Musta’ribeen, Agen Israel di Tengah Demonstran Palestina

Rabu, 20 Desember 2017 – 18:04 WIB
Musta’ribeen marah ketika dipotret saat menangkap seorang demonstran Palestina di Gaza. Foto: Reuters

jpnn.com, GAZA - Teriakan Musta’ribeen terdengar berkali-kali di Palestina selama beberapa pekan terakhir. Tepatnya, sejak Presiden AS Donald Trump menyatakan pengakuannya atas Jerusalem sebagai ibu kota Israel.

Kata yang berarti mata-mata militer Israel itu kian santer terdengar seiring intensitas demo warga Palestina. Musta’ribeen menyusup di antara demonstran, lalu menangkapi mereka.

BACA JUGA: Semoga Pak Jokowi Sepenuh Hati Membela Rakyat Palestina

Sejak Trump bikin pernyataan kontroversial pada Rabu (6/12), sudah ratusan warga Palestina yang ditahan militer Israel (IDF). Selain itu, 10 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza ikut tewas.

Musta’ribeen berarti orang yang menguasai bahasa dan budaya Arab. Pakar masalah Israel Antoine Shalhat mengungkapkan bahwa mereka bukanlah agen biasa. Anggota Musta’ribeen dilatih khusus sebelum diterjunkan ke lapangan.

BACA JUGA: Isu Palestina Untungkan Politikus yang Terjerat Kasus e-KTP

Pelatihan mencakup bahasa Arab, pengucapan dan dialeknya, budayanya, serta bagaimana cara umat muslim puasa dan salat. Mereka harus menguasai betul bahasa Arab seakan-akan itu adalah bahasa ibu yang mereka pakai sehari-hari.

’’Mereka dilatih untuk menguasai dialek Palestina dan aksen Arab bergantung negara Arab mana yang jadi wilyah operasinya, misalnya Yaman atau Tunisia,’’ ujar Shalhat sebagaimana dilansir Al Jazeera.

BACA JUGA: Ada Kelompok Gunakan Isu Palestina demi Pilpres 2019

Mereka juga dilatih cara mengemudi, menggunakan senjata, serta bergerak di kerumunan massa. Agen Musta’ribeen biasanya dipilih yang secara fisik seperti orang Arab.

Mereka kadang juga menggunakan riasan dan rambut palsu. Secara total, proses pelatihan membutuhkan waktu sekitar 15 bulan. Tugas mereka adalah mengumpulkan informasi intelijen dan menangkap penduduk Palestina.

Ketika diterjunkan ke lapangan, mereka hampir tak bisa dibedakan dengan warga Palestina lainnya. Terkecuali satu hal, di balik kaus para agen Musta’ribeen itu terdapat senjata.

Shalhat mengungkapkan, unit pertama yang berisi agen Musta’ribeen dibentuk pada 1942 sebelum negara Israel berdiri. Unit itu merupakan bagian dari divisi elite paramiliter Yahudi Haganah. Haganah menjadi inti dari militer Israel saat ini.

Unit-unit Musta’ribeen beroperasi secara rahasia. Jika ketahuan, akan langsung dibubarkan dan diganti dengan unit lainnya. Salah satu unit yang paling terkenal adalah Rimon yang dibentuk pada 1978 dan aktif hingga 2005. Mayoritas anggota unit tersebut bertugas di Jalur Gaza.

Unit lainnya yang juga ditugaskan di Gaza pada 1980–1990-an adalah Shimshon. Unit elite Duvdevan 217 yang dibentuk mantan Perdana Menteri (PM) Israel Ehud Barak pada 1980-an masih aktif di militer.

’’Saat ini mereka ditugaskan di Tepi Barat dan merupakan unit yang paling aktif dan rahasia,’’ terang penduduk Israel berdarah Palestina itu.

Musta’ribeen dikenal sadis dan tak segan menodongkan senjata kepada jurnalis sekalipun. Salah seorang saksinya adalah Rasha Harzallah.

Jurnalis kantor berita Palestina, Wafa, itu melihat agen Musta’ribeen beraksi dalam demo pada Rabu (13/12) di Ramallah. Agen Musta’ribeen yang berjumlah lima orang membaur dengan massa menangkap tiga warga Palestina.

Begitu para agen Musta’ribeen itu menembakkan senjata ke udara, pasukan Israel langsung bergerak dan menembaki massa. ’’Dia mengarahkan senjatanya ke saya dan fotografer di sebelah saya berteriak agar saya tak mendekati mereka,’’ terang Harzallah mengenang saat dirinya berhadapan dengan salah satu Musta’ribeen.

Menurut Harzallah, ada cara untuk mengetahui Musta’ribeen berada di antara kerumunan massa. Yaitu ketika tentara Israel tidak merespons, meski penduduk Palestina melempari mereka dengan batu. Tidak ada gas air mata maupun peluru karet yang ditembakkan. Mereka baru beraksi jika Musta’ribeen yang memberi tanda.

Penduduk Palestina kini ekstrahati-hati. Mereka memasukkan bajunya ke dalam celana atau sabuk untuk membedakan diri dengan agen Israel itu. Musta’ribeen bisa dipastikan tak bakal memasukkan bajunya karena senjata yang mereka sembunyikan bakal langsung terlihat.

’’Mereka (warga Palestina) juga waspada ketika ada kelompok yang membuat massa mendekat ke militer,’’ ucapnya.

Harzallah menegaskan bahwa tindakan Musta’ribeen jauh lebih buruk saat maraknya aksi penusukan pada 2015 lalu. Dia melihat dengan mata kepala sendiri saat agen khusus itu menembak kepala dan kaki salah seorang remaja Palestina dari jarak dekat.

Remaja yang belakangan diketahui bernama Mohammed Ziyadeh itu selamat tapi mengalami lumpuh sebagian. (sha/c17/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Oposan Presiden Jokowi akan Terus Menggunakan Isu Palestina


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler