, sudah melaksanakan salah satu sila, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Pembangunan Indonesia Timur, BBM satu harga, pemerataan jawa-luar jawa itu kan cita-citanya untuk menghapus kesenjangan ekonomi,” ucapnya lagi.

Benny mengungkapkan bahwa BPIP sedang menjajaki untuk memasukkan nilai-nilai Pancasila dalam materi pendidikan.

Baik itu dalam bentuk buku khusus atau diintegrasikan dalam mata pelajaran yang sudah ada. (tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Muncul Slogan Jokomoe demi Dukung Jokowi - Moeldoko


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler