Nasihat Gus Baha untuk Ahmad Muzani Gerindra

Rabu, 11 Agustus 2021 – 21:00 WIB
Wakil Ketua MPR yang juga Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani bersilaturahmi ke kediaman Gus Baha. Foto: Istimewa.

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani bersilaturahmi ke kediaman Kiai Haji Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur'an LP3IA, Rembang, Jawa Tengah, Selasa (10/8). 

Ahmad Muzani dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (11/8), menyebut tujuan kedatangannya untuk mengaji kepada kiai yang begitu dalam penguasaannya terhadap kitab-kitab klasiknya yang ditulis dari ulama-ulama nusantara.

BACA JUGA: Ahmad Muzani: Tugas MPR Membangun Suasana Kenegaraan yang Kondusif

Gus Baha lebih dulu menyampaikan pesannya bahwa politik merupakan seni mengelola kepercayaan publik.

Sekarang produk-produk politik lebih baik dibandingkan dengan zaman dulu (kerajaan).

BACA JUGA: Muzani Perintahkan Gerindra Jawa Barat Bantu Gubernur, Bupati, dan Wali Kota Menangani Covid-19

Yang mana dulu raja-raja saling berperang untuk mendapatkan kekuasan, hingga pertumpahan darah tak terelakan. 

Dewasa ini politik telah berjalan ke arah yang lebih baik.

BACA JUGA: Muzani Memerintahkan Legislator dari Gerindra Mendesak Kepala Daerah Mencairkan Insentif Nakes

Misalnya, lepasnya Timor Timur dari Indonesia tidak melalui sebuah peperangan besar, tetapi jalan jajak pendapat.

Demikian juga dengan pemilihan bupati, wali kota dan gubernur melalui sistem pilkada.

Metode ini dianggap lebih baik dibanding dengan zaman dahulu.

Meski begitu, Gus Baha menyadari, proses politik yang ada sekarang masih belum ideal. 

"Kalau kita melihat politik sebagai cara atau seni mengelola kekuasaan dengan cara yang lebih enak, lebih beradab. Jadi cara (politik sekarang) itu sudah membaik, dari yang sebelumnya," kata Gus Baha.

"Kan, enggak kebayang dulu (misalnya) Timor Leste keluar dari Indonesia (mekanismenya) lewat duel (atau perang), tetapi kan (pada akhirnya) lewat politik, lewat jajak pendapat. Begitu juga pemilihan gubernur dan bupati," imbuh Gus Baha. 

Sehingga, berpolitik yang dijalankan dewasa ini bisa dijalani dengan rasa enjoy.

Sebab, politik merupakan suatu hal yang substansial, karena berhubungan dengan kemaslahatan umat.

Apabila politik tidak dijalankan dengan amanat, maka yang timbul adalah rasa saling menyalahkan dan curiga.

Hal itu berimplikasi pada keterpurukan suatu bangsa. 

Hal ini penting agar tidak menjadi bangsa yang hanya bisa saling menyalahkan.

"Jadi, politik itu kembali ke kemaslahatan publik. Istilahnya kamu punya kamar seribu, yang dipakai tidur cuma satu kamar. Kalau punya beras satu ton, yang kamu makan hanya satu liter," ujar dia.

Artinya, lanjut Gus Baha, kebutuhannya adalah sama-sama satu piring. Sebab, kalau proses politik itu tidak dianggap lebih baik atau membaik sekarang ini, semua orang akan merasa salah terus dan akan saling menyalahkan.

"Jadi, bangsa yang enggak punya ide untuk bikin rumus-rumus (kebijakan yang lebih) baik," papar Gus Baha. 

Merespons hal itu, Ahmad Muzani mengatakan, meski tidak mudah Partai Gerindra berkomitmen untuk menjalankan politik yang ideal sesuai pesan Gus Baha.

Sekjen Partai Gerindra itu mengapresiasi pemikiran Gus Baha sebagai seorang ulama yang memiliki pandangan positif terhadap proses politik yang ada di Indonesia. 

"Pesan Gus sangat baik, itu memberikan pencerahan kepada kita semua," kata Muzani.

Oleh karena itu, lanjut Ahmad Muzani, dalam berpolitik, orang-orang yang terlibat di dalamnya menekankan pada prinsip bahwa politik adalah seni untuk memperjuangkan kepentingan rakyat.

"Sehingga prosesnya semua menjadi enjoy. Kami juga ingin menjalani amanat politik dengan enjoy, serius jaga amanah, supaya sampai pada tujuan yaitu kemaslahatan rakyat," ujar Muzani. 

Gus Baha pun memberikan respons.
"Alhamdulillah, politik sekarang tidak seperti dulu," katanya.

Menurut Gus Baha, politik saat ini pertarungannya lewat seni mencari daya tarik masyarakat, mengelola simpati publik.

"Saya anggap bahwa ini kondisi yang lebih baik daripada perang darah-darah di kerajaan dulu. Artinya (politik) ini tidak pernah mencapai suatu proses yang ideal, selalu mengalami pergeseran-pergeseran ke arah membaik," respons Gus Baha. 

Muzani didampingi sejumlah anggota Fraksi Gerindra di DPR. Seperti Mohammad Hekal, Prasetyo Hadi, Abdul Wachid, dan Sudewo, serta jajaran pengurus Partai Gerindra lainnya. (boy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler