Nasakom

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Kamis, 27 Oktober 2022 – 18:33 WIB
Jokowi - Ma'ruf Amin. Foto: Dok. JPNN.com

jpnn.com - Setelah Aidit sekarang muncul Nasakom. Beberapa waktu yang lalu politikus Partai Demokrat Andi Arief menyamakan Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, dengan tokoh PKI D.N Aidit.

Sekarang, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI) menyebut kabinet Joko Widodo-Ma’ruf Amien sebagai kabinet Nasakom.

BACA JUGA: Tepis Isu Reshuffle, Paloh Sebut Jokowi Paham Nilai NasDem

D.N Aidit ialah ketua PKI pada 1965 yang dianggap menjadi dalang peristiwa penculikan 7 jenderal pada 1 September 1965.

Percobaan kudeta itu digagalkan oleh Angkatan Darat. Aidit melarikan diri dan tertagkap di daerah Boyolali, Jawa Tengah, dan langsung dieksekusi oleh tentara.

BACA JUGA: Ketua Honorer Minta Jokowi Rombak Kabinet, Putra Bengkulu Layak jadi Menteri

Andi Arief menyamakan Hasto dengan Aidit karena dianggap punya gaya berpolitik yang sama, yaitu politik belah bambu, memecah belah.

Beberapa waktu belakangan Hasto aktif menyerang partai oposisi, terutama Partai Demokrat dan Partai Nasdem, terutama setelah Nasdem mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden.

BACA JUGA: Rizal Ramli Kritik Jokowi Soal IKN, Kapitra Balas Begini, Kalimatnya Menyengat

Hasto dianggap menjalankan taktik politik belah bambu, antara lain, dengan berupaya menjauhkan Anies dari Jokowi dan mengusir Nasdem dari koalisi melalui reshuffle.

Hasto juga dianggap berusaha memecah duet gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan wakilnya Emil Dardak yang berasal dari Partai Demokrat.

Karena acara-cara memecah belah ini, Andi Arief dengan lantang menyebut gaya politik Hasto mirip Aidit.

Nasakom adalah akronim dari ‘’nasional, agama, dan komunisme’’, sebuah eksperimen politik yang digagas oleh Bung Karno untuk menyatukan 3 kekuatan ideologi paling besar di Indonesia.

Eksperimen ini ditentang oleh banyak kalangan, terutama dari kelompok Islam, karena menganggap tidak mungkin mempersatukan Islam dengan komunisme yang dasarnya tidak memercayai Tuhan.

Eksperimen Nasakom ini dianggap sebagai salah satu bukti bahwa Bung Karno sangat dekat dengan PKI, dan selalu berusaha melindungi PKI dari serangan Angkatan Darat.

Bung Karno menjadikan PKI sebagai kekuatan politik penyeimbang untuk menyaingi Angkatan Darat yang makin memusuhi Bung Karno.

Akhirnya percobaan kudeta yang dilakukan PKI gagal dan Aidit menjadi korban dari revolusi yang dia ciptakan sendiri.

Nasakom versi BEM UI bukan Nasakom ala Orde Lama Bung Karno. Mungkin para mahasiswa UI sengaja menyindir dengan memakai nama yang terdengar seram itu.

Nasakom versi UI adalah akronim dari ‘’nasib satu koma’’, yang dimaksudkan untuk memberi peringkat kepada kinerja Jokowi dan Ma’ruf Amien selama 3 tahun memerintah.

Pada akun Twitter BEM UI, ada meme yang menggambarkan Jokowi dengan hidung yang memanjang ala Pinokio.

Di belakangnya, ada Wapres Ma’ruf Amien yang digambarkan menempel di pundak Jokowi. Wapres Ma’ruf digambarkan sebagai wakil presiden yang sekadar menjadi pelengkap.

Semboyan Jokowi yang populer ‘’Kerja, Kerja, Kerja’’, dikutip dalam meme itu, tetapi ditambahi narasi sindiran, ‘’Kerja, Kerja, Kerja, tapi Sia-Sia’’.

Para mahasiswa mengatakan sudah cukup membohongi rakyat dengan berbagai program yang tidak ada realisasinya.

‘’Enough is enough’’, mungkin begitu ungkapan bahasa Inggris yang tepat untuk menggambarkan sikap mereka.

BEM UI berlagak seperti dosen yang memberi nilai indeks prestasi (IP) kepada mahasiswa.

Anggota kabinet Jokowi rata-rata diberi peringkat satu koma. Karena minim capaian, BEM UI menyatakan sangat prihatin atas kinerja semua menteri Jokowi dalam 3 tahun terakhir.

“Kami memberikan indeks prestasi tak lebih dari satu koma untuk nama beberapa pejabat setingkat menteri dalam Kabinet Indonesia Maju karena buruknya kinerja, bobroknya instansi yang dibawahi, dan kontribusi mereka akan kemunduran Indonesia di segala lini.’’

Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan alumnus FE UI hanya dikasih nilai 1,5 dan juluki sebagai si tukang bakar duit.

IP Sri Mulyani jeblok karena dianggap bertanggung jawab mengeluarkan anggaran Rp 500 triliun lebih untuk membiayai proyek IKN (ibu kota negara), dan berbagai proyek strategis yang hasilnya dianggap tidak strategis.

Menteri lain yang IP-nya jeblok ialah menteri ESDM Arifin Tasrif yang dianggap tidak lulus dalam mengelola sistem energi nasional yang masih sangat bergantung pada energi tidak terbarukan yang mengotori lingkungan.

Arifin Tasrif tergolong menteri yang paling sering didemo mahasiswa karena kenaikan harga BBM. IP Arifin Tasrif hanya 1,2.

Menteri lain yang jeblok ialah Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Manoarfa, yang baru saja dikudeta oleh anak buahnya dan dijatuhkan dari kursi ketua umum PPP (Partai Persatuan Pembangunan).

Suharso hanya mendapatkan nilai 1,2 seperti Arifin Tasrif, karena buang-buang uang dalam proyek IKN dan proyek lain yang tidak perlu.

Luhut Binsar Panjaitan, Menko Kemaritiman dan Investasi mendapat IPK 1,3. Dia disebut “menteri dengan seribu jabatan”, dan merupakan menteri yang pertama kali mewacanakan jabatan presiden 3 periode.

Bahlil Lahadahlia, Menteri Investasi IPK 1,4. Bahlil dianggap sebagai menteri yang paling bertanggung jawab terhadap segala permasalahan investasi yang tidak pro rakyat, dan menteri yang pertama kali mewacanakan jabatan presiden 3 periode.

Nadiem Makarim, Mendikbudristek: IPK 1,7. Dia dinilai sebagai menteri yang sok peduli pendidikan, sehingga lupa pada kebebasan berpendapat di tempat pendidikan. Nadiem dijuluki sebagai “Menteri Yang Salah Urus Pendidikan.”

Yasonna Laoly, Menkumham: IPK 1, 2, dijuluki sebagai menteri yang paling tidak peduli pada soal pelanggaran HAM, sehingga pencapaian penyelesaian pelanggaran di eranya dinilai nol.

Sanitar Burhanuddin, Jaksa Agung: IPK 1,1. Komitmennya untuk menyelesaikan pelanggaran HAM berat dipertanyakan. Apalagi karena mengatakan Tragedi Semanggi bukan pelanggaran HAM berat.

Selain itu, institusi di bawahnya juga dipenuhi berbagai masalah, termasuk korupsi. BEM UI menyebut Yassona dan Burhanuddin dicap sebagai “Para Penjahat HAM.”

“Terhitung tepat 3 tahun Indonesia telah berjalan di bawah kepemimpinan orang-orang diatas. Selama 3 tahun itu pula ‘’Kabinet Indonesia Maju’’ tak membawa kemajuan sesuai namanya dan malah terus menghadirkan kemunduran di berbagai sektor di Indonesia,” begitu bunyi cuitan di akun Twitter BEM UI (25/10).

Cara memberi penilaian kinerja dengan memberikan nilai IP juga dianggap sindiran terhadap Jokowi yang sekarang tengah digugat di pengadilan atas dugaan pemakaian ijazah palsu.

Bambang Trimulyono mengajukan gugatan dengan menyebut ijazah Jokowi dari UGM (Universitas Gadjah Mada) palsu.

Jokowi membantah dengan mengumpulkan teman-teman seangkatannya di UGM dalam acara yang dibungkus sebagai reuni.

Kritik keras BEM UI terhadap Jokowi ini bukan kali pertama.

Beberapa wakyu yang lalu Jokowi mendapatkan penghargaan dari BEM UI sebagai ‘’The King of Lips Service’’.

Penghargaan sindiran ini dilakukan karena Jokowi dianggap tidak konsisten antara janji dengan kenyataan.

Ketika itu reaksi Istana cukup keras dengan meminta kepada rektorat UI supaya memberi sanksi kepada pengurus BEM.

Publik menyerang balik dengan menyebut Istana berkuping tipis dan alergi terhadap kritik. Kali ini, Istana berusaha bersikap lebih santai dengan menyebut kritik itu sebagai vitamin.

Rupanya Istana menyadari bahwa selama ini pemerintahan Jokowi-Ma’ruf kurang vitamin, dan mungkin juga kurang gizi. Mungkin itu juga sebabnya indeks prestasinya tidak bergeser dari Nasakom. (*)


Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler