MU di Antara Bayang-bayang Kutukan, Semoga Solskjaer Bisa Mengakhirinya

Kamis, 29 April 2021 – 19:26 WIB
Manajer Manchester United Ole Gunnar Solskjaer menyaksikan timnya berlaga dalam leg kedua perempat final Liga Europa melawan Granada di Old Trafford, Manchester, 15 April 2021. (AFP/OLI SCARFF)

jpnn.com, INGGRIS - Ole Gunnar Solskjaer belum pernah melewati empat besar dalam kompetisi piala mana pun sepanjang menjadi pelatih Manchester United (MU).

Kini, dia mendapatkan kesempatan untuk mengakhiri kutukan tersebut, saat MU lolos ke semifinal Liga Europa dan akan berhadapan dengan tim yang memiliki kenangan indah untuk dihadapi, AS Roma.

BACA JUGA: Pochettino Masih Saja Jemawa Sebut Punya Kunci Kemenangan Lawan City

Pendukung United pun mendambakan klubnya meraih trofi pertama sejak juara Liga Europa 2017 di bawah kepemimpinan Jose Mourinho.

Mereka sudah empat kali hanya bisa nyaris mendapatkan hal tersebut.

BACA JUGA: Pesan Guardiola untuk Para Pemainnya Lawan PSG di Leg Kedua Nanti

Entah itu dua kekalahan dalam semifinal Piala Liga melawan Manchester City, sekali kalah melawan Chelsea dalam Piala FA tahun lalu, atau kalah dalam empat besar Liga Europa melawan Sevilla tidak lama kemudian, United selalu tersandung saat terakhir kali dikomandani Solskjaer.

Kemenangan atas Granada dalam delapan besar musim ini telah memberi Solskjaer kesempatan kelima untuk melaju ke final dan AS Roma bisa saja memperpanjang penderitaan pelatih asal Norwegia itu.

BACA JUGA: Dapat Bocoran dari Orang Dalam, Roma Sudah Tahu Cara Menaklukkan MU

Namun, pertarungan melawan Roma menimbulkan kenangan indah di Eropa bagi Solskjaer.

Larena tim Italia itu pula yang menjadi lawan terakhirnya di kancah Eropa saat membela United.

Setelah kalah 1-2 pada leg pertama perempat final Liga Champions 2006-2007 di Roma, United balik mengalahkan 7-1 tim Italia itu pada leg kedua.

Ketika itu Solskjaer masuk sebagai pemain pengganti pada babak kedua.

"Saya menjadi starter pada leg pertama itu, tetapi tidak ingat apakah saya menuntaskannya karena kami bermain dengan 10 pemain dan memperoleh hasil bagus," kata Solskjaer dalam jumpa pers seperti dikutip Reuters.

"Dia (manajer Sir Alex Ferguson) yakin kami bisa lolos tetapi malam itu di Old Trafford ajaib. Kami bersemangat dan menunjukkan apa yang bisa dilakukan United."

Solskjaer gantung sepatu akhir musim itu dan memulai karir pelatih pada akademi United setahun kemudian.

Kini, ketika musim ketiganya sebagai pelatih United hampir berakhir, masa transisi telah berakhir dan paceklik trofi berkepanjangan tidak bisa lagi ditoleransi.

Roma sempat nyaman masuk empat besar Serie A pada pergantian tahun, tetapi hanya sekali menang dalam tujuh pertandingan liga terakhirnya membuat mereka melorot ke urutan ketujuh sehingga tekanan kepada pelatih Paulo Fonseca pun meningkat.

Tersingkir dari Liga Europa sudah pasti mempercepat kepergian Fonseca. Media massa Italia pun sudah menyebut mantan manajer Napoli, Chelsea dan Juventus, Maurizio Sarri, menjadi calon penggantinya.

"Kami pasti berpeluang besar lolos, kami memang punya tim yang lebih baik," kata mantan bek United, Wes Brown, yang juga turut bermain saat menang 7-1 itu, kepada Reuters.

"Kami tersingkir dalam semifinal beberapa tahun terakhir, saya hanya berharap para pemain belajar dari itu."

"Mencapai final adalah rintangan yang sungguh harus mereka lewati. Para pemain bermain bagus dan dengan pengalaman yang mereka punya sebelumnya, mereka bisa terus maju. Ini bakal bagus untuk Ole juga."

United tengah dalam kondisi bagus belakangan ini dengan hanya sekali kalah dalam 21 pertandingan terakhir mereka pada semua kompetisi.(Antara/jpnn)


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler