Mr. Y

Dhimam Abror Djuraid

Sabtu, 06 November 2021 – 15:19 WIB
ILUSTRASI. Logo PSSI. Foto: Amjad/JPNN

jpnn.com - Mister Y menjadi manusia misterius yang tengah menjadi sorotan penggemar dan pemerhati sepak bola di Indonesia.

Dia muncul di talk show Mata Najwa, mengaku sebagai wasit Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia atau PSSI, dan mengungkapkan bahwa dia sudah dua kali memimpin pertandingan Liga 1, liga tertinggi PSSI, dan teribat dalam match fixing, pengaturan skor, dalam dua pertandingan itu.

BACA JUGA: Khusus Pemain Sepak Bola Indonesia di Luar Negeri, Ini ada Peringatan dari PSSI

Otoritas sepak bola nasional seolah-olah kaget. Publik sepak bola seolah terkejut dengan pengakuan itu. Ternyata masih banyak mafia sepak bola yang berkeliaran. Ternyata masih banyak pejudi pengatur skor. Ternyata kepengurusan PSSI masih sama saja dari dahulu sampai sekarang.

Apa yang diungkapkan Mr. Y itu lagu lama, tidak ada yang baru. Pengaturan skor, suap pemain dan pelatih, dan oknum PSSI yang terlibat, adalah lagu lama yang diputar berkali-kali.

BACA JUGA: Ini Hukuman dari PSSI Bagi Pelaku Pengaturan Skor, Ngeri!

Toh demikian, tidak pernah ada penyelesaian yang tuntas dari PSSI dan dari otoritas negara. Judi jalan terus, mafia jalan terus, kepengurusan PSSI jalan terus.

Yang dilakukan PSSI malah lucu. Alih-alih berusaha membongkar praktik busuk atas informasi dari Mata Najwa, PSSI malah sibuk menggugat Mata Najwa supaya membuka identitas Mr. Y.

BACA JUGA: PSSI Pastikan Akan Tindak Tegas Pelaku Pengaturan Skor

Semua mafhum bahwa identitas narasumber yang dirahasiakan dijamin oleh undang-undang pers.

Sudah pasti Mata Najwa tidak akan mengungkap identitas Mr. Y. Mengungkap identitas narasumber adalah pengkhianatan terhadap profesi jurnalis.

Najwa akan memilih konsekuensi hukum daripada menyerahkan identitas narasumber kepada PSSI.

PSSI akan menempuh jalur hukum untuk membatalkan imunitas hak tolak media. PSSI juga akan mengadu ke Dewan Pers untuk bisa membatalkan kekebalan media dalam urusan merahasiakan narasumber.

Bukannya sibuk melawan mafia, PSSI malah sibuk melawan media. Sejarah pers Indonesia sudah membuktikan bahwa para jurnalis siap memilih penjara ketimbang mengorbankan idealisme.

Sikap PSSI yang konfrontatif pasti akan mengundang solidaritas media yang luas. Semua organisasi media mungkin masih mau berdiri di depan Najwa untuk menjadi benteng menghadapi PSSI.

Apa yang diungkap Mata Najwa hanyalah asap yang muncul dari sebuah kebakaran. Tidak akan ada asap kalau tidak ada api.

PSSI bukannya berterima kasih kepada media yang sudah mengungkapkan asap. PSSI bukannya mencari api yang menjadi penyebab munculnya asap dan memadamkannya. PSSI malah sibuk membersihkan asap dan membiarkan api tetap menyala-nyala.

Mafia pengatur skor jelas-jelas ada di depan mata. Namun, penyelesaian yang dilakukan PSSI dari dahulu sampai sekarang tidak pernah ada kemajuan.

Pemain yang terlibat dalam atur skor dipecat dan dengan begitu persoalan dianggap sudah selesai. Padahal, para pemain itu hanyalah aktor kecil dari drama besar mafia sepak bola Indonesia. Sutradara dan produsernya tidak pernah disentuh, apalagi ditindak dan diadili.

Para pemain yang dipecat itu hanya figuran kecil saja. Mr. Y yang mengatur skor pertandingan itu hanya aktor kecil saja.

Ada sutradara dan produser besar yang mengendalikan mereka. Ada operator-operator yang mengatur mereka.

Ada organisasi bayangan yang beroperasi dalam senyap, dengan sistem jalur komando terputus, dan sistem sel yang terputus. Satu lapis dengan lapis lainnya terisolasi tidak saling kenal.

Dahulu ada satuan tugas antimafia sepak bola yang diinisiasi oleh Polri. Ada operasi besar dan beberapa penangkapan penting dilakukan di Yogyakarta dan di Surabaya. Publik gembira dan menaruh harapan terhadap tim antimafia ini.

Para pemerhati sepak bola Indonesia sudah mengenal orang-orang yang ditangkap itu. Mereka disebut-sebut sebagai bagian dari jaringan mafia pengatur skor. Namun, publik sepak bola juga tahu bahwa mereka hanya pemain kelas papan tengah, bukan papan atas.

Para pemain di papan atas masih tetap ongkang-ongkang belum tersentuh. Di Jawa Timur sempat ada dua pemain papan atas yang dilaporkan ke satgas antimafia. Dua orang itu sudah seperti ‘’brother in arms’’ dalam sepak bola Indonesia.

Keduanya saling bahu-membahu sebagai operator papan atas.

Dua orang itu diduga menerima sejumlah uang tidak halal untuk pengaturan sebuah turnamen. Ada bukti transfer kepada rekening dua orang itu. Seperti sebuah tendangan penalti dalam pertandingan sepak bola, publik menunggu eksekusi dengan penuh antusias.

Ternyata eksekusi mengecewakan. Tendangan penalti melambung tinggi di atas mistar gawang. Tidak ada eksekusi, laporan mandeg tidak berlanjut. Suporter sepak bola di Gelora 10 November Tambaksari pasti sudah berteriak-teriak, ‘’Maling…maling…’’.

Seorang operator judi bola muncul membuat pengakuan dosa. Dia berani tampil di televisi nasional dan membongkar praktik mafia judi internasional, yang melibatkan banyak pihak di Indonesia. Dia disebut-sebut sebagai salah satu ‘’runner’’ paling aktif di Indonesia.

Dia berani pasang badan, tetapi sampai sekarang tidak pernah ada upaya serius untuk menindaklanjuti kasusnya.

Seorang petinggi PSSI di masa lalu sudah pernah tampil di televisi nasional, dan sudah hampir mau buka-bukaan soal atur skor internasional yang melibatkan timnas PSSI dengan tim negeri jiran Malaysia.

Dalam sebuah turnamen, pemain-pemain Indonesia dicurigai menerima suap dan sengaja mengalah kepada Malaysia.

Para pemain itu berbicara secara terbuka kepada media mengenai kemungkinan adanya mafia pengatur skor.

Namun, mereka menyanggah terlibat di dalamnya. Sang petinggi PSSI itu juga mengakui kemungkinan adanya mafia pengatur skor. Dia hampir siap membongkar jaringan itu, kendati risikonya dia juga sangat mungkin terlibat di dalamnya.

Semuanya menguap begitu saja tanpa bekas. Sang petinggi tidak mungkin lagi bisa memberi testimoni di dunia. Dia sudah pergi, dan mungkin akan memberi testimoni di akhirat di depan pengadilan Ilahi.

Sebagaimana dalam serial ‘’The Godfather’’, jaringan mafia itu begitu rapi dan terorganisasi dengan baik. Pada lapis tertinggi ada ‘’Don Corleone’’ sebagai supremo, sang pemimpin tertinggi.

Sang supremo tidak perlu punya jabatan resmi dalam struktur organisasi, tetapi dia mengoperasikan organisasi bayangan yang sangat powerful.

Ketua organisasi boleh berganti siapa saja. Namun, para operator kelas atas tetap menguasai struktur organisasi. Mereka layaknya ‘’The Untouchables’’ orang-orang yang tidak tersentuh dalam sebuah jaringan rahasia.

Dalam tradisi mafia, nama Don Corleone tidak pernah boleh disebut dalam percakapan, cukup dengan isyarat tertentu seperti menyentuh telinga. Sang supremo benar-benar tokoh yang misterius dan enigmatik.

Dalam kisah ‘’The Untouchables’’ Eliot Ness akhirnya bisa membongkar jaringan mafia besar di Chicago yang dipimpin oleh Al Capone. Keberanian dan kegigihan Eliot Ness akhirnya bisa menyentuh Al Capone dan menyeretnya ke pengadilan.

Sejarah mengajarkan bahwa cepat atau lambat jaringan mafia sehebat apa pun pasti akan terbongkar. Tidak ada yang menyangka seorang Eliot Ness bisa meringkus Al Capone yang digdaya.

Hal yang sama bisa terjadi di mana saja, kejahatan terorganisasi sehebat apa pun akan keropos dari dalam dan akan terbongkar kedoknya.

Di Indonesia jaringan mafia itu tidak terlihat nyata, tetapi ada. Mungkin juga tidak sebesar Al Capone atau Don Corleone, tetapi jaringannya sama-sama rapat dan rapi jali.

Sulit menembus jaringan itu karena antar-jaringan saling membantu dan saling melindungi. Jargon para mafia sepak bola Indonesia masih tetap berlaku sampai sekarang, ‘’tali rafia tali sepatu, sesama mafia harus bersatu’’. (*)


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler