Nadiem Makarim: Saya Tidak Paksa Sekolah Menerapkan Kurikulum Merdeka, tetapi...

Jumat, 13 Mei 2022 – 22:17 WIB
Mendikbudristek Nadiem Makarim tidak memaksakan sekolah menerapkan kurikulum merdeka. Foto Humas Kemendikbudristek

jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikburistek) terus menghadirkan terobosan Merdeka Belajar dan memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya.

Berkat dukungan berbagai pihak, hingga saat ini ada 19 episode Merdeka Belajar yang menyentuh berbagai aspek transformasi pendidikan. 

BACA JUGA: Kemendikbudristek Pastikan Kurikulum Merdeka Tidak Merugikan Sekolah

“Semua mendapatkan hak akan pendidikan berkualitas. Itulah tujuan dari Merdeka Belajar yang sekarang menjadi gerakan bersama,” kata Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim, Jumat (13/5).

Sebagai terobosan pertama yang dinilai paling esensial karena berhubungan langsung dengan upaya peningkatan mutu pendidikan, yaitu Asesmen Nasional, Kurikulum Merdeka, Rapor Pendidikan. Selain itu, bantuan pembiayaan pendidikan seperti dana BOS juga turut menjadi perhatian. 

BACA JUGA: Kemendikbudristek: 62.955 Sekolah Siap Menerapkan Kurikulum Merdeka

Dengan terobosan tersebut, kata Nadiem, pembelajaran di sekolah sekarang lebih terfokus pada hal-hal yang esensial, yaitu kemampuan literasi, numerasi dan penguatan karakter, sehingga jauh lebih relevan.

Menteri Nadiem menjelaskan penerapan Kurikulum Merdeka merupakan sebuah tawaran atau opsi. Jadi, tidak memaksakan sama sekali kepada sekolah untuk menerapkannya.

BACA JUGA: Kurikulum Merdeka Bawa Perubahan Besar Terhadap Guru dan Siswa

Namun, dia berharap para pendidik dan kepala sekolah melihat kurikulum ini dari keluasan manfaatnya untuk pemulihan pembelajaran. 

“Kami percaya, gurulah yang paling mengerti kebutuhan dan potensi anak didiknya," ujarnya.

Oleh karena itu, Nadiem mengaku memberikan keleluasaan yang jauh lebih besar kepada mereka untuk mengembangkan pembelajaran dengan mengedepankan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning).

Kurikulum Merdeka mengedepankan pembelajaran yang jauh lebih memerdekakan, menyenangkan, mendalam, dan relevan untuk para pelajar.

Saat ini, ekosistem pendidikan di Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan ujian akhir yang menentukan kelulusan murid.

Sebab, Asesmen Nasional sebagai pengganti Ujian Nasional, yang pada 2020 sudah diikuti lebih dari 6,5 juta murid dan 3 juta guru, berfokus pada perkembangan dan perbaikan capaian belajar serta lingkungan sekolah. 

“Hasil Asesmen Nasional bisa diakses di platform Rapor Pendidikan oleh pemerintah daerah dan sekolah sebagai bahan refleksi dalam menentukan langkah lebih lanjut yang berbasis data,” tuturnya. (esy/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler